October 26, 2023 in Jelajah Nusantara, Uncategorized

Rumah Pengasingan Sutan Sjahrir

Rumah Pengasingan Sutan Sjahrir

Oleh Telly D.


“Pengasingan bisa membatasi gerakan fisik, tetapi tidak akan pernah membatasi gagasan dan aspirasi.” (Daswatia Astuty)

Banda Neira, pulau yang terkenal keindahan dan kaya dengan sejarah dan budaya. Pulau ini perpaduan sempurna antara keindahan alam tropis yang memikat dan memesona dengan warisan sejarah yang melegenda.

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Banda Neira, saya langsung terpikat dengan keindahan yang dimiliki pulau ini. Saya membenarkan ungkapan Sutan Sjahrir “Jangan Mati Sebelum ke Banda Neira.” Ungkapan yang menghunjamkan selaksa penasaran dan inspirasi untuk menjelajahi Pulau Banda Neira ini.

Mata saya langsung dipuaskan pemandangan yang memukau. Pantai berpasir putih bersih terbentang luas di bawah matahari tropis. Lautnya pun biru jernih yang berlimpah dengan kehidupan laut. Perbukitannya hijau yang memanjakan setiap mata yang memandangnya. Ini semua adalah ciri khas pulau ini. Keindahan alamnya tidak hanya memesona, tetapi juga menenteramkan jiwa.

Kisahnya menjadi semakin menarik ketika saya menjelajah lebih jauh dan menggali lebih dalam ke objek-objek sejarah dan budaya Banda Neira. Baik yang bendawi mapun nonbendawi. Saya menemukan bahwa pulau ini memiliki dan menyimpan kisah yang jauh lebih bermakna dan dalam.

Selama berabad-abad, kepulauan Banda adalah tujuan utama para pedagang rempah-rempah dunia. Cengkih dan pala adalah dua rempah-rempah yang sangat berharga. Tumbuh subur dan lebat buahnya di pulau ini. Ini pula yang menjadi alasan penjajahan dan pertempuran oleh negara-negara Eropa ada zaman penjelajahan.

Papan Nama Rumah Pengasingan Sutan Sjahrir di Banda Naire. Foto: Dokumen Pribadi


Bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris secara silih berganti mengendalikan kepulauan ini dan menjadikannya sebagai pusat penghasil dan perdagangan rempah-rempah. Tentu saja silih bergantinya melalui perebutan dan peperangan sesama bangsa Eropa serta bangsa lain yang mau diperdaya.

Namun, selain kekayaan rempah-rempah, Banda Neira juga memiliki tempat penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada era kolonial, pulau ini menjadi tempat pengasingan beberapa pemimpin besar Indonesia, termasuk Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta. Mereka diasingkan ke pulau ini oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai upaya untuk mengisolasi dan membungkam perjuangan kemerdekaan yang mereka kobarkan bersama.

Saya tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjungi rumah-rumah pengasingan itu. Mengunjungi rumah-rumah pengasingan di Banda Neira adalah pengalaman adiwarna.

Rumah pengasingan Sutan Sjahrir terletak di pinggir Jalan Said Tjong Baadillah/Ratu Laguar, Kelurahan Nusantara, Kecamatan Banda, Maluku Tengah. Rumah pengasingan ini letaknya tidak jauh dari Rumah Budaya Banda. Ada papan yang digantung di depan bangunan yang tertulis “Rumah Pengasingan Sjahrir.” Bangunan hanya satu lantai, berdiri di atas lahan seluas 395 meter persegi dengan luas bangunan 314 meter persegi.

Sebelum memasuki rumah pengasingan, ada informasi yang bertuliskan bahwa rumah ini dulu milik seorang pemilik perkebunan pala yang ditinggalkan, kemudian disewa sebagai tempat tinggal Bung Kecil (sapaan lain Sutan Sjahrir) selama pengasingan di Banda Neira. Sutan Sjahrir diasingkan selama 6 tahun. Dipindahkan dari Boven Digul Papua ke Banda Neira pada 11 Februari 1936. Pada 1 Februari 1942 Bung Kecil dan Bung Hatta dipindahkan lagi oleh Belanda ke Kompleks Polisi Sukabumi, Jawa Barat.

Rumah Pengasingan Sutan Sjahrir. Foto: Dokumen Pribadi


Bangunan rumah pengasingan Sutan Sjahrir bergaya Eropa. Ini terlihat dari adanya enam pilar bergaya doria di teras depannya. Bangunan ini terbagi dalam dua bagian. Seperti bangunan rumah Eropa pada umumnya di masa itu, ada bangunan utama dan ada bangun penunjang yang terletak di belakang.

Bangunan rumah beratap seng dengan atap bertipe pelana. Plafon menggunakan papan kayu. Lantainya menggunakan terakota, tanah liat/tembikar yang dibakar digunakan sebagai pelapis lantai berwarna kecokelat-cokelatan. Pada bangunan utama terdapat lima ruangan dan ada dua teras, satu di pintu depan dan satu di pintu belakang.

Koleksi Foto-Foto Sutan Sjahrir. Foto: Dokemen Pribadi


Sekarang, tiga ruangan bagian depan digunakan sebagai museum yang memamerkan koleksi foto-foto tentang Sutan Sjahrir milik Des Alwi. Des Alwi Aubakar, di kemudian hari lebih dikenal dengan Des Alwi saja, ini asli putra Banda Neira yang diasuh sebagai anak angkat Muhammad Hatta selama dalam pengasingan internal di Banda Neira.

Pada bangunan belakang berbentuk persegi panjang terdiri atas lima ruangan. Terdapat pintu masuk dengan daun pintu berbahan kayu dengan bagian atas berbentuk melengkung. Pintu ini berada di samping utara dari teras depan.

Bangunan bagian belakang ini sekarang didiami oleh sebuah keluarga. Mereka menempati bangunan penunjang ini dengan menggunakan bangunan belakang ditambah dengan teras belakang bangunan utama.

Semenjak bersekolah saya telah banyak mendengar dan membaca kisah-kisah kepahlawanan Sutan Sjahrir dan pengasingan yang dialami di Banda Neira melalui buku sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau adalah salah satu pemimpin besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam puisi Chairil Anwar “Krawang – Bekasi” (1948) disebutkan tiga nama besar: Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir.

Rumah pengasingan ini adalah rumah bersejarah yang menjadi penjara terbuka bagi pemimpin besar ini selama pengasingan internalnya. Dalam rumah tersebut, saya melihat benda-benda bersejarah yang terawat dengan baik, seperti meja, kursi, dan perabotan rumah tangga lainnya yang digunakan oleh Sjahrir selama waktu pengasingan internal di Banda Neira.

Pada dinding-dinding rumah ini, ada gambar-gambar dan dokumen-dokumen sejarah yang memberikan wawasan tentang periode pengasingan yang sulit ini. Hal yang paling mengesankan adalah koleksi pribadi yang terpelihara dengan baik.

Saya melihat ada gramofon atau fonograf yang digunakan untuk mendengarkan musik. Ada mesin ketik, buku-buku, tulisan-tulisan, surat-surat, dan barang-barang pribadi yang ditinggalkan. Ini semua merupakan bukti otentik dari kehidupan Sutan Sjahrir selama masa sulit ini dan pemikiran-pemikiran yang beliau abadikan dalam bentuk tulisan-tulisan yang bernas.

Mesin Ketik Sutan Sjahrir. Foto: Dokumen Pribadi


Selain itu, rumah ini adalah tempat bagi Bung Sjahrir dan sesama pemimpin nasionalis berkomunikasi dengan rekan-rekan seperjuangan di dalam dan luar negeri. Mereka menggunakan surat dan komunikasi rahasia untuk terus memantau perkembangan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bukti bahwa pengasingan oleh penjajah tidak pernah sukses memadamkan semangat perjuangan mereka.

Gramofom Sutan Sjahrir. Foto: Dokumen Pribadi


Akhirnya kunjungan ini saya sudahi, dan saya pun pulang membawa pelajaran berharga, mendalam yang menginspirasi.
Pertama, kunjungan ini menghidupkan kembali dalam diri saya semangat tak terkalahkan. Dalam rumah pengasingan Sjahrir, saya melihat bukti nyata akan tekad dan semangat yang sulit dikalahkan apalagi dipadamkan.

Terlepas dari tantangan dan isolasi yang mereka alami, Sjahrir dan rekan-rekannya terus berjuang tanpa henti untuk kemerdekaan Indonesia. Ini mengajarkan kepada saya bahwa tekad yang kuat dan semangat yang membara adalah bagian penting dalam perjuangan. Pengasingan sekalipun tak akan pernah sukses meruntuhkan tekad kuat ini.

Kedua, perjalanan ini memberikan pandangan mendalam kepada saya tentang peran diplomasi dan solidaritas internasional dalam mencapai tujuan politik.

Sjahrir dan rekan-rekannya terus aktif berpartisipasi di Forum Internasional, mencari dukungan global untuk perjuangan kemerdekaan. Ini mengajarkan kepada kita bahwa betapa pentingnya diplomasi dalam mencapai tujuan politik dan bagaimana kerja sama internasional dapat membantu menggerakkan perubahan.

Ketiga, petualangan ini juga mengingatkan saya akan pentingnya melestarikan sejarah. Bangunan bersejarah dan koleksi benda pribadi yang terawat dengan baik adalah bukti otentik tentang tata laksana menjaga sejarah dan menghormati perjuangan masa lalu. Rumah pengasingan ini menjadi pengingat tentang betapa berharganya sejarah dalam membentuk identitas dan nilai-nilai anak bangsa.

Keempat, penjelajahan ini mendorong pemikiran saya tentang hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat. Pengasingan para pemimpin nasionalis adalah bukti bagaimana hak asasi manusia dan kemerdekaan berpendapat seringkali menjadi korban dalam konteks politik. Ini mengajarkan betapa pentingnya melindungi hak-hak dasar ini dan menjaga kemerdekaan berpendapat.

Terakhir, ekspedisi ini memberikan inspirasi kepada saya dan semoga juga generasi muda untuk dapat terinspirasi dengan keberanian dan semangat dalam kisah-kisah perjuangan pemimpin besar ini.

Semangat dan tekad yang diperlihatkan oleh mereka yang menjalani pengasingan adalah contoh yang kuat bagi kita semua, khususnya bagi generasi berikutnya. Bahwa sesungguhnya kita dapat menampilkan peran aktif dalam perjuangan demi perubahan yang positif. Perubahan untuk menjadi lebih baik dan membaikkan sesama.

Pada akhirnya, waktu jua yang membuktikan bahwa di dalam pengasingan selalu ada ruang untuk harapan. Semangat juang jugalah yang mampu mengalahkan semua rintangan itu.
Terima kasih sampai jumpa di petualangan berikutnya.

Makassar, 4 Oktober 2023




One Comment

  1. October 26, 2023 at 10:25 pm

    Much. Khoiri

    Reply

    Tulisan yang isinya bagus, penyampaiannya juga menarik. Penutupnya menguatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree