“Family Djadir, Baby yang Banyak”

“Family Djadir, Baby yang Banyak”
Oleh: Telly D.
Hari ini nenek Puang Ina menulis cerita kecil tentang Nadhira, yang selalu berhasil membuat perjalanan panjang terasa penuh tawa, seperti apa yang ayah ceritakan. Perjalanan dari Johor Malaysia menuju Singapura sebenarnya perjalanan biasa saja, jalan panjang, mobil yang melaju pelan, dan orang-orang yang mulai lelah. Tetapi seperti biasa, Nadhira selalu punya cara menghidupkan suasana.
Di tengah perjalanan, Nadhira duduk sambil melihat keluar jendela. Rambut kecilmu bergoyang mengikuti gerakan mobil. Tiba-tiba kamu menoleh kepada ibumu dengan mata penuh rasa ingin tahu.
“Ibu… apa nama panjang ibu?”
Ibumu tersenyum lalu menjawab pelan,
“Zieha Abdul Razak.”
Nadira mengulang perlahan seperti sedang menghafal,
“Zieha… Abdul Razak…”
Lalu Nadira bertanya lagi,
“Kalau auntie Yani?”
“Yani Abdul Razak,” jawab ibumu.
Kemudian satu per satu nama saudara ibumu disebutkan. Semuanya memakai nama family yang sama: Abdul Razak.
Nadira mulai mendengarkan dengan sangat serius. Nenek bisa bayangkan wajahmu ketika itu. wajah ketika otak kecil seorang anak sedang sibuk menyusun dunia di dalam kepalanya.
Setelah cukup lama mendengar nama “Abdul Razak” berulang-ulang, Nadhita kembali bertanya,
“Kalau Nadhira siapa?”
Ibumu tersenyum sambil menjawab,
“Nadhira Djadir.”
“Kalau ayah?”
“Ickhsan Marifat Djadir.”
Nadira makin serius mendengarnya.
“Kalau om ganteng?”
Semua orang di mobil mulai tersenyum menahan tawa karena tahu siapa yang dimaksud.
“Metamagfirul Djadir,” jawab ibumu sambil tertawa kecil.
“Ato Ida?”
“La Ode Djadir.”
Nah, sampai di situ rupanya kepala kecil Nadira mulai membuat kesimpulannya sendiri.
Ia memperhatikan bahwa ibunya dan keluarga ibunya memakai nama Abdul Razak. Sedangkan dirinya, ayahnya, semuanya memakai nama Djadir.
Mobil mendadak hening beberapa detik.
Nadhira diam sambil memandang ke depan. Seperti sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya.
Lalu tiba-tiba ia berkata dengan suara polos sekali,
“Oh… baby yang banyak…”
Ya Allah…
Semua orang di mobil langsung tertawa keras.
Rupanya menurut logika Nadira, semua yang memakai family “Djadir” adalah anak-anak atau “baby” dari kelompok besar keluarga itu. Karena nama mereka sama, maka di mata Nadira semuanya termasuk “baby.”
Ibumu mencoba menjelaskan sambil tertawa,
“Bukan begitu, Nak…”
Tetapi Nadira tetap yakin dengan kesimpulannya sendiri.
“Iya… family Djadir… baby banyak…”
Astaga, cucu nenek…
Kadang nenek berpikir, dunia anak kecil memang jauh lebih sederhana dan lebih indah daripada dunia orang dewasa. Mereka belum memahami rumitnya silsilah keluarga, hubungan generasi, atau garis keturunan. Mereka hanya melihat pola sederhana: nama yang sama berarti satu kelompok yang sama.
Dan dari situlah lahir kalimat lucu hari ini.
“Family Djadir, baby yang banyak.”
Sepanjang perjalanan, tawa kecil terus terdengar di dalam mobil. Bahkan setelah percakapan itu selesai, semua orang masih sesekali tertawa mengingat wajah serius Nadira saat membuat kesimpulan besarnya tadi.
Kelak ketika Nadira sudah besar, Nadira akan membaca cerita ini, nenek ingin menyimpannya baik-baik di buku harian. Sebab masa kecil seperti ini datang sangat cepat lalu pergi diam-diam.
Suatu hari nanti suara kecil Nadhira akan berubah dewasa. Pertanyaan-pertanyaan polos itu mungkin tak akan terdengar lagi. Tetapi hari ini, di dalam sebuah mobil dalam perjalanan pulang, ada seorang anak kecil yang sedang belajar memahami keluarganya dengan caranya sendiri.
Dan bagi nenek, itu adalah kenangan yang sangat manis.
Makassar, Mei 2026

Leave a Reply