February 10, 2024 in Pentigraf, Uncategorized

Persaingan Tak Sehat

Pentigraf

Persaingan Tak Sehat

Oleh Telly D.

Dengan tergesa-gesa, saya memasuki ruang kelas. Anak-anak pun menyambutnya dengan penuh ceria. Setelah menaruh tas dan mengambil napas lega, saya mulai membagikan hasil pekerjaan Matematika siswa yang telah saya periksa sebelumnya. Suasana kelas menjadi hening saat siswa-siswa menerima hasil pekerjaan mereka. Ekspresi wajah mereka beragam; ada yang cuek, ada yang kecewa, bahkan ada yang kaget dengan hasil yang mereka dapatkan.

Tiba-tiba, Anwar, salah satu siswa melakukan protes di meja guru, mempertanyakan mengapa nilai yang ia terima selalu sama dengan Yohan. Menurut Anwar, kemampuan Yohan jauh di bawahnya. Anwar menambahkan bahwa dalam proses diskusi kelompok, Yohan selalu bergantung padanya untuk menyelesaikan tugas. Dengan sigap, saya menunjukkan lembar jawaban Yohan yang sempurna, membuat Anwar terdiam menerima fakta yang ada.

Hari itu, Yohan dilantik menjadi ketua OSIS sekolah, dan kepala sekolah memuji prestasinya yang gemilang. Yohan juga anak semata wayang kepala sekolah, dipandang sebagai teladan dalam prestasi. Saya, yang menghadiri acara pelantikan, muncul perasaan bersalah saat melihat tatapan tajam Anwar, pesaing Yohan yang kalah dalam seleksi. Tatapan matanya seolah-olah menyiratkan bahwa ia mengetahui bahwa saya selalu memberikan lembar jawaban sebelum ulangan kepada Yohan, sesuai permintaan kepala sekolah yang tak dapat saya tolak. Meskipun Anwar memiliki potensi, Yohan dipilih sebagai ketua OSIS karena dianggap memenuhi syarat sebagai siswa berprestasi.

Makassar, 10 Februari 2024




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree