February 5, 2023 in Resensi, Uncategorized

Resensi Buku: SOS (Sapa Ora Sibuk). Menulis dalam Kesibukan

Sibuk: Alasan Tidak Menulis

Oleh:Telly D

Judul yang tepat untuk memulai resensi buku ini, dimana kesibukan selalu dijadikan alasan, kambing hitam, kilah pembenar tidak menulis. Seakan-akan kesibukanlah yang telah membelenggu, mengikat, dan memenjarakan orang untuk tidak menulis.

Siapa orang yang tidak sibuk? Justru semua orang terobsesi untuk bekerja dan itu bermakna sibuk, bahkan jika orang yang sudah bekerja pun masih terus memburu dan menambah kesibukan lain. Jika kesibukan membuat orang tidak dapat menulis, maka sejatinya tidak ada orang sibuk yang dapat menulis.

Hal yang sama juga terjadi pada dosen dan guru, sekalipun diamanatkan oleh undang-undang. Beberapa dosen dan guru juga beralasan tidak ada waktu untuk menulis. Kesibukan mengajar atau memberi kuliah setiap hari, menyiapkan segala perangkat adminstrasi mengajar, dan lain sebagainya dijadikan alasan.

Fakta lapangan, dalam kesibukan ada dosen penulis atau guru penulis yang hebat. Demikian juga penulis-penulis besar dan terkenal lainnya juga berasal dari kalangan orang-orang yang sibuk, bahkan sangat sibuk.

Lalu apa yang salah? Sibuk hanya sekedar berkilah?
Inilah yang ditulis oleh Much Khoiri dalam buku SOS dengan sangat sistimatik dan menarik.

Pembaca bukan diminta mencari alasan atau kilah tidak menulis melainkan diminta bijak melihat kesibukan, membuka diri untuk bertekad menulis. Kemudian diberi jurus jitu, strategi menyiasati kesibukan. Bagaimana menemukan kenikmatan menulis? Tetap sibuk dan tetap bisa melakukan aksi menulis. Menulis dalam kesibukan.

Saya tertarik meresensi buku Sapa Ora Sibuk (SOS) karena buku ini ditulis oleh Much Khoiri. Seorang penulis prolifik yang sementara meniti puncak karir menulis. Penggiat literasi, blogger, public speaker, youtuber, editor, dan dosen di Unesa Surabaya bahkan termasuk 50 orang yang berpengaruh di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Ketertarikan saya berikutnya adalah isi buku ini cocok untuk menjadi renungan dan menyemangati pembaca yang masih menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk tidak menulis. Renungan dan siasat jitu (strategi) yang ditawarkan pada buku ini dapat memantik semangat bagi penulis pemula untuk mencoba memulai aksi menulis atau bagi penulis lama yang berhenti untuk kembali menulis.

SOS buku yang bersampul warna biru langit dengan siluet seorang lelaki dewasa yang sedang duduk menulis memakai kacamata. Warna biru terkesan menjadi latar belakang lelaki yang menulis itu.

Psikologi warna, biru langit melambangkan ketenangan, kestabilan, andal, aman, teratur, dan produktif jauh dari kesedihan. Warna biru direkomendasikan untuk ruang kerja. Orang menjadi lebih produktif jika berada dalam ruang berwarna biru.

Makna yang disampaikan oleh sampul buku ini adalah menulis memerlukan ketenangan, kedisiplinan untuk bisa produktif. Tidak berlebihan jika mengatakan buku SOS dirancang dengan apik. Terlihat dari kualitas buku dan kualitas artikel yang ada di dalamnya.

SOS saya terima langsung dari penulisnya di Surabaya. SOS edisi pertama diterbitkan oleh Unesa University Press awal tahun 2016. Edisi pertama SOS sangat laris terjual online dan juga lewat pelatihan-pelatihan. Tingginya permintaan pasar, maka tahun 2020 buku ini diterbitkan kembali dengan edisi revisi oleh penerbit yang berbeda Tankali.

SOS membahas 21 artikel pilihan yang terdiri atas 4 artikel renungan dan 17 artikel yang berisi strategi menyiasati kesibukan sehingga dapat menulis.

Sopo Ora Sibuk. adalah renungan memahami hakikat kesibukan. Hidup itu sesungguhnya identik dengan kesibukan. Siapa yang tidak sibuk?
Renungan ini membuka kealpaan, bahwa tidak menulis berasal dari diri sendiri bukan karena kesibukan. Lepaskan jeratan masalah kesibukan dan fokus pada solusi untuk mengatasinya.

Menulis dalam Kesibukan. Renungan bagaimana mengelola kesibukan menyikapi dengan cerdas dan bijaksana sehingga tidak terbenam dalam jebakan kesibukan.

Kesibukan jangan hanya dilihat sebagai kendala dan ancaman bagi karir utama melainkan juga sebagai kekuatan dan peluang untuk mengembangkan aksi menulis.

Mendidik diri adalah memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasan mengenai sesuatu yang dididikkan. Menulis tidak hanya dikatakan, bukan sekedar perasaan dan keyakinan namun diekspresikan dengan tindakan. Anda harapkan menulis maka lakukanlah.

Menulis itu berkomunikasi. Menulis bukan sekedar berekspresi. Perlu dibarengi dengan tujuan berkomunikasi, menyampaikan satu pesan (hal. 25).

Komunikasi lewat tulisan memiliki keunikan tersendiri. Membutuhkan keterampilan dan latihan untuk menguasainya, ada target keterbacaan dan keterpahaman apa yang disampaikan diterima dengan jelas bukan untuk diri sendiri.

Kemudian, 17 strategi yang dimaksud dalam buku SOS secara sistimatis adalah sebagai berikut.
Bangun niat yang kuat untuk menulis (strategi 1). Rajinlah membaca (strategi 2). Gunakan alat perekam gagasan (strategi 3). Kobarkan inspirasi menulis (strategi 4). Tentukan waktu utama (strategi 5). Untuk Pemula, Menulis bebas (strategi 6). Melatih diri menulis dalam hati (strategi 7). Menulis di waktu utama (strategi 8). Manfaatkan waktu luang (strategi 9). Menulis yang dialami (strategi 10). Menulis yang dirasakan (strategi 11). Menulis selaras minat dan pekerjaan (strategi 12). Menulis dengan riang (strategi 13). Menulis yang banyak (strategi 14). Read better, write faster (strategi 15). Buatlah motto yang dahsyat (strategi 16). Menulis dengan doa (strategi 17).

Daya tarik buku SOS ada pada apa yang disampaikan bukan berdasarkan teoretik, melainkan berdasar pengalaman penulis. Penulis berbagi pengalaman bagaimana dalam kesibukan tetap bisa menulis. Tidak menggurui, mudah dicerna, logika tulisan mengalir sempurna, selalu ada hal baru yang disampaikan.

Kesederhanaan bahasa dalam mengungkap sesuatu, menarik dan akrab dengan kehidupan pembaca. tulisan sederhana namun syarat makna, singkat namun mampu mengungkapkan semua yang ingin disampaikan.

Bahasa yang digunakan disamping sederhana juga santun. Pemahaman dan pengalaman penulis, berpadu dengan kemampuan dan latar belakang ilmu penulis membuat artikelnya mendalam, penuh makna, menarik, menginspirasi, dan menggerakkan untuk melakukan. Strategi-strategi yang ditawarkan juga sederhana, mudah dipahami jika akan dilaksanakan.

Hal yang perlu diperkaya dari buku ini, jika dilengkapi dengan informasi orang-orang yang sukses menjadi penulis hebat di tengah kesibukan, pembaca mendapat teladan di depan mata.

Buku ini direkomendasikan untuk semua kalangan terkhusus kepada orang yang masih selalu menjadikan kesibukan sebagai tameng untuk tidak menuliis. Menulis adalah menulis dan kesibukan adalah kesibukan, dua hal yang sangat berbeda. Menjadikan kesibukan alasan untuk tidak menulis adalah kelemahan dan itu hanya sekedar kilah semata.

Seperti yang dikatakan oleh Djuli Djatiprambumi dalam pengantarnya, buku SOS bukan sekedar buku mengenai How to Write tetapi lebih dari itu. Bagaimana pembaca menyadari sepenuhnya makna tulisan dengan sepenuh waktu, sepenuh jiwa, dan sepenuh kesempatan.

Buku SOS tersirat mengungkapkan betapa berharganya seorang individu yang menulis di tengah zaman cyber culture yang sibuk, cepat, responsif, bebas, terbuka dan termediasi secara luas. Individu yang menulis di tengah kesibukan yang padat secara eksplisit tentu tergolong bukan orang biasa. Dia adalah persona yang bermakna (hal. xxii).

*Telly D. Penulis purna dengan semangat muda, relawan, pemerhati pendidikan, pegiat literasi, ibu 3 orang anak, nenek dengan seorang cucu.




15 Comments

  1. December 8, 2023 at 12:29 am

    Hamdana

    Reply

    Masya Allah,buku bagus banget, menginspirasi.

  2. February 7, 2023 at 8:33 am

    Kiki S.Rejeki

    Reply

    Mantap resensinya bu Telly, menginspirasi. Seperti bukunya. Sangat menarik…

    1. February 15, 2023 at 4:28 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  3. February 7, 2023 at 8:20 am

    Endang

    Reply

    Masya Allah tdk ada lagi alasan karena sibuk semua udah dijawab lengkap, keren bu

  4. February 7, 2023 at 7:52 am

    Pak Guru Untung

    Reply

    Keren, banyak informasi yang saya dapat dari resensi ini

  5. February 7, 2023 at 2:51 am

    Wyda Ayu

    Reply

    Resensi yang sangat runtut. Terima kasih bunda saya bisa belajar banyak Dari tulisan ini.

  6. February 7, 2023 at 12:32 am

    cahyati

    Reply

    Resensinya runtut dan menggelitik pembaca untuk membaca. Sip

  7. February 7, 2023 at 12:20 am

    KhatIjah Heru

    Reply

    Amazing. Resensinya keren Bu. Kalimat-kalimatnya mengalir deras, membuat pembaca tidak bosan dan penasaran akan isi buku SOS secara keseluruhan.

  8. February 6, 2023 at 11:51 pm

    Sitti Hajrah

    Reply

    Resensinya bagus dan menarik. membuat saya penasaran mau baca bukunya

  9. February 6, 2023 at 10:51 pm

    Sumintarsih

    Reply

    Kalimat-kalimat resensi yang sangat indah, Terima kasih Bu. Saya bisa bernostalgia dengan isi buku hebat ini. Punya saya masih edisi sebelumnya kover hitam.

  10. February 6, 2023 at 10:50 pm

    Abdisita

    Reply

    Resensi buku Bu Telly mantap. Terima kasih

  11. February 6, 2023 at 10:40 pm

    Mukminin

    Reply

    Resensi yang bagus sekali.

  12. February 6, 2023 at 10:39 pm

    Mukminin

    Reply

    Reesnsi yang keren sekali lengkap dan nerusu apa yang tersirat dan tersurat dalam buku SOS. Membawa pembaca sehera menikmati dan memiliki buku SOS yang sangat menginspirasi. Alhamdulilah saya sdh lama membaca dan menbeli langsung dari penulismya Mr . Emcho yang LUAR BIASA

  13. February 6, 2023 at 10:38 pm

    Much Khoiri

    Reply

    Resensi yang bagus dan bergizi. Terima kasih telah merensi buku ini. Barakallah

  14. February 6, 2023 at 5:03 pm

    Sugiarti

    Reply

    Semngat bun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree