November 28, 2023 in Umum, Uncategorized

Bucin atau Romantis

Bucin atau Romantis

Oleh Telly D.


“Bukanlah kebodohan mencintai dengan sepenuh hati, tetapi kebijaksanaan terletak pada kemampuan untuk tumbuh bersama tanpa kehilangan jati diri.’’ (Daswatia Astuty)


Kami baru saja memulai pertemuan sahabat. Bertemu dan berjalan Bersama, namun ada seorang di antara kami sudah harus memberi tahu pasangannya di seberang sana atas setiap langkah yang diambil. Setiap tempat yang kami kunjungi dan setiap aktivitas yang dilakukan diberitahukannya melalui telepon selularnya. Pemberitahuan yang cukup keras sehingga kami semua dapat mendengarkan. Sejenak kemudian menjadi sedikit terganggu dengan isi percakapan mereka.


Percakapan yang awalnya terdengar seperti pemberitahuan rutin. Kemudian berubah, terkesan menjadi keharusan untuk melaporkan setiap detail. Seolah teman kami ini telah menjadi tahanan dalam kota oleh pasangannya sendiri.

Pertanyaan pun mulai bermunculan di antara kami. Beragam duga dan pendapat pun menjelma. Ada yang percaya bahwa ini hanyalah tanda romantika yang mendalam, dimana pasangan begitu terlibat dalam kehidupan satu sama lain hingga setiap momen menjadi berharga. Namun, teman lain menganggapnya sebagai bukan romantis, melainkan budak cinta (bucin) yang harus tunduk pada ikatan sehingga pelaporan tanpa henti harus terjadi.

Ketika sahabat yang menjadi topik ini membela diri, mengatakan bahwa pasangannya memang sangat romantis dan ingin terlibat dalam setiap aspek hidupnya, pandangan kontras pun muncul silih tertuturkan.

Ada yang menilai bahwa romantis seharusnya tidak mengorbankan kebebasan dan privasi. Apa yang dilakukan oleh pasangan tersebut bukan lagi menjadi wujud kasih sayang, melainkan tindakan bucin yang melewati batas kesehatan dalam hubungan.

Akhirnya, sudut kota yang kami jelajahi menjadi saksi bisu perdebatan ini. Restoran yang kami kunjungi menjadi tempat pertentangan antara persepsi romantis dan ketergantungan berlebihan. Seakan-akan perjalanan ini menjadi perjalanan tidak hanya melintasi jalan raya, tetapi juga melintasi batasan-batasan cinta yang mungkin terlalu dalam. Atau, malah justru terlalu membelenggu.

Seiring langkah kaki, kami melanjutkan perjalanan, kami terus membawa serta diskusi ini. Mencari pemahaman bersama tentang apa yang seharusnya menjadi batasan dalam sebuah hubungan.

Sebagian dari kami, pasangan yang sangat terlibat adalah tanda cinta yang mendalam, namun bagi yang lain, itu adalah jalan menuju pengetergantungan dan penghilangan kemerdekaan. Setiap kilometer yang kami lalui, membuat kami semua belajar bahwa memahami batas-batas itu adalah bagian penting dari menjalani perjalanan bersama.

Mengapa orang kebingungan memahami batas-batas antara kedua konsep ini? Jawabnya, antara lain disebabkan oleh:
Pengalaman cinta adalah sesuatu yang sangat subjektif dan personal. Konsep bucin dan romantis juga dapat dipengaruhi oleh budaya dan konteks sosial. Dinamika hubungan antar individu juga sangat bervariasi sehingga apa yang dianggap romantis oleh satu orang mungkin dianggap kebodohan atau kelebihan oleh orang lain. Hal ini dapat menciptakan interpretasi yang bervariasi.

Tidak ada definisi yang baku, Tunggal, dan tegas tentang bucin dan romantis. Masyarakat memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan kedua istilah ini. Dapat menimbulkan kebingungan dalam mengklasifikasikan kedua perilaku yang dilambangkan oleh kedua istilah tersebut.

Bucin adalah akronim dari “budak cinta”. Sebuah istilah dalam bahasa Indonesia percakapan yang merujuk pada seseorang yang terlalu terlibat dan tergila-gila dalam cinta, hingga kehilangan keseimbangan dalam kehidupan pribadi mereka. Orang yang dianggap bucin cenderung mengorbankan waktu, energi, dan bahkan identitasnya demi kehadiran dan kepuasan pasangan.

Bucin muncul sebagai respons terhadap kebutuhan untuk dicintai dan diterima. Orang yang merasa insecure atau tidak percaya diri mungkin cenderung menjadi bucin karena mencari kepastian dan kebahagiaan melalui hubungan. Meskipun niatnya mungkin berasal dari hasrat untuk mencintai dan dicintai, namun perilaku ini dapat membawa dampak negatif jika tidak seimbang dan tidak sehat.

Setiap hubungan membutuhkan keseimbangan dan ruang pribadi untuk kedua belah pihak. Sesungguhnya istilah bucin digunakan untuk menyadarkan bahwa ketergantungan berlebihan dalam cinta dapat membahayakan keseimbangan dan kesehatan hubungan. Oleh karena itu, kesadaran akan batas-batas pribadi dan kebutuhan individu dalam hubungan menjadi penting agar tidak jatuh ke dalam perilaku bucin yang merugikan.
Di pihak lain, romantis adalah sikap atau gaya hidup yang mendukung atau mengekspresikan perasaan kasih sayang, kelembutan, dan kehangatan dalam hubungan interpersonal. Dalam konteks hubungan romantis, sering diidentifikasi dengan tindakan atau ungkapan yang menggambarkan perasaan cinta, perhatian, dan keintiman.

Romantis hadir karena manusia memiliki kebutuhan emosional dan psikologis untuk merasa dicintai, dihargai, dan terhubung secara mendalam dengan orang lain. Romantis dapat menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut, menciptakan ikatan emosional yang kuat dan memberikan kepuasan dalam hubungan.

Romantis memperkuat dan memperdalam hubungan antar individu. Melalui romantis pasangan dapat merasakan kehangatan emosional, kebahagiaan, dan kepuasan dalam hubungan mereka. Ini juga dapat berfungsi sebagai cara untuk mempertahankan koneksi yang erat di tengah-tengah tuntutan dan tekanan kehidupan sehari-hari.

Persamaan antara bucin dan romantis
1. Keterlibatan emosional
Baik bucin maupun romantis melibatkan tingkat keterlibatan emosional yang tinggi dalam hubungan cinta. Keduanya menyatakan perasaan cinta secara intens.
2. Keinginan membuat pasangan bahagia
Baik bucin maupun romantis memiliki keinginan untuk membuat pasangan bahagia. Mereka cenderung melakukan tindakan yang dianggap dapat meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan pasangan.
3. Ekspresi cinta melalui tindakan
Keduanya menunjukkan ekspresi cinta melalui tindakan, seperti memberikan hadiah, merencanakan kejutan, atau menciptakan momen-momen romantis.
4. Perhatian terhadap detail
Bucin dan romantis dapat menunjukkan perhatian terhadap detail dalam hubungan, mengenali keinginan dan preferensi pasangan untuk membuat hubungan lebih bermakna.

Perbedaan antara bucin dan romantis
1. Motivasi dan ketergantungan
Motivasi bucin lebih terfokus pada ketergantungan emosional yang tinggi pada pasangan, dengan tingkat kekhawatiran yang berlebihan akan kehilangan.
Romantis juga mencintai pasangannya, tetapi motivasinya lebih seimbang, dengan niat untuk menciptakan keintiman dan kebahagiaan tanpa ketergantungan yang berlebihan.

2. Keseimbangan dalam hubungan
Bucin cenderung kehilangan keseimbangan dalam hubungan, fokusnya terlalu terpusat pada kebutuhan pasangan tanpa memperhatikan kebutuhan diri sendiri.
Romantis menciptakan keseimbangan, menghargai kedua belah pihak, dan memahami bahwa hubungan yang sehat melibatkan saling penghargaan dan dukungan.

3. Persepsi terhadap kemandirian
Bucin kurang memperhatikan kemandirian pasangan dan lebih cenderung memprioritaskan kebutuhan pasangan.
Romantis menghormati dan memahami kemandirian pasangan, menciptakan ruang untuk pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

4. Penerimaan terhadap kejutan
Bucin lebih menghargai kehadiran konstan dan keamanan, kurang terfokus pada kejutan atau kreativitas dalam hubungan.
Romantis lebih cenderung terlibat dalam ekspresi kreatif cinta dan mengejutkan pasangan dengan momen-momen yang tidak terduga.

5. Fokus pada kualitas hubungan
Bucin lebih fokus pada kuantitas interaksi dan kehadiran fisik konstan.
Romantis lebih cenderung fokus pada kualitas interaksi, menciptakan momen-momen bermakna.

Kedua konsep ini melibatkan perasaan cinta dan keterlibatan emosional, sehingga perbedaan utamanya terletak pada sejauh mana keterlibatan tersebut menciptakan keseimbangan dan kesehatan dalam hubungan. Romantis, dalam konteks yang sehat, dapat membawa kebahagiaan dan kedalaman hubungan tanpa mengorbankan kemandirian dan batas pribadi. Di sisi lain, bucin dapat menciptakan dinamika yang berlebihan dan merugikan jika tidak dikelola dengan bijaksana.

Contoh bucin
1. Seseorang yang bucin selalu memantau aktivitas media sosial pasangannya dengan sangat cermat, memberikan like atau komentar bahkan pada setiap postingan yang sederhana sekalipun.

2. Pasangan yang bucin merasa tidak nyaman atau cemas jika tidak berkomunikasi secara konstan melalui pesan teks atau panggilan video, bahkan untuk hal-hal kecil.

3. Seorang yang bucin cenderung tidak memahami atau menghormati batas privasi individu dalam hubungan, dengan terlalu terbuka tentang masalah pribadi di hadapan orang lain.

Contoh romantis
1. Seorang pasangan yang romantis merencanakan kejutan kecil yang penuh makna, seperti piknik di taman favorit atau menyajikan hidangan favorit di malam yang tak terduga.

2. Ekspresi romantis juga mencakup perhatian pada detail. Pasangan yang romantis mungkin memperhatikan keinginan dan preferensi pasangan mereka, menciptakan momen-momen yang dirancang khusus untuk memberikan kebahagiaan.

3. Mengekspresikan perasaan cinta melalui kata-kata romantis atau surat cinta yang mencerminkan perasaan dengan tulus.

4. Menghargai momen-momen kecil yang sering dianggap sepele oleh orang lain, seperti senyuman penuh makna atau tatapan lembut.

5. Menciptakan kenangan bersama yang berharga, misalnya merencanakan liburan bersama atau pengalaman unik yang akan dikenang sepanjang hidup.

Jika dibandingkan, gambarannya dapat disajikan seperti berikut.
Bucin terlihat terlalu fokus pada keterlibatan yang berlebihan dan tergantung pada pasangan, dengan risiko merugikan keseimbangan dan kemandirian. Romantis di sisi lain, berfokus pada menciptakan momen-momen istimewa dan memperkuat hubungan tanpa mengorbankan keseimbangan pribadi atau batas.

Akhirnya, yang dapat dikatakan cinta bukanlah sebuah pembelajaran untuk menjadi budak, tetapi pelajaran untuk saling menghormati dan tumbuh bersama menyelaraskan cinta dengan keseimbangan dan kebebasan.

Romantis dan bucin adalah dua mata uang cinta yang berbeda. Kebijaksanaan terletak pada cara kita menukarnya, dengan memberikan dan menerima tanpa kehilangan harga diri.

Makassar, 26 November 2023




3 Comments

  1. November 30, 2023 at 9:35 pm

    N. Mimin Rukmini

    Reply

    ….cinta bukanlah sebuah pembelajaran untuk menjadi budak, tetapi pelajaran untuk saling menghormati dan tumbuh bersama menyelaraskan cinta dengan keseimbangan dan kebebasan…. Subhanallah! Luar biasa! Tak ada kata bersisa Bunda! Telisik cinta antara bucin dan romantis dalam tulisan ini sungguh meresap dalam pikir dan hati paling dalam. Terimakasih Bunda!

  2. November 30, 2023 at 6:14 pm

    Sri Rahayu

    Reply

    Bunda selalu mengulas sesuatu sampai ke detail-detailnya…Jadi terhanyut…dan menghayal atau memikirkan…aq masuk bucin apa romantis ya…Matur nuwun Bunda…

    1. November 30, 2023 at 6:23 pm

      Telly D

      Reply

      Rasanya begitu baru tubtas. Tp mnrt Abah Khoiri itu panjang harusnya hanya 800 kata.🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree