Westlake: Danau, Angin, dan Gurami Bakar

Westlake: Danau, Angin, dan Gurami Bakar
Oleh: Daswatia Astuty*)
Di barat Yogyakarta, saat jalanan mulai berkurang ramai dan angin berembus lebih lapang, ada tempat yang menyambut senja: The Westlake Resto. Dikelilingi danau buatan yang luas, restoran ini tak sekadar tempat makan ia adalah ruang istirahat bagi yang lelah beraktivitas seharian, dan tempat menggoyangkan lidah dengan santapan yang nikmat.
Aku datang sore itu, ketika cahaya matahari jatuh condong ke barat dan permukaan air di danau berkilau seperti kaca. Suasana tenang, angin semilir, dan beberapa suara percikan air dari perahu kecil yang melintas. Di sinilah aku duduk bersama putraku dan bersama teman, memilih satu saung kayu yang menghadap langsung ke danau, sambil menanti pesanan yang sejak awal sudah tertanam dalam ingatan: ikan gurami bakar madu.

Menikmati Menu Pesanan di Westlake. Foto: Dokumen Pribadi
Tak lama, pelayan datang membawa dua piring besar gurami yang hangat dan menggoda. Warna keemasan pada kulitnya berkilau terkena cahaya sore. Aroma asap dari arang yang masih membekas berpadu dengan wangi madu dan rempah yang meresap. Sangat membangkitkan selera, dan juga kenangan.
Aku menyuap perlahan. Daging guraminya putih, empuk, tidak amis, dan menyimpan rasa dalam di setiap serat dagingnya. Lapisan luar yang garing menyimpan rasa manis madu yang meresap, dan itu yang membuatnya istimewa: paduan rasa alam dan ketelatenan manusia.

Menikmati Es Kelapa Muda di Westlake. Foto: Dokumen Pribadi
Ditemani sambal, lalapan segar, dan nasi putih hangat, dan beberapa hidangan lainnya, makan di Westlake seperti makan di beranda rumah sendiri dengan latar suara air, tawa keluarga dari saung lain, dan angin yang tak pernah lelah menyapa. Kadang, angin datang membawa suara anak-anak memberi makan ikan, kadang hanya sunyi dan desir bambu bergoyang pelan. Tapi semua hadir dengan irama yang tepat, seperti musik latar dalam adegan yang hangat dan tenteram.

Menikmati Es Kelapa Muda di Westlake. Foto: Dokumen Pribadi
Aku memandangi danau yang tenang, dan entah kenapa hati ini pun ikut diam. Di dunia yang sering memaksaku berlari, tempat ini mengajarkan cara untuk duduk diam dan menikmati. Tak ada yang perlu dikejar. Tak ada yang perlu ditangkap. Karena kebahagiaan bisa sesederhana menyuap ikan bakar madu, sambil memandangi air yang tak pernah mengeluh meski terus mengalir.

Menikmati Suasana Danau di Westlake. Foto: Dokumen Pribadi
Selesai makan, aku duduk lebih lama dari biasanya. Sisa rasa masih tinggal di lidah, tapi yang lebih tinggal adalah rasa syukur. Bahwa dalam satu sore yang sederhana, aku bisa menemukan ketenangan dari sepotong gurami yang dibakar dengan sabar, dan dari danau yang menyimpan langit sore tanpa tergesa.
Westlake bukan tempat untuk buru-buru. Ia adalah tempat untuk melambat, untuk kembali ke napas panjang, untuk mendengar suara dalam diri. Dan makanan di sana, terutama ikan bakar madu itu, bukan sekadar santapan api sarana untuk pulang. Pulang ke lidah, pulang ke tubuh, dan akhirnya… pulang ke hati.
Yogyakarta, Juni 2025
*) Daswatia Astuty, penasihat Rumah Virus Literasi (RVL), Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanuisaan, Penulis dengan 50 Judul buku.

Leave a Reply