Kembali ke Rumah, Menyapa Waktu

Kembali ke Rumah, Menyapa Waktu
Oleh Daswatia Astuty *)
Langit Yogya pagi itu seperti lembar undangan yang terbuka perlahan. Angin bertiup ringan, membawa kenangan masa lalu yang belum sepenuhnya pudar. Aku sedang berada di kota ini lagi, bukan sekadar melancong atau bernostalgia, tapi pulang. Dan dalam napas pulang itu, aku melangkah ke tempat yang dulu pernah kusebut rumah tugas: PPPPTK Matematika Yogyakarta.
Kini, lembaga itu telah berubah rupa dan nama. Dari PPPPTK Matematika, yang dulu membawa cakupan nasional, kini telah melewati tiga kali perubahan menjadi BBGP Yogyakarta, lalu kini BBGTK Yogyakarta dengan lingkup provinsi. Tugas pokok dan peran pun berganti, namun bangunan tetap berdiri seperti dulu, kokoh dan mengingat. Beberapa papan nama berubah, tapi temboknya masih mengenali jejak kaki yang pernah sibuk berlari di koridornya.

Kantor PPPPTK Mat yang Berubah Nama Jadi Kantor BBGP Kemudian Berubah Lagi Jadi BBGTK Yogyakarta. Foto: Dokumen Pribadi
Banyak yang menyarankan agar aku tak kembali. Konon, pemimpin lama sebaiknya tidak menengok tempat yang pernah dipimpinnya. Takut kecewa, katanya. Takut tak dikenal lagi, tak dihargai, bahkan dianggap mengganggu kenyamanan para pengganti. Tapi aku percaya: rumah yang sejati tak pernah menolak ibunya pulang.

Waktu Telah Membuktikan Kesetiaan Mas Gunawan dan Mbak Puji Tak Ada yang Berubah Justru Semakin Mesra dan Penuh Kasih Sayang. Foto: Dokumen Pribadi
Dan benar. Ketika aku memasuki gedung itu, aku tidak merasa asing. Sambutan hangat dari para staf, tawa kecil yang menyapa, dan cerita-cerita ringan yang mengalir semua seperti tangan-tangan yang menyentuh bahuku, berkata: “Selamat datang kembali, Bu.” Rasanya seperti ibu yang pulang ke rumah dan mendapati anak-anaknya tumbuh, melanjutkan apa yang dulu ditanam dengan keyakinan.

Reunian Kecil-Kecilan Mengulang Kenangan Lama. Foto: Dokumen Pribadi
Kebahagiaan itu aku lengkapi dengan mengunjungi para senior yang dulu menjadi bagian dari jalan panjang kami Pak Kasman dan Pak Hery Sukarman. Dalam pertemuan itu, tak ada lagi jabatan, tak ada formalitas. Hanya perbincangan manusia dengan manusia, yang saling bertukar kabar dan saling mendengarkan. Kami membahas usia, perubahan, capaian yang telah lewat, dan harapan yang masih tersisa. Seperti tiga batang pohon tua yang duduk di bawah rindangnya kenangan.

Silaturahmi dengan Bapak Hery Sukarman. Foto: Dokumen Pribadi
Mengunjungi senior bukanlah sekadar sopan santun. Ia adalah silaturahmi yang bernyawa. Dalam Islam, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tapi lebih dari itu, silaturahmi adalah cara kita menyambung makna. Menyambung keberanian, menyambung ilmu yang terwariskan, dan menyambung semangat agar tak terputus di tengah arus zaman yang cepat dan lupa.
Dalam silaturahmi, aku belajar kembali bahwa usia bukanlah penghalang untuk mengeratkan hubungan. Justru ketika waktu semakin pendek, saat tubuh mulai melambat, saat agenda dunia mulai melepaskan genggamannya, itulah saat yang paling tepat untuk menggenggam hati satu sama lain. Untuk saling memaafkan apa yang pernah retak, untuk saling menyemangati dalam sisa langkah yang tersisa.

Silaturahmi dengan Keluarga Bapak Hery Sukarman..Foto: Dokumen Pribadi
Usia lansia bukan waktu untuk menjauh, tapi waktu untuk mendekat. Bukan untuk menutup diri, tapi membuka pintu bagi siapa pun yang pernah hadir dalam hidup kita. Karena dalam usia seperti ini, kita tak lagi mengejar pencapaian, tapi menenun kedamaian. Dan salah satu cara menenunnya adalah dengan hadir, menyapa, mendengarkan, dan berbagi cerita.
Aku pulang dari kunjungan itu dengan hati yang utuh. Bukan karena semua masih sama, tapi karena yang berubah pun tetap membawa ruh yang dulu kami bangun bersama. Dan karena aku tahu, silaturahmi bukan sekadar tradisi ia adalah jembatan keabadian.
Selama masih ada waktu, selama langkah masih bisa diayunkan, aku ingin terus datang. Menyapa yang lama, menghargai yang baru, dan menjadi saksi bahwa cinta pada tempat dan manusia tak lekang hanya karena waktu atau jabatan.
Karena di ujung usia, bukan nama kita yang akan diingat, tapi bagaimana kita hadir. Dan aku ingin dikenang bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai ibu yang pulang.
Yogyakarta, Juni 2025

July 9, 2025 at 3:28 pm
Gage3618
Promote our brand, reap the rewards—apply to our affiliate program today! https://shorturl.fm/l5SqC