Ketika Dengung Menghilang, Hati Mulai Mendengar

Ketika Dengung Menghilang, Hati Mulai Mendengar
Oleh: Telly D.*)
Pagi ini datang dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi riuh kecil yang biasa mengiringi langkah saya saat menyiram bunga. Udara terasa lebih ringan, tetapi entah mengapa, hati saya justru terasa lebih berat. Di bawah teras yang kini bersih dari sarang lebah, saya berdiri dalam diam yang tidak biasa diam yang bukan sekadar ketiadaan suara, tetapi seperti ruang kosong yang baru saja kehilangan sebuah kehidupan. Di sanalah saya mulai menyadari, bahwa yang hilang bukan hanya dengung, melainkan sesuatu yang lebih dalam: rasa, makna, dan mungkin juga kebijaksanaan yang terlambat saya pahami.
Saya mendongak, menatap bagian bawah atap yang kini bersih. Bersih kata yang sebelumnya terasa melegakan, kini justru mengandung sesuatu yang ganjil. Seperti ada yang hilang, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara rasa. Langkah saya pelan, menyusuri area itu, mencoba memahami apa yang sebenarnya berubah.
Lalu saya melihatnya. Beberapa ekor lebah masih berputar-putar di sekitar bekas sarang mereka. Gerakannya tidak lagi terarah seperti sebelumnya. Mereka berkeliling, seolah mencari sesuatu yang sudah tidak ada. Sesekali mereka mendekat ke celah genting, lalu menjauh lagi, kembali mengitari ruang yang kini kosong.
Saya terdiam. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyesak di dada saya. Pemandangan kecil itu yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja, bagi saya terasa seperti potongan kisah yang lebih besar. Lebah-lebah itu seperti kembali ke rumah yang telah hilang. Mereka datang, mungkin dengan harapan masih ada yang tersisa. Mungkin masih ada jejak. Mungkin masih ada bagian dari kehidupan mereka yang bisa diselamatkan.
Saya tidak bisa tidak berpikir, bukankah ini mirip dengan apa yang terjadi di banyak tempat di dunia?
Ketika sebuah wilayah digusur. Ketika rumah-rumah diratakan. Ketika kehidupan yang telah dibangun perlahan harus hilang dalam satu keputusan. Selalu ada yang kembali. Selalu ada yang berputar-putar di puing-puing, mencari sisa-sisa yang bisa dikenali. Mencari kenangan. Mencari arti dari apa yang pernah mereka miliki.
Dan di saat yang sama, saya juga melihat sesuatu yang lain. Seekor serangga lain berwarna hitam, tubuhnya lebih besar, bundar, dengan garis kuning mencolok di bagian lehernya datang dan mulai mengitari area itu. Gerakannya berbeda. Bukan seperti lebah-lebah yang tampak kebingungan, tetapi lebih seperti pengamat. Atau mungkin… pengklaim. Ia berputar, mengamati, lalu kembali berputar, seolah-olah sedang menandai wilayah itu sebagai miliknya.
Pemandangan itu terasa seperti potret lain dari dunia yang lebih luas. Ketika satu kelompok terusir, kelompok lain datang. Ketika satu kehidupan berakhir, kehidupan lain mengambil tempatnya. Tidak selalu dengan niat buruk, tetapi tetap saja ada yang kehilangan, ada yang menggantikan.
Dan saya berdiri di antara dua pemandangan itu yang pergi dan yang datang dengan perasaan yang mulai berubah.
Semalam, saya merasa lega. Masalah saya selesai. Rumah saya aman. Tidak ada lagi rasa khawatir. Tapi pagi itu, rasa itu bergeser menjadi sesuatu yang lain: penyesalan.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri apakah saya terlalu gegabah? Mengapa saya tidak berpikir untuk hidup berdampingan saja? Mengapa saya tidak mencoba mencari cara agar kami bisa saling menjaga jarak tanpa harus saling menghilangkan? Mengapa pilihan pertama saya adalah memindahkan, mengusir, bahkan mungkin mengakhiri kehidupan mereka?
Saya tahu, apa yang dilakukan adalah demi keamanan. Saya tahu, itu adalah langkah yang dianggap paling tepat. Tapi tetap saja, hati saya tidak bisa sepenuhnya tenang.
Dalam keyakinan saya, menjaga kehidupan bukan hanya menjaga manusia. Ada amanah yang lebih luas bahwa setiap makhluk hidup memiliki hak untuk hidup, untuk tumbuh, untuk menjalani perannya di dunia ini. Kita diajarkan untuk tidak merusak, untuk tidak menyakiti tanpa alasan yang benar-benar mendesak.
Dan pagi itu, saya merasa mungkin saya terlalu cepat menganggap ini sebagai “mendesak.”
Lebah-lebah itu tidak pernah menyerang saya. Mereka hanya hidup di ruang yang saya tidak perhatikan. Mereka hadir karena bunga-bunga yang saya tanam. Bahkan bisa jadi, tanpa saya sadari, mereka ikut menjaga keseimbangan kecil di halaman rumah saya.
Namun, ketika keberadaan mereka mulai terlihat, respons pertama saya adalah menyingkirkan mereka. Pikiran itu terus berputar di kepala saya, seperti lebah-lebah yang masih mengitari bekas sarang mereka.
Saya membayangkan bagaimana jika ini terjadi pada manusia? Pada keluarga yang harus meninggalkan rumahnya. Pada anak-anak yang kembali ke tempat yang pernah mereka sebut rumah, hanya untuk menemukan kekosongan. Pada mereka yang memungut sisa-sisa kehidupan dari puing-puing yang tersisa.
Bukankah perasaan itu sama? Kehilangan. Kebingungan. Ketidakpastian. Dan di sisi lain, selalu ada “yang baru” yang datang. Mengambil alih. Mengisi ruang yang kosong.
Pagi itu, saya belajar sesuatu yang tidak saya duga. Bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan cara menghilangkan. Bahwa, kita perlu lebih lama berpikir sebelum bertindak. Bahwa kehidupan sekecil apa pun itu selalu membawa makna yang mungkin tidak langsung kita pahami.
Saya tidak menyesali niat saya untuk menjaga keselamatan. Tapi saya menyesali ketergesaan saya dalam memilih cara. Kini di saat saya menyiram bunga, saya tidak lagi hanya melihat keindahan. Saya juga melihat konsekuensi. Saya melihat hubungan yang tak terlihat antara satu kehidupan dan kehidupan lain.
Dan mungkin, inilah yang harus saya pelajari setelah semua ini, bukan sekadar tentang kehilangan, tetapi tentang menyesuaikan kembali cara saya memandang kehidupan. Lebah-lebah itu, yang sempat terusir, perlahan akan menemukan tempat baru. Alam akan selalu mencari keseimbangannya. Namun, sebagai manusia, sayalah yang harus belajar beradaptasi lebih dalam: belajar untuk tidak hanya bertindak cepat, tetapi juga berpikir panjang; tidak hanya melindungi diri, tetapi juga menghargai kehidupan lain. Karena pada akhirnya, hidup bukan siapa yang bertahan di satu ruang, melainkan bagaimana kita semua bisa menemukan cara untuk tetap hidup tanpa harus saling menghilangkan.
Makassar, 19 April 2026
Telly D.*), nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M. Pd., seorang pegiat literasi, pemerhati pendidikan, pelukis,dan penulis 65 judul buku lebih, buku terakhir Tinta yang Bersujud (2026).

Leave a Reply