Kami Pernah Memulai dari Nol, dan Saya Belajar Menulis dari Awal Lagi

Kami Pernah Memulai dari Nol, dan Saya Belajar Menulis dari Awal Lagi
Oleh: Telly D.
Ada saat dalam hidup ketika seseorang harus kembali menjadi murid, justru setelah ia merasa telah lama menjadi guru. Saya mengalaminya sepulang dari kunjungan ke LPMP Sulawesi Barat sebuah tempat yang dulu pernah saya pimpin, saya rintis dari tanah yang nyaris tak bernama. Di sana, di antara bangunan yang kini berdiri lebih utuh, lebih hidup, saya seperti bertemu kembali dengan jejak-jejak langkah lama. Ada wajah-wajah yang dulu memulai bersama, ada semangat yang dulu kami rawat dengan keterbatasan.
Perjalanan itu tidak hanya mengantar saya pada kenangan, tetapi juga pada kegelisahan baru: bagaimana menuliskan semua ini sehingga bisa jadi abadi?
Saya ingin menulis tentang mereka yang pernah memulai dari nol. Saya sudah memiliki kerangka, garis besar, bahkan judulnya pun sudah lama berdiam di kepala saya: Kami Pernah Memulai dari Nol. Tetapi setiap kali saya mulai menulis, saya justru tersandung oleh diri saya sendiri. Tulisan itu terasa terlalu “saya.” Terlalu subjektif. Terlalu berat sebelah. Dan setiap kali saya merasa tidak puas, saya membongkarnya kembali. Satu kali. Dua kali. Hingga lima kali. Namun tetap saja, ada yang terasa tidak sampai.
Di titik itulah saya menyadari: pengalaman tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menuliskan secara jernih. Bahkan setelah puluhan buku saya tulis lebih dari enam puluh judul, saya tetap membutuhkan sesuatu yang lain: seorang pembimbing. Seorang guru yang tidak hanya membaca, tetapi juga melihat apa yang tidak saya lihat.
Saya beruntung punya seorang guru pembimbing yang dengan sabar membimbing saya. Ia tidak langsung mengoreksi. Ia tidak tergesa-gesa memperbaiki. Ia memulai dengan satu hal sederhana: mengirimkan sebuah artikel tentang menulis. Intinya sederhana, tetapi menggugat cara saya selama ini bekerja bahwa dalam tahap awal menulis, ketika drafting tidak boleh melakukan editing.
Saya terdiam. Menyadari bahwa, setiap kalimat yang saya tulis langsung saya curigai. Saya adili. Saya bongkar sebelum sempat tumbuh. Saya mematikan tulisan saya sendiri sebelum ia sempat bernapas.
Dari situlah proses bimbingan itu dimulai. Pelan-pelan. Tidak menggurui, tetapi menuntun. Saya diminta menulis kembali tanpa takut salah. Tanpa membongkar di tengah jalan. Saya mengirimkan tulisan yang sudah saya acak berkali-kali. Lalu dia menatanya kembali bukan hanya memperbaiki tata bahasa, tetapi menata alur pikir, menyeimbangkan sudut pandang, dan menghadirkan suara yang lebih jernih.
Ketika tulisan itu kembali kepada saya, saya diminta melakukan satu hal yang sederhana namun sangat dalam: membandingkan. Membandingkan tulisan saya dengan tulisan setelah pembimbing tata kembali
Di situlah saya belajar.
Saya melihat bagaimana sebuah pengalaman pribadi bisa tetap jujur tanpa harus menjadi egois. Bagaimana “saya” bisa hadir tanpa menenggelamkan “kami.” Bagaimana objektivitas bukan berarti menghilangkan perasaan, tetapi menempatkannya pada porsi yang tepat.
Guru pembimbing, menyadarkan saya. Ia menunjukkan bagian-bagian yang terlalu gelap atau terlalu terang dalam tulisan. Ia membantu melihat apa yang berlebihan dan apa yang kurang. Ia tidak mengambil alih suara, tetapi menolong menemukan suara yang sebenarnya.
Bagi saya yang sudah berada di usia lanjut, proses ini terasa seperti kembali belajar berjalan. Ada kerendahan hati yang harus diterima: bahwa menulis bukan hanya soal pengalaman, tetapi juga soal kejernihan melihat dan keberanian untuk dibimbing.
Seorang pembimbing melakukan lebih dari sekadar mengoreksi. Ia:
• Menahan agar tidak tergesa-gesa menghakimi tulisan sendiri.
• Membuka kemungkinan baru dalam cara bercerita.
• Menjaga agar tidak terjebak dalam subjektivitas yang sempit.
• Mengajarkan disiplin dalam proses, bukan hanya hasil.
• Dan yang terpenting, ia hadir sebagai pembaca pertama yang jujur.
Dalam usia saya sekarang, saya justru menemukan bahwa dibimbing adalah sebuah anugerah. Ada kelegaan ketika kita tidak harus selalu benar sejak awal. Ada kebebasan ketika kita diizinkan untuk salah, untuk mencoba, untuk menulis apa adanya sebelum kemudian diperbaiki.
Dan mungkin, di situlah letak pentingnya pembimbingan dalam menulis: bukan sekadar agar tulisan kita menjadi baik, tetapi agar kita tetap menjadi pembelajar.
Karena pada akhirnya, menulis bukan hanya tentang apa yang kita tahu, tetapi tentang seberapa bersedia kita untuk terus belajar.
Dan saya yang pernah merasa memulai dari nol dalam membangun sebuah lembaga kini kembali memulai dari nol dalam menulis.
Makassar, April 2026

April 15, 2026 at 4:57 pm
Kelsey599
https://shorturl.fm/Kgi7A