Tanda Tangan Penulis dan Sebuah Perjalanan yang Disakralkan

Tanda Tangan Penulis dan Sebuah Perjalanan yang Disakralkan
Oleh: Daswatia Astuty *)
Ada banyak cara menerima sebuah buku. Bisa dibeli secara daring, bisa dititipkan lewat kawan, atau dikirim langsung ke rumah oleh jasa ekspedisi. Namun bagi saya, buku bukan sekadar barang yang bisa digenggam. Ia adalah wujud hidup dari pemikiran, keyakinan, dan nyawa penulis yang telah diperas dalam waktu dan kesunyian. Dan karena itu, menerima buku langsung dari tangan penulisnya adalah pengalaman yang tak bisa digantikan juga tak bisa dibeli.
Saya sudah lama menanti buku itu: Becoming a Creative Writer karya Much Khoiri. Bukan karena saya belum pernah menulis atau membaca buku, tapi karena buku ini lahir dari seseorang yang bagi saya adalah guru dalam menulis dan merenung. Sudah sejak awal saya tegaskan pada diri sendiri, saya hanya mau menerima buku itu langsung dari beliau, bukan lewat paket, bukan lewat pos. Saya ingin menerima buku itu seperti orang menerima warisan makna: langsung, hangat, dan menyentuh.
Kesempatan itu akhirnya datang. Saat saya berada di Yogyakarta, saya pun merancang perjalanan naik kereta api dari Yogyakarta ke Surabaya pulang-pergi dalam satu hari, demi menepati janji dalam hati yang mungkin bagi orang lain terdengar berlebihan. Tapi bagi saya, perjalanan itu adalah bentuk kesungguhan, sebuah ziarah literasi kecil yang sarat makna.
Kami bertemu di Kampus UNESA dimana beliau sementara memberi kuliah dan saya bersama Bu Sri Sugiastuty dan Pak Marjuki. Kami meneruskan perjalanan ke Kamukamu Café, sebuah tempat sederhana namun hangat di sudut kampus UNESA. Café itu penuh cahaya, dengan aroma kopi dan suara pelan musik instrumental. Saya datang dengan hati berdebar, bukan karena formalitas, tapi karena saya tahu bahwa momen ini bukan pertemuan biasa. Ini adalah momen ketika penulis dan pembaca duduk bersisian dua dunia yang biasanya hanya saling menatap lewat kata-kata, kini saling menyapa dengan mata dan suara.

Penulis Buku Becoming a Creative Writer Membubuhkan Tanda Tangan dan Sepenggal Kalimat Pesan. Foto: Dokumen Pribadi
Pak Khoiri menyambut dengan hangat dan rendah hati, seperti biasanya. Buku itu disodorkan dengan kedua tangan, seperti memberi benda yang suci. Di halaman depan, beliau menuliskan tanda tangan dan sepenggal kalimat untuk saya, singkat tapi terasa berdenyut. Saya menyaksikan tangan itu menulis, tangan yang juga menulis ratusan halaman renungan dan ajakan untuk terus kreatif menulis. Saya tak banyak bicara, hanya sesekali mengangguk dan menyela dengan senyum. Di luar café, langit Surabaya bersih dan terang, seolah ikut merayakan temu kami.
Buku itu kini tak hanya milik saya, tapi bagian dari diri saya. Di dalamnya bukan hanya isi teks, tapi juga cerita di balik penerimaan: perjalanan kereta yang panjang, niat yang penuh, dan kehangatan pertemuan yang jujur. Tanda tangan di halaman awal bukan cuma tulisan nama, ia adalah bukti bahwa saya hadir, menyaksikan sendiri, dan menyentuh buku dengan rasa hormat yang dalam.
Beberapa orang mungkin tak mengerti, mengapa saya harus sejauh itu untuk sebuah buku. Tapi seperti yang ditulis dalam banyak literatur, tanda tangan penulis adalah penanda pertemuan dua dunia: yang mencipta dan yang menghidupkan. Bagi saya, itulah nilai yang tidak ternilai. Sebagaimana disebutkan dalam teori paratext oleh Gérard Genette, hal-hal di luar isi buku termasuk tanda tangan penulis adalah bagian penting dari pengalaman membaca yang utuh.

Penulis dan Pembaca Buku Duduk Bersisian. Tradisi yang Disakralkan. Foto: Dokumen Pribadi
Saya pulang dengan kereta yang sama di malam hari, memeluk buku itu dalam tas saya seolah membawa pulang api kecil yang menyala. Di dalam kereta, saya membuka halaman pertama dan membaca ulang kalimat di atas tanda tangan itu. Tak ada yang mewah, tapi ada semangat yang membuat saya ingin terus menulis, terus belajar, dan terus menjadi manusia yang hidup dengan kata-kata.
Dan saya tahu, perjalanan hari itu bukan hanya bagaimana mendapatkan buku, tapi bagaimana menyaksikan makna diantarkan dari tangan ke tangan dengan hangat, dengan hormat, dan dengan sepenuh hati.
Yogyakarta, Juni 2025
*) Daswatia Astuty, penasihat Rumah Virus Literasi (RVL), Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanuisaan, Penulis dengan 50 Judul buku.

July 8, 2025 at 10:00 pm
Abdullah Makhrus
Ziarah literasi yang mengesankan dan membuat pembaca tulisan bunda jadi kepengin juga. Hehe..mantap.
July 8, 2025 at 11:23 am
Much. Khoiri
Tulisan dengan sajian yang cakep, rasanya kriuk.