Euforia di Panggung Rekor MURI

Euforia di Panggung Rekor MURI
Oleh: Telly D.*)
Kabar itu tidak datang menggelegar, melainkan hanya bisikan pelan yang menetap dalam nurani. Kabar sederhana beredar di ruang sederhana, pada sebuah grup Rumah Virus Literasi (RVL). Kabar itu di bagi oleh Ibu Rita Audriyanti hanya sebuah ajakan yang tampak biasa. Menulis cerita pendek bertema antikorupsi, yang di gagas oleh duta baca indonesia Gol A Gong dalam sebuah kerja bersama antara SIP publising bersama Pena Integritas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan muara mengukir rekor Muri cerpen anti korupsi terbanyak. Bagi saya awalnya tidak istimewa, biasa saja, tak pernah saya menyangka justru dari yang biasa itulah perubahan diam-diam dimulai.
Saya menulis bukan karena merasa mampu, sekalipun saya telah 3 kali ikut dalam penulisan yang juga mengukir rekor Muri (antologi Karmina Asean, etnik Nusantara dan smardhyara pentigraf terbanyak) tetapi karena tidak ingin terus diam. Pernyataan sikap dan tulisan itu saya kirimkan agar seseorang akan mendengar. Hingga kemudian, saya mengetahui bahwa cerita pendek yang saya kirimkan menjadi bagian dari 1.636 naskah yang lolos kurasi. Dari jumlah itu, dipilih 200 penulis untuk datang ke Jakarta, dan dari 200 itu, 100 yang diundang hadir dalam acara puncak.
Acara itu dilaksanakan pada 23 April 2026, pukul 14.00 – 16.00 WIB, bertempat di Auditorium Randy Yusuf dan lobby lantai 1 Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, di Jalan Haji R. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Sebuah ruang yang secara fisik banyak dikenal orang, tetapi bagi saya hari itu, ia menjelma menjadi ruang yang sarat makna.
Saya termasuk di dalam 100 itu. Sebuah kalimat sederhana, tetapi membawa getaran yang tidak sederhana. Karena di balik angka-angka itu, ada perjalanan yang tidak terlihat dari keraguan, keberanian mengirimkan tulisan, hingga akhirnya berdiri di antara mereka yang terpilih.
Saya diundang hadir. Berdiri di antara mereka. Menjadi satu-satunya yang mewakili wilayah Indonesia Timur dalam lingkaran undangan itu. Sebuah kebanggaan yang awalnya terasa sunyi hingga hari itu mengubahnya menjadi sesuatu yang tak bisa lagi disembunyikan.
Di Auditorium Randy Yusuf Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK suasana yang semula khidmat ketika acara dimulai perlahan berubah menjadi riuh yang hidup. Nama-nama mulai dipanggil, para penulis dikenalkan, satu per satu berdiri dari kursinya. Tepuk tangan bergema, kamera-kamera terangkat, percakapan kecil saling bersahutan. Namun ketika nama saya disebut sebagai satu-satunya perwakilan dari wilayah Indonesia Timur ada jeda yang terasa berbeda.
Sejenak ruang itu seperti memusat. Saya berdiri. Detak jantung saya terasa lebih cepat dari biasanya. Dengan tangan yang saya angkat, saya melambaikan tangan sambil meneriakkan makassar…. Makassar lalu berputar, seolah ingin memastikan bahwa saya benar-benar ada di sana, terlihat, diakui. Ratusan pasang mata tertuju. Dan di saat itu pula, saya merasakan kebanggaan yang tidak lagi bisa disimpan rapi di dalam diri.
Tepuk tangan itu datang. Lebih terasa. Lebih dekat. Saya dipanggil maju. Langkah saya menuju panggung terasa panjang sekaligus ringan. Saya tidak hanya membawa diri saya sendiri, tetapi juga membawa perjalanan panjang yang mengantarkan saya ke titik itu dari 1.636 naskah, menjadi 200, lalu menjadi 100, hingga akhirnya berdiri di sini.
Di atas panggung, saya menjadi bagian dari peluncuran empat puluh jilid buku. Sebuah momen yang mungkin terlihat seremonial, tetapi bagi saya, ia adalah puncak dari perjalanan sunyi yang tidak banyak diketahui orang. Ketika saya berdiri di sana, di bawah sorot cahaya, saya tidak merasa lebih besar. Justru saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri saya sendiri.
Euforia itu akhirnya menemukan bentuknya. Bukan dalam teriakan, tetapi dalam getaran yang memenuhi dada. Bukan dalam keramaian semata, tetapi dalam kesadaran bahwa perjalanan kecil yang saya mulai dari sebuah grup menulis, telah membawa saya ke titik ini berdiri, dilihat, dan diakui.
Ketika rekor Muri diumumkan, ketika sertifikat diserahkan, suasana kembali bergelombang. Namun bagi saya, momen ketika berdiri, melambaikan tangan, dan melangkah ke panggung itu telah lebih dulu mengukir sesuatu yang dalam.
Karena di situlah saya benar-benar merasakan: bahwa kata yang kita tulis, sekecil apa pun, bisa membawa kita melampaui batas yang sebelumnya kita buat sendiri.
Dan bahwa kebanggaan itu bukan datang karena menjadi yang paling hebat, tetapi karena berani bertahan hingga akhirnya terpilih.
Jakarta, 23 April 2026
Telly D.*), nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M. Pd., seorang pegiat literasi, penasihat komunitas menulis RVL, pemerhati pendidikan, penasihat IGMP Matematika. pelukis,dan penulis 65 judul buku lebih, buku terakhir Tinta yang Bersujud (2026).

Leave a Reply