October 22, 2023 in Jelajah Nusantara, Uncategorized

Gereja Tua Neira

Gereja Tua Neira
Oleh Telly D.



“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia telah menjadikan kamu umat yang satu, tetapi Dia ingin menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombala berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu berselisih.” (Al-Qur’an, Surah Al-Maidah: 48)


Pekan-pekan awal Oktober 2023 saya berkesempatan menapaktilasi kembali Banda Neira. Sebuah perjalanan bertabur pengalaman penambah cakrawala tentang keagungan dan kemahaindahan Tuhan yang mematri dalam hati. Di Banda Neira pula saya mengenal lebih akrab jejak-jejak sejarah nusantara dengan panca indera saya serta nalar dan hati karunia Ilahi Robbi. Pada kesempatan ini, saya suguhkan satu dari segebok catatan perjalanan saya di Bandara Neira: Gereja ¬¬¬Tua Neira.

Papan hijau tua yang berdiri kokoh di sebelah kanan gerbang masuk gereja ini pada sudut kiri atasnya tertulis: Gereja Tua Neira. Penamaan ini pada hemat saya karena disesuaikan dengan usia bangunan dan lokasi gereja ini berada. Papan yang menandai bahwa bangunan gereja ini ditetapkan sebagai cagar budaya memberikan beberapa informasi penting. Informasi yang bagi pecinta perjalanan mengundang penelusuran akan kebenaran dan penguakan peristiwa-peristiwa serta nilai-nilai yang menyertainya serta rahasia-rahasia di balik peristiwa yang luput dari catatan sejarah.

Gereja Tua Neira. Informasi yang disematkan di papan hijau ini menyebutkan bahwa gedung gereja ini dibangun mulai 20 April 1873 oleh dua orang misionaris asal Belanda, yaitu Maurits Lantzius dan John Hoeke. Diresmikan pengunaannya pada 23 Mei 1875 oleh kedua misionaris tersebut. Letak gereja ini berada di Desa Nusantara, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Lokasinya tak jauh dari Kantor Kecamatan Banda.

Papan Nama Gereja Tua Banda Neira. Foto: Dokumen Pribadi


Seluruh bangunan gereja dicat dengan warna putih. Dengan adanya pilar-pilar tinggi di teras depan membuat gereja ini menandakan bergaya Eropa dengan langgam doria.

Langgam Doria adalah salah satu dari tiga langgam arsitektur klasik. Gaya dan bentuk bangunan seperti gereja ini diketahui sebagai langgam tertua dalam tradisi arsitektur Yunani Kuno. Dua langgam dasar lainnya adalah Ionia dan Korintus. Langgam ini adalah yang paling populer pada periode kuno (750-480 SM) di Yunani (Wikipedia).

Bangunan gereja ini berbentuk persegi panjang. Memanjang ke belakang dengan ukuran 37,75 meter dan lebar 12,86 meter. Dibangun dengan menggunakan bahan batu kapur dan batu bata. Lantai dengan bahan dari batu andesit. Atap yang saat ini telah berganti dengan menggunakan bahan seng.

Batu andesit berasal dari pembekuan magma. Sejak zaman megalitikum dijadikan tegel dan bahan batu dekorasi. Memiliki tekstur keras yang membuat batu ini lebih tahan terhadap perubahan cuaca dan suhu yang ekstrim (Wikipedia).

Gereja ini dulu merupakan pusat penyebaran dan kegiatan keagamaan Kristen Protestan di Banda Naira, disebut pula Banda Neira. Hingga saat ini kondisi gereja tua ini dipelihara dengan baik, bahkan masih digunakan untuk memberikan pelayanan kepada umat kristiani. Gereja ini sama dengan gereja Protestan lain, memiliki altar dan kursi atau bangku jemaat yang diatur seperti barisan. Digunakan untuk para jemaat duduk selama beribadah.

Tempat duduk kayu tua, menghadap ke depan menuju altar, memberikan kesan banyaknya doa dan puji-pujian yang telah dinyanyikan selama berabad-abad. Luar biasa.

Memiliki pulpit tempat pendeta atau pengkhotbah berdiri untuk memberikan khotbah yang terletak di dekat altar. Tersedia alat musik organ untuk mengiringi doa suci. Jendela kaca patri yang indah dengan gambar-gambar keagamaan bertengger di sepanjang dinding gereja. Jendela ini menghasilkan efek cahaya yang gemilang ketika sinar matahari masuk. Nuansa unsur dekoratif menghiasi dinding dan langit-langit gereja tertata secara apik dan bernilai seni tinggi. Peralatan dan pengaturan khusus untuk merayakan sakramen dan perjamuan kudus juga tersedia dan terawatt dengan baik di gereja ini.

Gereja Tua Banda Neira. Foto: Dokumen Pribadi


Ketika saya sudah berdiri di depan gereja, saya terpesona degan indahnya arsitektur klasik yang menjulang tinggi dan memancarkan keagungan. Dinding batu gereja memberikan kesan rasa keabadian dan ketenangan. Jendela-jendela kaca patri memancarkan warna-warni cahaya yang memainkan peran dalam penciptaan atmosfer yang tenang untuk bermeditasi.

Ketika saya melangkah masuk ke dalam gereja, saya merasakan suasana yang berbeda. Suasana sejuk, hening mengisi ruangan, serasa angin berhenti bertiup. Saya sampai bisa merasakan bisik-bisik telapak kaki saya.

Saya baru sadar bahwa kaki saya itu melangkah di atas pusara. Ternyata, gereja ini dibangun di atas pusara 32 orang prajurit Belanda yang tewas dalam perang penaklukan Banda.

Ini saya ketahui dengan adanya 32 identitas para perwira dan prajurit tersebut tertulis dalam Bahasa Belanda diterakan pada batu nisan lengkap di lantai yang terbuat dari batu andesit. Berjejer sepanjng lantai dengan jejeran membentuk salib. Benar-benar pengalaman baru buat saya berjalan di atas batu nisan kuburan. Merintih telapak kaki saya tak tega menapakinya.

Gereja adalah tempat ibadah yang dianggap sebagai tempat yang melambangkan kasih, pengampunan, dan perdamaian. Namun, ketika gereja itu sendiri dibangun di atas kuburan yang mengingatkan kita pada perang dan pertumpahan darah, betapa kompleksitas sejarah manusia di Banda Neira ini.

Hal ini mencerminkan ironi dalam kehidupan. Gereja, sebagai tempat untuk berdoa, merenungkan, dan mencari ketenangan, seharusnya menjadi tempat yang menekankan perdamaian dan persatuan. Namun, sejarah mencatat bahwa gereja juga telah digunakan sebagai tempat pertemuan yang menegangkan dan terkadang sebagai tempat perlindungan dalam konflik dan perang.

Gereja Tua Banda Neira. Foto: Dokumen Pribadi


Sejarah seringkali berhadapan dengan konflik dan perpecahan, bahkan di tempat-tempat yang seharusnya menjadi simbol kasih dan perdamaian. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk berubah, untuk belajar dari kesalahan, dan untuk menciptakan lingkungan yang lebih damai dan penuh kasih. Secara objektif, saya berdecak alangkah begitu cerdasnya isyarat yang ingin disampaikan oleh gereja ini ketika dibangun, saya menemukan makna itu.

Gereja ini tak sekedar bangunan fisik yang indah. Ia memiliki cerita yang dalam dan penuh perjuangan. Gereja ini telah menjadi saksi bisu dari zaman penjajahan, perdagangan rempah-rempah yang bernilai tinggi, dan pertempuran berdarah-darah yang pernah mengguncang pulau ini.

Dalam ruang yang sepi, saya bisa merasakan jejak-jejak para penjelajah, pedagang, dan penduduk asli yang hidup dan bekerja di bawah bayang-bayang gereja ini.

Ini bukan sekedar tempat ibadah dan tempat berdoa bagi generasi-generasi sebelumnya. Ini adalah tempat sejarah dan sejarah itu adalah sejarah keberanian dan ketahanan, kejayaan dan kejatuhan, serta kehidupan, dan kematian.

Ini juga sebuah perpaduan antara desain kolonial Belanda yang elegan dan unsur-unsur lokal yang khas. Interior yang indah. Langit-langit tinggi dengan kubah-kubah elegan menciptakan ruang yang terasa begitu anggun dan lapang. Menghadirkan atmosfer keagamaan yang mendalam dan penuh penghormatan.

Di gereja ini orang berkumpul untuk berdoa, merenung, dan mengalami momen keagamaan yang mendalam. Bangku-bangku panjang menghadap altar, menciptakan suasana kebersamaan dalam doa dan ibadah.

Kesan spiritualitas yang ada adalah kesan kerendahan hati, kebesaran, dan transendensi. Ini adalah tempat bagi orang-orang pencari hikmat, kebahagiaan, dan kedamaian. Tempat bagi orang-orang yang beribadat untuk iman mereka diperkuat dan jiwa mereka diisi kembali.

Kesan arsitektur gereja ini adalah kesan akan keindahan, keelokan, dan keanggunan yang ikonik. Desain yang memadukan unsur-unsur sejarah dan seni. Pengaruh bangsa koloni dan budaya lokal yang kaya menghadirkan contoh sempurna dari pengaruh kolonial Belanda ada di sana. Arsitektur yang megah dan ornamen-ornamen yang indah menciptakan atmosfer yang elegan dan mengabadikan fakta-fakta bersejarah. Namun, di samping keanggunan ini, di Banda Neira saya menemukan jejak budaya lokal yang terasa.

Gereja Tua Banda Neira. Foto: Dokumen Pribadi


Pasar-pasar lokal yang hidup menjadi cermin kehidupan sehari-hari penduduk Banda Neira. Di sini saya menemukan jajanan makanan khas dan barang-barang kerajinan tangan yang mencerminkan kekayaan budaya mereka. Penjual dengan pakaian tradisional memberikan nuansa khas yang unik.

Kesan keunikan budaya di Banda Neira adalah kesan harmoni antara dua dunia yang berbeda. Ini tempat di mana budaya Belanda dan budaya lokal bergabung dalam satu kesatuan yang memikat. Menciptakan warisan budaya yang unik dan mempesona. Ini juga mengingatkan saya akan pentingnya melestarikan tradisi dan memelihara keanekaragaman budaya di tengah tantangan zaman.

Di tengah-tengah kehidupan sehari-hari di Banda Neira, Gereja Tua Neira adalah pusat komunitas Kristiana memberi dan menerima layanan. Oleh karena itu, bukan hanya bangunan bersejarah yang menghiasi kota, tetapi juga simbol kebersamaan dan persatuan bagi penduduk setempat.

Lebih dari sekadar tempat ibadah, gereja tua ini juga menjadi pusat aktivitas sosial dan budaya di pulau ini. Gereja ini dijadikan tempat pernikahan, dan upacara keagamaan lainnya diadakan. Momen yang penuh kegembiraan dan perayaan, yang mengikat komunitas lebih erat.

Juga berfungsi sebagai tempat perlindungan dan bantuan dalam keadaan darurat. Ketika bencana alam terjadi, gereja menjadi tempat yang aman bagi mereka yang terkena dampak. Komunitas mendukung satu sama lain dan menyatukan upaya untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Gereja tempat untuk merawat ikatan antar penduduk diperkuat, tradisi dan kepercayaan diperkaya, dan kebersamaan dihargai. Keterhubungan yang erat antara gereja tua dan komunitas adalah inti dari kehidupan di pulau ini. Menciptakan kesan akan kehangatan dan persaudaraan yang mendalam.

Gereja tua tempat perlindungan bagi jiwa yang lelah. Ini adalah tempat orang dapat menghindar dari hiruk-pikuk dunia luar dan merenungkan makna kehidupan, eksistensi, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.

Ini adalah tempat yang menenangkan jiwa dan menciptakan ruang untuk refleksi yang dalam. Gereja Tua Neira tempat yang mengingatkan akan pentingnya mencari kedamaian dalam hidup yang seringkali penuh dengan kebisingan.

Mengunjungi gereja tua di Banda Neira adalah pengalaman yang berharga yang dapat merangsang rasa hormat terhadap sejarah, agama, seni, dan budaya. Bagi saya ini adalah kesempatan untuk memperdalam pemahaman tentang masa lalu dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lokal.

Makassar, 18 Oktober 2023




5 Comments

  1. October 24, 2023 at 9:53 am

    N. Mimin Rukmini

    Reply

    Subhanallah! Kemarin dua benteng, sekarang saya baca gereja tua, mantap! Jejak petualang sejati, InsyaAllah tulisan ini akan abadi menjadi bahan refleksi dan literasi negeri. Aamin Terimakasih Bun! Sungguh bermanfaat!

  2. October 23, 2023 at 10:56 pm

    Mukminin

    Reply

    Tulisan yg joz. Pdmbaca seolah-olah berada di Banda Naera. Tetima kasih

  3. October 23, 2023 at 10:54 pm

    Mukminin

    Reply

    Terima kasih saya diajak jalan-jalan ke Banda Naura Lewat tulisan Bunda TELLY yg seolah-oleh berada di sana. Tulisan kisah perjalanan yg hebat.

  4. October 23, 2023 at 10:42 pm

    Chrirs Admojo

    Reply

    Bingkisan oleh-oleh perjalanan yang mengayakan khasanah wawasan kesejarahan dan keindahan ciptaan Tuhan.

  5. October 23, 2023 at 10:32 pm

    Astuti

    Reply

    Terima kasih Puang saya sudah diajak bekelana di Pulau yang penuh sejarah kejayaan Nusantara.Semakin digali semakin banyak misteri yang terkuak dari keberadaan suatu bangunan.Saya yakin menjadi 1 buku Catatan Perjalanan yang keren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree