Sebuah Rasa yang Tak Bisa Diduakan

Sebuah Rasa yang Tak Bisa Diduakan
Oleh: Dasatia Astuty
Ada rasa yang tak bisa digantikan, seperti durian. Dan dari sekian banyak durian yang pernah mampir di lidahku, durian Petruk Wonosobo termasuk yang paling kukenang dalam rasanya
Hari itu, udara di Yogyakarta masih segar, pegunungan tak terlalu jauh dari pandangan, dan langit bersih dari keluh. Aku duduk di sebuah warung pinggir jalan tidak besar, tak bersolek, tapi aroma duriannya menyusup seperti undangan yang tak bisa kutolak. Di depan meja kayu itu, seseorang meletakkan buah-buah durian besar, kulitnya hijau kekuningan, berduri rapat, dan beratnya terasa seperti menyimpan sesuatu yang akan mengubah hari.
“Petruk,” kata si penjual.
Aku tersenyum. Sudah lama aku menikmati buahnya. Durian yang konon jadi kebanggaan Wonosobo, dinamai dari salah satu punakawan pewayangan. Tapi berbeda dengan tokoh Petruk yang jenaka dan bertubuh tinggi, durian ini justru pendek bulat dan bijinya kecil. Yang jenaka hanyalah efeknya: setelah satu suapan, kau akan lupa pada diet, pada janji-janji untuk makan sedikit, bahkan pada keengganan awal untuk tidak menyentuh buah ‘beraroma tajam’ ini.
Kulitnya dibuka perlahan, dan di dalamnya…
Warna kuning pekat menyala, seperti sinar matahari yang ditanam dalam daging. Teksturnya lembut, padat, dan berminyak halus. Aku menyuap pertama. Manis, pahit, pekat semuanya datang bersamaan dalam satu gelombang. Bukan rasa yang ramah bagi semua orang, tapi bagi yang sudah jatuh cinta, ini seperti menemukan kembali cinta lama yang belum padam.

Penjual Membuka Perlahan Memperlihatkan Isi Durian. Foto: Dokumen Pribadi
Aku menyantap perlahan, tidak ingin tergesa. Di sela aroma yang kuat dan rasa yang kompleks, ada perasaan sederhana: aku sedang sangat bahagia. Tidak karena tempatnya mewah, tidak karena suasananya istimewa. Tapi karena rasanya jujur, dan aku menikmatinya tanpa beban. Di meja itu, aku tak memikirkan apa pun kecuali durian yang sedang kulepaskan dari kulitnya dan dari genggaman waktu.
Si penjual bercerita, durian Petruk tidak tumbuh di sembarang tempat. Ia lahir dari tanah tinggi, dari pohon-pohon tua yang sabar menunggu musim. Buahnya tidak selalu banyak, dan tidak semua petani beruntung mendapat panen yang melimpah. Tapi ketika musim datang, Wonosobo seolah berubah jadi taman durian yang penuh tawa dan tawar-menawar.

Menerima Durian yang Sudah Dibuka Untuk Dicoba. Foto: Dokumen Pribadi
Mungkin itu yang membuat rasa Petruk begitu berkarakter, ia tidak hanya tumbuh dari tanah, tapi juga dari kesabaran. Dari musim yang tidak bisa dipaksa, dari pohon-pohon yang tidak tergesa, dan dari petani yang tak pernah menyerah.
Aku menatap durian yang tinggal beberapa ruas. Tangan lengket oleh lelehan dagingnya. Tapi hati… justru terasa bersih. Karena di dunia yang serba cepat, aku diberi waktu untuk pelan-pelan menikmati sesuatu sampai selesai.

Menerima Durian Untuk Dicicipi. Foto: Dokumen Pribadi
Durian Petruk Wonosobo di samping buah, juga adalah pelajaran. Bahwa ada hal-hal dalam hidup yang memang tak bisa diganti. Bahwa rasa, bila ia tulus, akan selalu tinggal di lidah dan di dada, bahkan setelah kita pulang.
Yogyakarta, Juni 2025

August 9, 2025 at 5:16 pm
Hank3828
https://shorturl.fm/Dw984
August 5, 2025 at 7:45 pm
Reid150
https://shorturl.fm/kucm6
August 4, 2025 at 4:34 am
Liam1690
https://shorturl.fm/JcUCd
August 3, 2025 at 9:52 am
Maddison1207
https://shorturl.fm/Uu3Lr
August 3, 2025 at 2:26 am
April1633
https://shorturl.fm/V00sE
August 2, 2025 at 2:44 pm
Derek4328
https://shorturl.fm/D9tDQ
August 2, 2025 at 2:17 pm
Andrew1125
https://shorturl.fm/RrD3X
July 19, 2025 at 6:12 pm
Steven287
Earn passive income on autopilot—become our affiliate! https://shorturl.fm/K510y
July 12, 2025 at 9:02 am
Warren2822
Share your link, earn rewards—sign up for our affiliate program! https://shorturl.fm/fmGVT
July 11, 2025 at 2:30 pm
Dane1939
Join our affiliate family and watch your profits soar—sign up today! https://shorturl.fm/XmTkt