Tugu Yogyakarta: Penanda yang Menunjuk ke Dalam Diri

Tugu Yogyakarta: Penanda yang Menunjuk ke Dalam Diri
Oleh: Daswatia Astuty
Yogyakarta punya cara sendiri untuk menyambut para perantau, peziarah, dan pencari makna. Ia tidak berseru lantang, tidak menggoda dengan gemerlap. Tapi di tengah simpang lima jalan, berdiri satu sosok yang diam namun menggetarkan: Tugu Yogyakarta.
Pagi itu, aku berdiri di depannya. Langit masih bening, dan lalu lintas belum ramai. Tugu itu menjulang tak terlalu tinggi, tak juga terlalu megah, tapi ada yang agung dalam kesederhanaannya. Seperti kakek tua yang duduk di beranda, diam tapi menyimpan cerita panjang. Tugu ini telah berdiri sejak 1755, dibangun tak lama setelah Keraton Yogyakarta berdiri. Ia bukan sekadar penanda kota, tapi penanda arah: sumbu imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Kraton, dan Laut Selatan. Sumbu ini bukan garis biasa, tapi jalur spiritual, penghubung antara alam, manusia, dan kekuasaan ilahi.
Awalnya, tugu ini bernama Tugu Golong Gilig. Simbol persatuan rakyat dan raja. Bentuknya bulat memanjang, menggambarkan keharmonisan antara kekuatan horizontal dan vertikal. Namun ketika gempa mengguncang Yogyakarta pada tahun 1867, tugu itu runtuh. Lalu dibangun kembali oleh pemerintah kolonial, dengan bentuk seperti sekarang: bersegi dan mengerucut, bergaya Eropa, putih dengan garis emas di ujungnya. Indah, tapi kehilangan sebagian dari makna awalnya.
Meski bentuknya berubah, maknanya tetap lekat di hati orang Yogya. Ia tetap menjadi pusat perhatian, titik temu, dan tempat diam-diam menaruh harapan.
Saat aku berdiri di dekatnya, ada rasa yang sulit dijelaskan. Seolah aku sedang dihadapkan pada diriku sendiri. Tugu itu diam, tapi dalam diamnya ia menunjuk ke langit seakan berkata, “Lihat ke atas, tapi jangan lupa bumi tempat kakimu berpijak.” Ia berdiri di tengah keramaian, tapi tak pernah bising. Seperti orang bijak yang tahu banyak, tapi memilih mendengar.
Di sekitarnya, kota bergerak. Pengendara motor berlalu, suara klakson terdengar, lampu lalu lintas berganti. Tapi di dalam lingkar tugu itu, waktu seperti melambat. Aku mengabadikannya dalam gambar, tapi tahu bahwa gambar tak akan bisa menangkap getar yang kurasa.
Beberapa pasangan muda berhenti, berfoto. Seorang ibu dan anaknya menyeberang pelan, saling menggenggam tangan. Seorang pemuda tampak khusyuk berdoa di bawah tugu, seperti memanjatkan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan kepada siapa pun. Mungkin cinta. Mungkin rindu. Mungkin hidup yang sedang berat. Dan tugu itu tetap diam, menjadi saksi yang tak menghakimi.
Bagiku, tugu ini bukan sekadar objek wisata. Ia adalah penjaga arah batin. Ketika langkah-langkahku tak menentu, ia berdiri memberi isyarat. Ketika aku merasa jauh dari pusat, ia mengingatkan bahwa pusat bukan tempat melainkan kesadaran akan siapa dirimu dan ke mana kau menuju.
Saat malam tiba, lampu-lampu menyala di sekelilingnya. Bayangan tugu memanjang, menyentuh aspal. Kota terus bergerak, tapi tugu itu tetap. Ia tak pergi ke mana-mana, seperti doa yang terus dipanjatkan bahkan setelah mulut tak lagi bergerak.
Aku berjanji dalam hati, setiap kali ke Yogyakarta, aku akan menyapa tugu ini. Bukan untuk berfoto, bukan untuk sekadar lewat, tapi untuk mengingat arah. Karena dalam hidup, kadang kita perlu berhenti di tengah persimpangan, dan bertanya dalam diam:
“Masihkah aku berjalan menuju cahaya yang kutuju?”
Yogyakarta, Juni 2025

August 9, 2025 at 5:17 pm
Anika2559
https://shorturl.fm/r7ZXE
August 7, 2025 at 5:07 am
James3365
https://shorturl.fm/XIiBN
August 6, 2025 at 12:05 pm
Joanna827
https://shorturl.fm/U2EIX
August 4, 2025 at 8:59 pm
Madeleine590
https://shorturl.fm/2SQXV
August 3, 2025 at 2:28 am
Roger2791
https://shorturl.fm/o0WTA
August 2, 2025 at 2:18 pm
Erin2345
https://shorturl.fm/uX4NX
July 19, 2025 at 6:14 pm
Hank4059
Promote our brand and watch your income grow—join today! https://shorturl.fm/1FYcv
July 11, 2025 at 2:32 pm
Erika1642
Join our affiliate community and earn more—register now! https://shorturl.fm/1T5FM