October 4, 2023 in Umum, Uncategorized

Ritual Pemakaman

Post placeholder image

Ritual Pemakaman
Oleh Telly D.


“Setiap budaya memiliki cara unik untuk menghormati yang telah meninggal. Ini adalah bukti kekayaan keragaman manusia dalam menghadapi kematian.” (Daswatia Astuty)

Saya baru saja menerima kabar kematian melalui pesan pendek. Seorang sahabat sejati telah meninggal. Selanjutnya, seorang teman memberikan kabar bahwa ritual prosesi pemakamannya berjalan lancar.

Almarhum pada masa hidupnya telah mengurus hingga memiliki sertifikat tanah pemakaman. Oleh karenanya, tidak menunggu lama ritual pemakaman dapat segera dilaksanakan.

Manusia adalah makhluk yang kompleks. Apa lagi, kehidupan ini selalu penuh dengan berbagai macam masalah dan tantangan. Dari masalah sehari-hari seperti pekerjaan, hubungan, kesehatan, hingga masalah yang lebih mendalam seperti pertanyaan tentang makna hidup.

Tidak ada yang bisa menghindari masalah sepenuhnya. Masalah datang dan pergi dalam berbagai bentuk sepanjang perjalanan hidup seseorang.

Pesan utamanya, adalah bahwa manusia harus menghadapi masalah dan kesulitan dengan bijak. Manusia perlu belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut dan kemudian berusaha untuk mencari solusi atau makna di dalamnya.

Cara seseorang merespons masalah, lebih khusus masalah kematian dan melakukan ritual pemakaman dipengaruhi oleh kualitas hidup mereka dan bergantung pada keyakinan dan pandangan pribadi mereka.

Ritual pemakaman memiliki banyak variasi. Rangkaian ritual yang tidak dilakukan secara kebetulan. Sangat terkait dengan keyakinan tentang hal-hal yang akan terjadi setelah kematian.

Apa yang akan terjadi setelah kematian, sepenuhnya merupakan keyakinan. Tidak seorang pun dapat membuktikan apa yang terjadi setelah kematian. Sebab belum ditemukan cara untuk membuktikannya. Kita tidak bisa menilai apakah ritual pemakaman itu sederhana, mewah, bahkan terkesan sadis sekali pun.

Apakah mayat segera dikuburkan, ditunggu dulu beberapa hari sebelum dikuburkan, dibakar atau dikremasi, dikuburkan sebelum melewati waktu tertentu, tulang-tulangnya dikumpulkan dan dilakukan ritual seperti menari bersama mayat, atau sekedar diletakkan di bawah pohon, dan dibiarkan hancur seperti di Trunyan, Kintamani, Bangli, Bali. Semuanya didasarkan pada keyakinan tertentu.

Bagaimana pun bentuk ritualnya, yang penting adalah menghormati mayat tersebut dengan melakukan ritual tertentu sebagai cara melakukan keyakinan yang dianut.

Merupakan cara dan sikap yang tidak pantas bila mayat manusia tidak dihormati dengan tidak melakukan ritual pemakaman.

Menghormati mayat manusia adalah menghormati manusia ketika hidup sekaligus matinya. Meskipun sudah merupakan tradisi sejak zaman Nabi Adam, mayat manusia memang harus diurusi sebaik-baiknya. Tidak diperlakukan seperti bangkai binatang.

Ini bukan soal bagaimana menghindari penyakit yang bisa muncul dan menyebar jika mayat dibiarkan membusuk semata. Ini soal menghormati manusia dan melaksanakan sebentuk keyakinan.

Bagi orang Tibet dan Mongolia yang hidup di ketinggian Himalaya dan sekitarnya, ritual pemakaman sungguh sangat berbeda dan terbilang unik. Mereka tidak menguburkan atau membakar mayat. Untuk membakar tidak tersedia kayu atau bahan lain karena di tempat itu pepohonan sangat langka. Bila ingin menguburkannya, sangat sulit untuk mencari tanah yang mudah digali sebab sebagian datarannya terdiri atas bebatuan yang teramat sulit untuk dikeduk dengan peralatan biasa.

Mereka kemudian mengembangkan tradisi pemakaman langit. Mayat dibawa ke puncak, didoakan oleh Bikhsu. Selanjutnya, mayat mulai dirajang jadi potongan keci-kecil dan dibiarkan dilahap oleh burung pemakan bangkai sampai habis tuntas. Tulangnya dibakar dan diberikan sebagai makanan burung lain yang lebih kecil dan tengkoraknya dijadikan wadah untuk minum.

Riual pemakaman langit dikaitkan dengan kebanyakan mereka yang menganut Budhisme Vajrayana. Dalam agama Budha aliran ini diyakini bahwa orang yang telah mati mengalami reinkarnasi, kelahiran kembali.

Budhisme Vajrayama percaya bahwa terjadi perpindahan roh setelah kematian. Karena itu, tubuh yang dianggap kendaraan bagi roh sudah tidak lagi memiliki fungsi dan arti. Tak ada kebutuhan untuk melestarikan mayat.

Pemakaman langit adalah solusi terbaik yang diyakini dan merupakan perbuatan baik bagi si mayat karena memberikan makanan bagi burung-burung. Ini sejalan dengan salah satu doa dalam ajaran Budha semoga semua makhluk berbahagia. Bukankah burung pemakan bangkai akan senang jika mendapatkan makanan. Boleh jadi pemakaman langit sebagai bentuk sedekah tubuh.

Sebenarnya ritual seperti ini bukan hanya terdapat di Tibet dan Mongolia yang menganut Budha, yaitu sengaja membiarkan mayat dilahap habis oleh burung pemakan bangkai.

Sejumlah penganut Zoroaster, keyakinan yang bermula berkembang di Persia (baca: Iran) kemudian India, melakukan hal yang sama. Mereka merajang tubuh mayat tapi menaruhnya di Menara Ketenangan (Tower of Silent) dan membiarkan burung pemakan bangkai berpesta melahap habis mayat tersebut.

Namun keyakinan yang melandasi ritual ini sangat berbeda dengan di Tibet. Kaum Zoroaster meyakini bila dikubur atau dibakar mayat akan mencemari unsur-unsur sakral di alam: tanah, air, dan api. Praktik ritual bisa memiliki kesamaan namun keyakinan yang melandasi sangat berbeda.

Masalah mulai muncul karena populasi burung pemakan bangkai sudah menyusut. Tidak gampang mencari solusi bagi masalah ini. Masalah ini tidak bersifat teknis namun terkait dengan keyakinan.

Permasalahan ternyata tidak hanya menyangkut kehidupan, juga menyangkut wilayah kematian. Bagi yang mati masalah ini tidak dirasakan, namun bagi yang ditinggal yaitu manusia yang masih hidup harus mencarikan solusi yang tepat.

Agaknya pada masa depan, kala tanah semakin langka dan mahal, ritual penguburan mayat bisa menjadi masalah. Sekarang saja beberapa pemakaman telah berlaku praktik satu lobang berisi banyak mayat.

Karena keterbatasan lahan untuk kuburan, mereka yang telah memiliki keluarga di pemakaman itu diperkenankan untuk mengubur mayat baru satu kuburan dengan mayat yang lama.
Fakta ini menjelaskan bahwa betapa banyak masalah yang mesti dihadapi manusia, setelah meninggal sekalipun.

Makassar, September 2023




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree