August 14, 2023 in Jelajah Nusantara, Uncategorized

Perjalanan Mudik ke Pulau Tomia

Perjalanan Mudik ke Pulau Tomia
Oleh Telly D

Pulau Tomia Wakatobi. Sumber: www.pegipegi.com


Tomia adalah salah satu pulau besar yang berada dalam gugusan Kepulauan Tukang Besi di wilayah Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara.

Nama Wakatobi adalah akronim dari Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Pulau Tomia terletak di selatan Pulau Kaledupa dan di sebelah utara Pulau Binongko.

Pulau Tomia tebagi atas 2 kecamatan, yaitu Tomia, dan Tomia Timur. Suami saya anak pesisir pulau yang lahir di Usuku Tomia Timur. Keluarga besar dan rumah induk kami masih ada di sana. Hal itu yang menjadikan Pulau Tomia adalah tempat mudik bagi kami sekeluarga.

Keberuntungan yang luar biasa. Mudik di kampung halaman yang jadi Taman Nasional Wakatobi. Mudik jadi lebih menarik, selalu menjadi hal yang kami tunggu-tunggu. Tidak hanya untuk menjalin silaturahim namun juga syarat dengan muatan wisata.

Taman Nasional Wakatobi adalah salah satu kawasan dengan jumlah terumbu karang dan spesies ikan terbanyak di dunia. Keindahan alam bawah laut, fantastis karena dihuni sekitar 750 jenis terumbu karang, dan juga dihuni ikan sebanyak 942 jenis dengan beragam biota laut lainnya.

Bandingkan dengan Bunaken yang hanya memiliki 390 terumbu karang dan 90 spesies ikan yang menghuninya. Susah mencari tempat yang mampu menandingi keindahan bawah laut Wakatobi.

Namanya masuk dalam 5 daftar tempat yang terindah untuk menyelam di Indonesia (Wakatobi, Raja Ampat, Pulau Komodo, Pulu Talimben Bali, Taman Bunaken, dan Pulau Weh-Aceh).

Keindahannya disejajarkan dengan The Great Barrieer Reef Australia, Great Blue Hole Balize, Rainbow Reef Fiji, Cozumel Mexico, Fernando de Noronha Brasil, Sipadan Malaysia dan Pulau Maayaa Thila Meladewa.

Keragaman terumbu karang, berbagai jenis ikan dan biota laut itu, menjadi daya tarik yang luar biasa bagi para wisatawan, terutama para wisatawan pencita menyelam.

Khusus untuk pulau Tomia, terdapat sekitar 28 spot diving. Di antaranya Ali Reef, Roma (terumbu karang warna warni di kedalaman 15-20 meter, aman untuk penyelam pemula), Cornucopia (terumbu karang yang tampak seperti tembok vertikal di kedalaman antara 20 hingga 55 meter, hanya untuk penyelam yang ahli), House Reef, Teluk Maya, dan lain-lain.

Pesona air perairan di sekitar Pulau Tomia tergolong jernih, sehingga visibilitas perairannya pun bisa mencapai 15 meter yang akan memudahkan untuk melakukan aktivitas snorkling dan diving.

Keindahan bawah laut pulau tomia. Sumber: tirto.id


Bukan hanya keindahan bawah lautnya saja yang mengagumkan, hamparan alam Pulau Tomia pun memiliki daya tarik tersendiri. terdiri dari bukit-bukit serta hamparan savana yang membentang luas. Terdapat situs bersejarah seperti Benteng Patua.

Sebelumnya gugusan kepuluan tukang besi ini susah dikunjungi jika mudik. Masih sangat terisolasi. Belum ada akses pesawat udara. Alternatifnya hanya dengan naik kapal layar yang bermesin dengan jarak tempuh 1 hari 1 malam dari Baubau atau dari Kendari.

Pemandangan dari Puncak ke Arah Laut. Foto: Dokumen Pribadi


Namun sejak tahun 2002, pembangunan fasilitas termasuk pembangunan transportasi dilakukan secara besar-besar. Wakatobi telah terbuka ketika ditetapkan sebagai Taman Nasional dan menjadi salah satu prioritas tertinggi konservasi laut di Indonesia dan menjadi tujuan wisata Internasional.

Kondisi sekarang sudah berbeda. Banyak rute dan pilihan alat tranportasi yang dapat digunakan. Mulai dari pesawat udara, kapal laut, kapal pelni, speedboat, kapal Ferri sampai dengan naik mobil adalah kemudahan-kemudahan yang disiapkan oleh pemerintah.

Ada 3 rute untuk ke Pulau Tomia. Rute Bali, rute yang terpendek. Naik pesawat dari Bandara udara Ngurah Rai Denpasar ke bandara Maranggo Tomia.

Rute Kendari dapat naik pesawat udara atau kapal laut menuju Pulau Wangi-wangi untuk seterusnya ke Pulau Tomia.

Rute dari Baubau dapat naik pesawat udara atau kapal laut atau mobil menuju Pulau Wangi-wangi untuk seterusnya ke Pulau Tomia.

Tahun ini saya mudik setelah beberapa tahun terakhir tidak melakukan mudik. Saya memilih rute Baubau. Naik pesawat dari bandara udara internasional Sultan Hasanuddin Makassar menuju bandara Betoambari Baubau, selama 45 menit.

Bandara Betoambari sudah berubah sekali. Telah didandani lebih bagus dari sebelumnya, terkesan Bandara Betoambari telah disiapkan untuk menerima kunjungan wisata turis domestik dan mancanegara.

Kemudian saya meneruskan perjalanan naik mobil selama 1,5 jam menuju Pasarwajo. Dari pelabuhan Banabungi Pasarwajo, saya naik kapal Cantika Anugerah selama 2 jam ke pelabuhan Panngulubelo Wanci. Wanci adalah ibu kota kabupaten Wakatobi yang terletak di Wangi-Wangi.

Kapal Cantika Anugerah, kapal penyeberangan yang besar mampu memuat penumpang sekitar 200 orang lebih berlantai 2, di dalamnya ada kursi-kursi yang dijejer seperti bioskop. Semua menumpang menghadap satu arah ke depan dan di depan itu ada pesawat TV yang dipasang. Tidak ada siaran TV selama kapal berlayar saat itu. Ada toilet untuk pria dan wanita yang disiapkan dalam kondisi bersih.

Dua jam perjalanan, sebagian besar waktu saya habiskan dengan duduk sambil tertidur di kursi kapal yang empuk dalam ayunan gelombang.

Saya tiba di pelabuhan Panngulubelo, namun harus bersegera berpindah ke pelabuhan Nimala. Pelabuhan kecil tempat penyeberangan antar pulau untuk kapal-kapal kecil.

Hanya tersedia waktu yang sedikit untuk melakukan perpindahan dari pelabuhan ke pelabuhan sehingga sangat tergesa-gesa. Waktu untuk berlayar kapal Sadewa Perintis menuju Pulau Tomia hampir bersamaan dengan waktu tibanya kapal Cantika Anugerah dari Pasarwajo. Kelihatannya belum ada koordinasi jadwal antara sesama pemilik kapal.

Dengan Kapal Sadewa Perintis saya menuju pulau Tomia. Selama 2 jam. Tidak ada aktivitas lain yang dapat dilakukan selain duduk. Akhirnya saya tiba di pelabuhan Waiti’i Tomia.

Rute panjang namun nyaman dengan kapal yang bersih dengan durasi waktu yang singkat. Ini perjalanan pertama saya mudik dalam sehari sudah dapat tiba di Pulau Tomia.

Dulu jarak Makassar Baubau dengan kapal Pelni saya menempuhnya sehari semalam. Jarak Baubau ke Pulau Tomia dengan kapal layar bermesin saya menempuhnya juga sehari semalam.

Kapal Cantika Anugerah dan Sadewa Perintis membuat saya serasa tidak berlayar. Saya hanya duduk-duduk saja sambil terkantuk-kantuk, iidak ada yang membedakan dengan berkendaraan mobil di darat. Selain goyangan ayunan gelombang.

Pelabuhan Banabungi Buton. Foto: Dokumen Pribadi


Di kapal penyeberangan saya berada dalam ruangan yang berdinding dan beratap. Saya terpisah dengan alam. Kapal hanya memiliki jendela kecil tempat saya bisa mengintip keluar dengan kemampuan pandang yang sangat terbatas.

Saya tidak lagi bisa merasakan tiupan angin laut yang membawa aroma garam. Kulit saya tidak merasa terpanggang oleh sinar matahari di pagi hari, dan tidak dapat menikmati asinnya air hujan yang menetes di wajah.

Kapal dengan kekuatan mesin yang besar, membuat saya tidak merasakan kecemasan jika dinding kapal tidak mampu menahan gempuran ombak yang menguji keberanian dan iman kami untuk bergantung pada sang Maha Kuasa.

Berlayar dengan waktu yang singkat, saya kehilangan waktu tidur leyeh-leyeh di kapal malam hari dengan beratap langit. Terlentang sambil menghitung bintang dan belajar tentang rasi bintang dan kompas alam sambil menikmati romantisme perjalanan.

Saya praktis kehilangan kesempatan menikmati matahari terbit dan matahari terbenam dari atas perahu, sambil berselimut sarung, duduk mencakung di anjungan kapal dan menghirup kopi panas.

Hal yang paling sensasional adalah saya kehilangan kawalan berpuluh ikan lumba-lumba sepanjang perjalanan. Dulu ikan lumba-lumba menjadi selebriti yang menghibur kami yang sementara bertarung melawan ganasnya samudera.

Ke mana ikan lumba-lumba itu? Saya tidak melihatnya lagi. Saya ingin menikmati kembali loncatan-loncatan aktraktifnya di udara yang berganti-gantian dalam kelompoknya. Menikmati suara cuitan mulutnya yang mengeluarkan bunyi siulan yang khas menyampaikan keindahan alam yang dihuninya.

Laut sudah sepi, burung-burung laut terbang menjauh, tidak ada tiang layar untuk dia hinggapi. Semua hanya tinggal kenangan. Kehadiran kapal-kapal besar berteknologi maju dengan kenyaman buatan telah merampas kebahagiaan saya menyatu dengan alam.

Pelabuhan Banabungi Buton. Foto: Dokumen Pribadi


Kapal Sadewa merapat di dermaga. Dulu kami tidak mampu merapat di dermaga, sehingga hanya bisa melego jangkar di perairan di luar dan jauh dari dermaga.

Saya kehilangan kesenangan memanggil perahu-perahu kecil untuk datang menjemput, dengan cara menangkupkan kedua tagan di depan mulut seperti trompet dan meneriakkan…… kolikoli atuna……. kolikoli atuna… kolikoli atuna……..sekeras-keras kemampuan yang saya dapat lakukan. Gema suara saya memberi sinyal ’’kami datang dan butuh perahu untuk menjemput.’’

Betapa sensasionalnya melihat perahu perahu kecil itu berlomba-lomba mendatangi kapal layar kami. Kapal kami bak kue bolu yang dikerumuni semut koli-koli didayung oleh lengan- lengan kecil anak negeri yang kulitnya legam karena terbakar matahari.

Pelabuhan Wanci . Foto: Dokumen Pribadi


Saya kehilangan hangatnya sambutan pelukan dan sapaan keluarga di dermaga. Mereka selalu berjejer menanti kedatangan saya karena menghargai betapa susahnya perjuangan untuk tiba di kampung halaman.

Anak saya suka sekali hal ini sehingga selalu mengatakan jika mudik ke kampung dia seperti selebriti yang dielu-elukan kedatangannya. Mereka bangga mengatakan dirinya “Sinbad si Pelaut” karena nenek moyangnya seorang pelaut sejati.

Demikianlah hidup ini tidak ada yang abadi dan tidak ada yang gratis. Kemajuan pembangunan ada banyak hal yang menjadi bayarannya.

Sekarang dengan kemudahan fasilitas transportasi, kepulangan atau mudik bukan lagi hal yang sakral, bukan lagi kepulangan yang dielukan-elukan sekampung bahkan bukan kepulangan yang dijemput pakai seremonial tari eja-eja. Sekarang mudik hanya seperti kepulangan biasa yang setiap saat bisa saja dilakukan.

Mudik tahun ini terasa lain. Saya tiba di titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, hangatnya pelukan kasih sayang, tulusnya sapaan kekeluargaan dan kepedulian hidup bersama. Kehilangan membuat saya belajar untuk menerima dan mensyukuri apa yang masih saya miliki.

Tomia, Mei 2022




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree