Rekor yang Dicatat, dan Harga yang Tidak Terlihat

Rekor yang Dicatat, dan Harga yang Tidak Terlihat
Oleh: Telly D.*)
Orang melihat rekor dari luar sebagai capaian.
Nama dicatat, angka diumumkan, lalu selesai. Saya pun berada di dalam catatan itu empat rekor MURI: penulis karmina terbanyak, puisi etnik Nusantara terbanyak, pentigraf terbanyak, dan cerpen antikorupsi terbanyak.
Tapi yang tidak pernah ikut dicatat adalah apa yang terjadi di baliknya. Tidak ada catatan tentang malam-malam yang terlalu panjang untuk sekadar menyelesaikan satu tulisan.
Tidak ada catatan tentang hari ketika kepala terasa penuh, tapi kata tidak mau keluar. Tidak ada catatan tentang jeda saat saya hanya duduk, menatap layar atau kertas kosong, tanpa tahu harus mulai dari mana. Semua itu tidak masuk dalam sertifikat.
Karmina, misalnya.
Dari luar terlihat sederhana pendek, ringkas, selesai dalam beberapa baris. Tapi justru di situlah saya paling sering mengulang. Memotong kata yang sudah jadi, menghapus kalimat yang terasa tidak tepat, menahan diri agar tidak menambahkan yang berlebihan. Ada tulisan yang lahir, lalu saya hapus lagi.
Puisi etnik membawa saya ke tempat lain: ke ingatan, ke akar, ke sesuatu yang kadang tidak sepenuhnya saya kuasai. Tidak jarang saya merasa tidak cukup dekat dengan apa yang saya tulis. Lalu saya berhenti. Membaca ulang. Menunggu sampai saya benar-benar merasa jujur.
Pentigraf lebih sunyi lagi.
Ia tidak menunggu suasana. Tidak menunggu inspirasi. Ia hanya menuntut hadir berulang kali, dalam kondisi apa pun. Dan di situ saya belajar bahwa lelah tidak selalu bisa dijadikan alasan untuk berhenti, tapi juga tidak selalu bisa disembunyikan.
Sementara cerpen antikorupsi membawa beban yang berbeda. Bukan hanya soal menulis cerita, tapi juga tentang sikap. Tentang hal-hal yang tidak ingin saya biarkan menjadi biasa. Dan itu tidak selalu nyaman. Karena menulis di wilayah seperti ini berarti berhadapan dengan realitas yang tidak sederhana.
Di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar terlihat: biaya.
Bukan biaya uang, tapi biaya diri. Waktu yang tidak kembali. Energi yang terkuras. Perasaan yang naik turun tanpa selalu bisa dijelaskan.
Ada momen saya harus memilih: istirahat, atau menyelesaikan satu tulisan lagi. Ada saat saya harus menunda hal lain, hanya untuk menjaga ritme menulis tetap hidup. Dan tidak semua pilihan itu terasa ringan.
Ketika kemudian semua itu dicatat sebagai rekor, yang terlihat hanya hasil akhirnya. Jumlahnya. Namanya. Catatannya. Padahal yang membentuknya justru hal-hal yang tidak ikut dipamerkan itu.
Menariknya, pada rekor-rekor sebelumnya, saya tidak pernah datang untuk menerimanya. Saya tetap berada di jalur yang sama menulis, melanjutkan, mengumpulkan tanpa terlalu memikirkan pengakuan.
Baru pada yang terakhir, saya datang. Empat capaian, dalam satu rangkaian waktu. Namun, saat ini saya tidak sedang merasa “sudah sampai.”
Saya justru sedang mengingat. Semua yang tidak terlihat. Semua yang tidak tercatat. Semua yang tidak pernah masuk dalam satu lembar sertifikat.
Di situlah saya menyadari satu hal sederhana: bahwa setiap rekor selalu punya sisi yang tidak terlihat. Dan justru di sisi itulah, harga sebenarnya dibayar. Saya tidak menyesali itu. Karena di balik semua yang tidak terlihat, saya tetap belajar sesuatu: tentang bertahan, tentang memilih, dan tentang terus menulis meski tidak selalu mudah.
Rekor boleh dicatat. Tapi harga yang tidak terlihat itulah yang membentuk saya menjadi penulis seperti sekarang. Dan mungkin, justru bagian itu yang paling penting untuk diingat.
Makassar, April 2026
Telly D.*), nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M. Pd., seorang pegiat literasi, penasihat komunitas menulis RVL, pemerhati pendidikan, penasihat IGMP Matematika. pelukis,dan penulis 65 judul buku lebih, buku terakhir Tinta yang Bersujud (2026).

Leave a Reply