Sego Pecel dan Meja Kayu yang Panjang

Sego Pecel dan Meja Kayu yang Panjang
Oleh: Daswatia Astuty
Yogyakarta tak pernah hanya menawarkan tempat, tapi juga rasa dengan beragam kuliner. Sesungguhnya Yogyakarta juga layak dijuluki kota kuliner sejajar dengan julukan kota pelajar, kota wisata, dan kota budaya. Beragam warung sederhana yang menyajikan makanan lezat dengan harga yang sangat terjangkau, salah satunya: SGPC Bu Wiryo 1959 tempat di mana sego pecel dinikmati sebagai makanan sekaligus kenangan yang disendok perlahan ke dalam jiwa.
Baru-baru ini, saat kembali menapakkan kaki di Yogya, aku menyempatkan diri tiga kali berturut-turut ke tempat ini. Bukan karena lapar semata, tapi karena rindu yang tak bisa ditunda. Rasanya di setiap suapan demi suapan pecel Bu Wiryo seakan membisikkan kembali tahun-tahun yang telah pergi, tahun-tahun yang tak kembali, tapi rasanya masih bisa dicicipi lewat kacang tumbuk dan daun bayam yang direbus lembut.

Seporsi Sego Pecel SGPC Bu Wiryo. Foto: Dokumen Pribadi
SGPC Bu Wiryo berdiri sejak 1959, lebih tua dari sebagian besar pengunjung yang datang setiap hari, termasuk saya. Di sudut jalan dekat kampus Gadjah Mada, warung ini tempat singgah jiwa-jiwa muda yang sedang menata hidup. Mahasiswa, dosen, alumni, bahkan pejalan biasa, datang mencari rasa, dan suasana yang tak bisa mereka temukan di tempat lain.
Masuk ke dalamnya seperti melangkah ke masa lalu. Meja-meja panjang dari kayu jati utuh yang dibelah besar, memanjang dan kokoh, menjadi saksi begitu banyak obrolan, diskusi, tawa, dan kadang air mata. Bangkunya pun dari kayu panjang yang sama, tidak dibuat untuk orang per orang, melainkan untuk kebersamaan, agar siapa pun yang datang tak merasa sendiri.

Menikmati Sego Pecel SGPC Bu Wiryo. Foto: Dokumen Pribadi
Sementara kita makan, iringan gamelan mengalun pelan. Alunan musik bak nafiri lembut dari masa lalu, mengisi celah di antara sendok, piring, dan kenangan yang diam-diam bangkit. Tak ada yang terburu-buru di sini. Bahkan waktu seolah duduk di pojokan, menyeruput kuah sop, menunggu kita selesai menikmati.
Tentang makanannya, apa yang bisa dikatakan selain bahwa bumbu pecelnya seperti pelukan ibu? Kacangnya lembut, gurih, sedikit manis, dengan pedas yang sopan tapi tajam. Sayurannya segar terutama bayam rebusnya, yang seperti dilayukan oleh matahari pagi, bukan oleh kompor. Lembut berpadu dengan bumbu kacang.

Ibu Puji dan Mas Gunawan Menemani Saya Menikmati Sego Pecel SGPC Bu Wiryo. Foto: Dokumen
PribadiAku selalu menambah lauk dengan memilih tempe goreng yang garing di luar tapi lunak di dalam, perkedel kentang yang seperti kenangan lebaran di rumah nenek, dan tahu serta ayam bacem yang mengandung manis khas Jawa, seperti tutur yang halus tapi tegas. Di etalase ada juga sop, tapi entah kenapa, hatiku selalu tertambat pada nasi pecel seperti seseorang yang tak pernah berpaling dari daya tarik cinta pertamanya.
Di meja panjang itu, sambil menyantap pecel dan memandangi anak-anak muda yang kini menempati bangku yang dulu mungkin pernah kududuki juga, aku tersadar: hidup tak selalu tentang hal-hal besar. Kadang, makna ditemukan dalam sepiring pecel, sepotong tempe, dan meja kayu yang menampung puluhan kisah dalam satu waktu.

Iringan Musik Gamelan Mengalun Pelan.Saat Menikmati Sego Pecel. Foto: Dokumen Pribadi
Warung ini telah berdiri lebih dari enam puluh tahun. Ia tidak menjanjikan keajaiban, tapi menawarkan kesederhanaan yang terus bertahan. Dalam dunia yang berubah cepat, tempat ini seperti oase yang tak mau ikut berlari. Mungkin itu sebabnya aku datang kembali, berkali-kali, dan akan terus kembali selama tubuh ini masih diberi kesempatan.
Karena di SGPC Bu Wiryo, aku tidak hanya makan. Aku pulang ke rasa yang tidak dibuat-buat, ke meja yang tidak dibagi-bagi, dan ke waktu yang tidak terburu-buru. Di sanalah aku duduk. Bersama pecel, kenangan, dan waktu yang diam-diam menyendokkan hikmah ke dalam hatiku.
Yogyakarta, Juni 2025

Leave a Reply