November 14, 2023 in Jelajah Nusantara, Uncategorized

Pesona Istana Mini

Pesona Istana Mini

Oleh Telly D.


“Setiap bangunan bersejarah adalah buku yang bercerita tentang masa lalu, dan kita adalah penulis yang menentukan bagaimana cerita itu akan berlanjut.” (Daswatia-Astuty)

Pulau Banda Neira pulau kecil dengan luas hanya 3 kilometer persegi. Sangat kecil dalam peta. Namun, jauh lebih besar dalam hal menyimpan kekayaan alam, sejarah, dan budaya yang terbungkus dalam setiap sudut-sudut pulaunya.

Di sudut-sudut kecil pulau ini, kekayaan alamnya tumbuh dan berkembang. Meski dengan hanya berjalan kaki, setiap langkah adalah perjalanan melintasi masa lalu. Meresapi kekayaan sejarah dan merasakan hangatnya budaya yang dipelihara dengan baik.

Kepulauan Banda Neira yang kecil dalam ukurannya, namun keindahan alamnya, kekayaan sejarahnya, dan kehangatan budayanya menjadikannya tempat yang besar dalam makna.

Pulau ini seperti buku terbuka yang mengajak saya untuk membaca dan merasakan sendiri cerita-cerita yang terpahat indah di atas tanah kecilnya namun sangat berharga.

Hari ini saya meneruskan wisata sejarah dan budaya dengan melakukan kunjungan ke istana Mini. Istana Mini Banda Neira merupakan bangunan yang dahulu dipergunakan untuk rumah dinas Residen Banda, jabatan tertinggi pegawai Eropa di tingkat Karesidenan dengan wilayah mencakup sebagian wilayah timur Nusantara: Pulau Seram, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, dan gugusan pulau lain di utara pulau Timor.

Istana Mini di Banda Neira. Foto: Dokumen Pribadi


Gedung ini pernah digunakan oleh Jan Pieter San Coen yang ditugaskan oleh Kerajaan Belanda untuk mengatur dan mengurusi perdagangan di Kepulauan Banda.

Bangunan ini serupa dengan bangunan Istana Negara di Jakarta. Hanya dalam ukuran yang lebih kecil. Konon karena itulah membuat orang-orang menyebutnya Istana Mini.

Diperkirakan bangunan ini sudah berdiri pada awal abad ke-19. Hal ini diketahui melalui catatan Belanda pada tahun 1846 yang menyebutkan bahwa bangunan ini didirikan. Ini untuk menggantikan rumah residen lama di dalam Benteng Nassau yang hampir roboh seluruhnya akibat gempa bumi besar pada tahun 1816.

Selanjutnya, setelah Banda diturunkan statusnya sebagai distrik, bangunan Istana Mini digunakan sebagai rumah dinas Controleur atau pemimpin distrik. Terhadap bangunan tersebut pernah dilakukan perbaikan dan penguatan oleh Burgerlijke Openbare Werken (Jawatan Pekerjaan Umum) yang selesai pada tahun 1927 dengan anggaran sebesar 19.800 gulden (BOW 1927; 30).

Rumah Ex Deputi. Foto: Dokumen Pribadi


Di sebelah barat Istana Mini terdapat bangunan yang dahulu digunakan sebagai kantor residen. Bangunan tersebut juga pernah diperbaiki oleh Burgerlijke Openbare Werken pada tahun 1913 (BOW 1917: 157). Selanjutnya oleh Oudheidkundige Dienst (Jawatan Kepurbakalaan), bangunan Istana Mini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan koleksi perabotan antik dari era VOC karena saat itu banyak perabotan antik yang sudah dibawa keluar dari Maluku (Koninlijk Bataviaasch. 1931 : 66). Sekarang bangunan ini disebut Rumahk ex deputi dengan gaya arsitektur Eropa klasik. Bangunan ini memiliki 8 ruangan dengan halaman samping yang luas. Di halaman tersebut masih tersimpan jejak-jejak peninggalan VOC, seperti Patung Raja William III, prasasti dengan tulisan dalam Bahasa Belanda.

Pada tahun 1990, bangunan Istana Mini dipugar atas prakarsa Ir. Herbert de Vries, keturunan salah satu perkenier atau pemilik kebun pala di Banda. Kegiatan pemugaran tersebut juga didukung oleh Direktur Museum Westfries, Ruud Spruit. Bangunan Istana Mini direncanakan akan dimanfaatkan sebagai museum peninggalan VOC pada tahun 1991. Barang-barang yang dipamerkan merupakan hibah dari pameran tentang Banda yang diadakan di benteng Radboud yang berada di kota Medemblik (De Telegraaf 10 Maret 1990).

Tampak depan Istana Mini Banda tahun 1870 (Facade of Mini Banda Palace in 1870)

Istana Mini dikelilingi oleh pagar tembok berukuran 85 meter x 90 meter. Secara garis besar Istana Mini dibagi menjadi dua, yaitu bangunan induk dan bangunan sayap.

Bagian depan berbentuk seperti teras terbuka yang letaknya agak tinggi. Terdapat empat tiang semu dan empat tiang utama bergaya Eropa lama yang menyangga bagian atap.

Pada bagian tengah bangunan diapit oleh masing-masing dua kamar di sisi kiri dan kanan. Keempat kamar tersebut memiliki ukuran sekitar 5,90 meter x 7,40 meter.

Pada salah satu jendela kaca di bagian tengah bangunan utama yang menghadap ke halaman terdapat goresan tulisan berbahasa Perancis. Berikut alih aksara tulisan tersebut:

Quand viendra t`ill le temps que formera mon bonheur?
Quand frappera la cloche qui va sonner l`heure
Le moment que je reverai les bords de ma Patrie
Le soin de ma famille que j`aime et que je benis?

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih menjadi seperti berikut.

Kapan tiba saatnya untuk kebahagiaanku?
Ketika lonceng menghantam waktu
Saat-saat ketika aku melihat lagi tanah airku
Jiwa keluargaku yang aku cintai dan berkati?

Pesan tersebut ditulis oleh Charles Rumpley pada tanggal 1 September 1831. Di dalam buku Ring of Fire: An Indonesian Odyssey karya Lawrence Blair dan Lorne Blair diungkapkan bahwa Charles Rumpley adalah gubernur Perancis terakhir yang ditugaskan di pulau tersebut. Sang gubernur sepertinya sudah rindu banget dengan tanah air dan keluarganya.

Istana Mini di Banda Neira. Foto: Dokumen Pribadi


Dari luar, bangunan ini sudah menawan dengan arsitektur klasiknya yang memukau. Pintu-pintu megah dan jendela-jendela besar memberikan sentuhan kemewahan pada istana yang terletak di tengah-tengah keindahan alam Banda Neira.

Rumah Ex Deputi. Foto: Dokumen Pribadi

Saat saya melangkah masuk, aroma sejarah yang kental menyambut. Saya pun merasakan seakan-akan menjadi seorang saksi hidup dari peristiwa-peristiwa yang pernah berkembang di dalamnya.

Setiap ruangan istana ini tampaknya memiliki cerita dan karakternya sendiri. Lukisan-lukisan tua, perabotan antik, dan ornamen-ornamen artistik menjadi saksi bisu kehidupan yang pernah ada di sini. Ruangan-ruangan yang penuh dengan detail seolah-olah menjadi jendela yang mengungkap kisah-kisah tentang kehidupan para penduduk istana di masa lalu.

Tidak hanya itu, tetapi pemandangan dari jendela-jendela istana memberikan panorama yang luar biasa. Pemandangan laut biru yang tenang dan hijaunya pulau-pulau sekitar menciptakan latar belakang yang memperkuat kesan romantis dan eksotis. Saya merasa seperti dihanyutkan dalam keindahan alam sambil meresapi sejarah yang dihadirkan oleh setiap elemen istana.

Istana Mini di Banda Neira. Foto: Dokumen Pribadi

Koleksi artefak dan benda-benda bersejarah yang dipamerkan di sini memberikan wawasan mendalam tentang sejarah pulau Banda dan perdagangan rempah-rempah. Senjata-senjata kuno, pakaian tradisional, alat-alat rumah tangga, dan dokumen-dokumen bersejarah memberikan gambaran tentang kehidupan dan perjuangan masyarakat Banda di bawah VOC dan kemudian pemerintahan kolonial Belanda.

Keunikan istana kecil Banda Neira juga terletak pada atmosfernya yang hangat terasa begitu akrab. Mungkin karena ukurannya yang kecil, istana ini menciptakan rasa kedekatan dan kebersamaan. Interaksi dengan para pengunjung dan pemandu lokal juga menambah kesan positif, memberikan dimensi manusiawi pada pengalaman ini.

Melihat arsitektur bangunan ini, tak dapat saya hindari untuk merasa benar-benar kagum. Keindahan arsitektur ini bukan hanya soal bentuk fisiknya, tetapi juga tentang bagaimana setiap elemen tampaknya berbicara satu sama lain, menciptakan sebuah harmoni yang memukau.

Pilihan bahan bangunan dan teknik konstruksi yang digunakan memberikan nuansa klasik yang begitu memukau. Kekaguman saya juga muncul dari fungsionalitas bangunan ini yang tampaknya diintegrasikan dengan sangat baik dalam desainnya. Setiap ruangan, setiap lorong, tampaknya memiliki tujuan dan makna tersendiri. Ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan rumah bagi ide-ide dan kehidupan yang mungkin telah berkembang di dalamnya.

Saya menaruh rasa hormat terhadap kecerdasan dan bakat para arsitek yang merancang bangunan ini. Mereka tidak hanya menciptakan sebuah tempat, tetapi juga membangun karya seni yang dapat berbicara dengan jiwa setiap orang yang melihatnya. Bangunan ini adalah ekspresi dari imajinasi dan dedikasi.

Keindahan arsitektur ini juga cermin dari kearifan dan pemikiran mendalam para perancangnya. Saya merasa beruntung dapat menikmati karya yang begitu luar biasa ini.

Dengan melangkah keluar dari pintu istana, saya merasa seperti membawa pulang potongan sejarah yang hidup. Pengalaman mengunjungi istana kecil Banda Neira tidak hanya memberikan kesan visual yang memukau, tetapi juga membangkitkan rasa ingin tahu dan penghargaan terhadap warisan sejarah yang dijaga dengan baik oleh orang-orang di pulau ini.

Setelah mengunjungi istana ini saya menyadari kebesaran suatu tempat tidak selalu diukur dari ukurannya, melainkan dari bagaimana tempat itu mampu merangkul dan menghidupkan kembali kisah-kisah bermakna yang pernah berlangsung di sepanjang lorong waktu.

Makassar, 4 Oktober 2023




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree