Dengung di Bawah Genting, Sunyi dalam Pengabdian

Dengung di Bawah Genting, Sunyi dalam Pengabdian
Oleh: Telly D.*)
Pagi ini, seperti biasa, saya menyiram bunga di halaman rumah ketika sebuah dengungan mulai terdengar. Awalnya samar, seperti bisikan angin yang lewat. Tapi lama-kelamaan suara itu menguat, mengitari saya, membuat saya berhenti dan mencari arah. Hingga akhirnya saya mendongak, dan di sanalah semuanya terbuka: di setiap celah genting teras rumah saya, lebah-lebah bersarang, keluar masuk tanpa henti, membentuk kehidupan yang selama ini luput dari perhatian saya.
Saya tertegun. Selama ini saya sibuk merawat yang tampak di mata, tetapi tidak menyadari kehidupan lain yang diam-diam tumbuh di atas kepala saya. Kekaguman bercampur kekhawatiran membuat saya mencari jalan keluar. Saya berdiskusi dengan Pak RT, Bapak Tajudin Narang. dan dari beliau saya mendapat saran yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya: menghubungi Damkar.
Dalam benak saya, Damkar adalah tentang api dan kebakaran. Tentang situasi genting yang besar dan dramatis. Saya tidak pernah membayangkan bahwa urusan lebah pun menjadi bagian dari tugas mereka. Namun saya mengikuti saran itu. Oleh adik saya Ir. Akbar Rasjid saya diminta mengisi formulir pengaduan, mengirimkan video kondisi sarang lebah, dan menunggu.
Hal yang terjadi setelah itu di luar dugaan saya. Responsnya cepat. Saya dijadwalkan hari itu juga untuk penanganan setelah waktu Isya. Bahkan pada waktu magrib, saya telah mendapat kabar dari ketua tim Rescue Damkar Makassar bahwa tim sudah dalam perjalanan ke rumah saya.
Malam itu, halaman rumah saya menjadi saksi bagaimana profesionalisme hadir tanpa banyak kata. Tim Damkar datang dengan perlengkapan lengkap, dipimpin oleh bapak Akbar (Dantim 2 Rescue). Bersamanya ada Asri, Hendra Rapi, Muhidin, dan Andi. Mereka datang tidak dengan kegaduhan, melainkan dengan ketenangan yang menenangkan.

Bersama Tim Rescue dari Damkar Kota Makassar. Foto: Dokumen Pribadi
Sebelum mulai bekerja, ada satu hal yang sempat membuat saya bertanya-tanya: mereka meminta agar lampu di sekitar teras dipadamkan. Rumah yang biasanya terang perlahan tenggelam dalam gelap. Hanya tersisa cahaya-cahaya kecil dari peralatan mereka.
Belakangan saya memahami itu bukan tanpa alasan. Dalam gelap, lebah menjadi lebih tenang. Cahaya dapat memicu pergerakan dan membuat mereka lebih liar. Dengan meredupkan bahkan memadamkan lampu, tim ini sedang “menenangkan” situasi, mengendalikan alam dengan cara yang tidak memaksa, tetapi memahami.
Suasana pun berubah. Gelap yang biasanya menimbulkan rasa takut, malam itu justru menghadirkan ketenangan yang terarah. Dalam remang, saya melihat siluet mereka bekerja perlahan, hati-hati, penuh perhitungan.
Tangga dipasang dengan presisi. Satu orang naik, yang lain bersiaga di bawah. Ada yang mengamankan posisi, ada yang menyiapkan kantung penampung. Komunikasi mereka terdengar pelan, singkat, namun jelas. Tidak ada teriakan, tidak ada kepanikan. Hanya koordinasi yang matang.

Tim Rescue Memasang Tangga untuk Mengeksekusi Lebah. Foto: Dokumen Pribadi
Lebah-lebah itu tetap berdengung, tetapi tidak seganas yang saya bayangkan. Seolah mereka pun ikut tunduk pada ketenangan yang diciptakan oleh gelap. Satu per satu sarang ditangani. Gerakan tangan mereka terukur tidak tergesa, namun pasti.
Saya menyaksikan semuanya dengan napas tertahan. Ada rasa kagum yang pelan-pelan memenuhi dada saya. Betapa pekerjaan ini bukan hanya soal keberanian, tetapi juga pengetahuan, pengalaman, dan kepekaan terhadap alam.
Hingga akhirnya, pekerjaan itu selesai. Sarang lebah yang memenuhi setiap celah genting itu telah berpindah ke dalam dua kantung besar yang berisi ribuan lebah, yang kini terkendali.
Namun ada satu hal yang lebih membekas dari semua itu. Ketika pekerjaan selesai, dengan rasa terima kasih yang tulus, saya mencoba memberikan sesuatu sebagai bentuk penghargaan. Saya juga mengajak makan malam di warung coto depan rumah, Namun mereka menolak dengan halus dan tegas. Mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari tugas, bagian dari pelayanan yang memang menjadi tanggung jawab negara kepada masyarakat.
Saya terdiam. Di tengah dunia yang sering kali mengukur segala sesuatu dengan imbalan, saya justru menyaksikan sekelompok orang yang bekerja dengan dedikasi tanpa meminta balasan. Mereka datang, menyelesaikan masalah, dan pergi meninggalkan ketenangan, tanpa membawa apa-apa selain tanggung jawab yang telah mereka tunaikan.
Malam itu, saya tidak hanya melihat sarang lebah dipindahkan. Saya melihat nilai. Saya melihat integritas. Saya melihat bahwa pengabdian sejati masih ada, bekerja dalam sunyi, tanpa sorotan.
Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada bapak Akbar (Dantim 2 Rescue), Pak Asri, Pak Hendra Pak Rapi, Pak Muhidin, dan Pak Andi. Terima kasih atas keberanian, ketelitian, dan ketulusan yang kalian tunjukkan. Terima kasih karena telah membuktikan bahwa pelayanan publik bisa begitu profesional, begitu manusiawi, dan begitu membanggakan.
Dan kini, di Pagi hari ketika saya kembali menyiram bunga, saya tidak hanya melihat warna-warna yang mekar. Saya juga mengingat satu hal yang lebih dalam: bahwa di balik setiap masalah yang datang tanpa diduga, selalu ada tangan-tangan yang bekerja dengan tulus untuk menolong tanpa meminta dikenal, tanpa meminta dibalas.
Dengung lebah itu telah pergi. Namun gema pengabdian itu tetap tinggal, menetap diam di hati saya.
Makassar, 17 April 2026
Telly D.*) Nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M. Pd., seorang pegiat literasi, pemerhati pendidikan, pelukis, dan penulis 65 judul buku lebih, buku terakhir Tinta yang Bersujud (2026).

Leave a Reply