February 10, 2024 in Pentigraf, Uncategorized

Badik

Post placeholder image

Pentigraf

Badik

Oleh Telly D.

Indo, tegi tataro kawalinna puang?” Daeng Baso bertanya tentang tempat penyimpanan badik pusaka ayahnya. Daeng Te’ne ibunya panik dengan pertanyaan itu, berjalan segera menggapai peti kecil berukir yang sudah lama tidak dibuka, mengeluarkan perlahan badik yang terbungkus dalam kain merah. Sebuah aura kecemasan terlukis jelas di wajahnya saat ia menyerahkan senjata itu kepada putranya. Dalam benaknya muncul pertanyaan apakah ada masalah serius yang mengharuskan penyelesaian dengan ujung badik.

Sementara Daeng Baso dengan tekun mengasah badiknya memastikan ketajaman senjata itu, kecemasan ibunya terus merayap dan bergemuruh seperti arus deras sungai, sehingga berkehendak menanyakan permasalahan itu. Namun sebelum bertanya, tiba-tiba putranya mendapat panggilan di ponsel tentang ajakan pertemuan dengan nada keras. Dengan tergesa-gesa tanpa ragu, putranya itu pun bergegas pergi, mengganti celananya dengan sarung sebelum melangkah meninggalkan rumah.

Kecemasan ibu semakin memuncak saat putranya kembali dengan sarung yang ternoda bercak darah. Pikiran buruk memenuhi benaknya dia menjerit “Allahu Akbar, niga tau mugajang?” jeritan ketakutan membuatnya pingsan. Kejadian sebenarnya Daeng Baso hanya kembali dari menyembelih kambing, dan badik itu sudah dikembalikan ke petinya, dikeluarkan hanya untuk di bersihkan. Putranya pun minta maaf sambil menenangkan Bundanya.

Makassar, 8 Februari 2024
Keterangan.
Indo, tegi tataro kawalinna puang? (Bugis) = Ibu, di mana badik warisan ayah disimpan?
Allahu Akbar, niga tau mugajang? (Bugis) = Ya Allah, nyawa siapa yang telah kau renggut?




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree