April 16, 2023 in Umum, Uncategorized

Pamer Kekayaan Vs Pamer Kesalehan

Post placeholder image

Pamer Kekayaan Vs Pamer Kesalehan

Oleh Telly D

Masih ingat Pamer gaya hidup mewah yang dilakukan Muhammad Yusuf Ardhi alias Mario Dandy yang diposting di akun Instagram pribadinya.

Tindakan ini menuai kritik dan kontraversin di kalangan masyarakat Indonesia. Tindakan ini memunculkan pertanyaan tentang etika dan moralitas perilaku pamer kekayaan di tengah masyarakat Indonesia yang masih terus berjuang untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dan sosial yang besar.

Di lain pihak. Sedekah adalah salah satu bentuk amal yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, beberapa orang memanfaatkan momen sedekah untuk pamer di media sosial.

Mereka menunjukkan sejumlah uang yang mereka sumbangkan, atau mengunggah foto saat menyerahkan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Meskipun tindakan ini baik, pamer sedekah dapat mengurangi nilai keikhlasan dari amal yang dilakukan.

Pamer kekayaan dan pamer kesalehan adalah dua fenomena sosial yang dapat kita temukan di berbagai kalangan masyarakat. Namun, kedua fenomena ini sangat berbeda sehingga memiliki dampak yang berbeda pula.

Pamer kekayaan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin menunjukkan status sosial mereka kepada orang lain. Hal ini seringkali dilakukan dengan cara memamerkan barang-barang mewah seperti mobil, perhiasan, atau properti yang dimiliki.

Tujuan dari pameran kekayaan ini adalah untuk mendapatkan pengakuan dan rasa hormat dari orang lain. Namun, seringkali pameran kekayaan ini juga disertai dengan sifat sombong dan meremehkan orang lain yang tidak sekelas dengan mereka.

Berbeda dengan pamer kesalehan dilakukan oleh orang-orang yang ingin menunjukkan kebajikan mereka. Hal ini seringkali dilakukan dengan cara memperlihatkan kegiatan keagamaan yang mereka lakukan seperti sholat, membaca Al-Quran, atau berzakat.

Tujuan dari pamer kesalehan ini adalah untuk mendapatkan pujian dan penghargaan dari orang lain. Namun, seringkali pamer kesalehan ini juga disertai dengan sifat riya atau kesombongan yang justru dapat merusak kebajikan yang mereka tampilkan.

Fenomena ini sama-sama memiliki dampak yang signifikan terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat. Namun, jika kita melihatnya dengan lebih kritis, ada beberapa perbedaan mendasar antara kedua fenomena tersebut.

Pamer kekayaan cenderung dilakukan oleh orang yang ingin menunjukkan status sosialnya. Orang tersebut seringkali ingin dilihat sebagai orang yang kaya dan sukses, sehingga ia akan memamerkan harta benda yang dimilikinya.

Sementara itu, pamer kesalehan dilakukan oleh orang yang ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang religius dan taat beragama. Orang tersebut seringkali akan memamerkan ritual ibadah yang ia lakukan, seperti puasa, shalat, sedekah dan membaca Al-Quran.

Namun, jika dilihat dengan lebih kritis, ada perbedaan mendasar antara kedua fenomena ini.

Pamer kekayaan seringkali dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kesadaran sosial yang baik. Mereka tidak memperhatikan bahwa banyak orang yang hidup dalam kemiskinan dan mereka justru berusaha menunjukkan bahwa mereka lebih baik dari orang lain karena memiliki harta benda yang lebih banyak.

Di sisi lain, pamer kesalehan seringkali dilakukan oleh orang yang memang ingin meningkatkan kualitas hidupnya dalam agama. Mereka memperhatikan kesadaran sosial dan berusaha menunjukkan kepada orang lain bahwa hidup taat beragama adalah cara hidup yang lebih baik.

Namun, keduanya juga memiliki dampak negatif pada masyarakat. Pamer kekayaan dapat menimbulkan rasa iri dan tidak nyaman pada orang lain, terutama pada mereka yang tidak seberuntung orang yang pamer kekayaan tersebut.

Sementara itu, pamer kesalehan juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama jika pamer kesalehan tersebut dilakukan dengan cara yang berlebihan dan merugikan orang lain.

Solusi terbaik untuk mengatasi kedua fenomena ini adalah dengan meningkatkan kesadaran sosial masyarakat. Orang harus memahami bahwa hidup bermasyarakat tidak hanya tentang memiliki harta benda atau hidup taat beragama.

Namun juga harus memperhatikan dan membantu orang lain, membangun hubungan yang baik, dan menjaga harmoni di antara kita.

Hal ini dapat dicapai dengan cara memperkuat nilai-nilai moral dan meningkatkan kesadaran sosial dalam diri setiap orang.
Jika setiap orang dapat memahami hal ini, maka pamer kekayaan dan pamer kesalehan tidak akan menjadi fenomena sosial yang merugikan masyarakat.

Makassar 25 Maret 2023




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree