February 2, 2023 in Catatan Harian Nadhira, Uncategorized

Nadhira Anak Dara Pa’jokka

Nadhira Anak Dara Pa’jokka
Oleh Telly D

Pa’jokka berarti suka jalan. Anak dara pa’jokka bermakna anak gadis suka berjalan atau menikmati perjalanan. Julukan ini diberikan sendiri oleh ayahbundamu setelah melihat keriangan Nadhira setiapkali berada di luar rumah atau dibawa berjalan.

‘’Nadhira riang jika dibawa berjalan.’’
‘’Nadhira menikmati dan tidak rewel jika berjalan.’’
‘’Nadhira justru tenang bahkan tidur jika dibawa berjalan.’’

Nadhira senang diajak berjalan. Foto: Dolumen Pribadi

Ungkapan-ungkapan sederhana yang ibunda-Zieha ucapkan memuji kesenangan Nadhira berada di luar rumah. Itu yang membuat Nadhira punya daftar panjang berjalan bersama ayahbunda.

Sejak usiamu masih dalam hitungan hari sampai sekarang, daftar berjalanmu semakin panjang. Puang Ina akhirnya membenarkan julukan anak dara Pa’jokka yang diberikan oleh ayahbunda.

Cerita pa’jokka dimulai ketika usia Nadhira, baru saja keluar rumah sakit setelah 12 hari berada di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Kamu masih sangat mungil dan bayi yang masih merah, demikian cara kami katakan bagi bayi yang baru lahir.

Ketika Nadhira keluar dari Rumah Sakit langsung menemui Puang Bapak. Foto: Dokumen Pribadi


Ayahbunda menjemput Nadhira di rumah sakit bukan dibawa pulang langsung ke rumah kita di Jalan Monumen Emmy Saelan III/27 Makassar. Ayahbundamu justru membawa Nadhira naik mobil masuk kota Makassar menyapa Puang Bapak di rumah induk di Jalan Lembu No 28 Makassar.

Di rumah induk semua menyambut dengan senang penampilan perdana Nadhira. Puang Bapak menghargai kedatangan cicitnya. Nadhira dijemput langsung dengan suka hati dari mobil, menggendong dan mendoakan Nadhira.

Ayahbundamu sudah tidak sabar lagi, tidak mau ketinggalan waktu mengenalkanmu kepada dunia yang luas yang tidak sesempit rahim ibu atau seluas ruang Nicu di rumah sakit.

Puang Ina setuju saja waktu itu. Bahkan Puang Ina ada di rumah induk di jalan Lembu menunggu kedatanganmu. Puang Ina tenang-tenang saja karena mobil yang Nadhira tumpangi mobil ayah-Ifat, dijamin steril dan rumah Puang Bapak yang akan Nadhira datangi juga bisa dijamin bersih.

Namun, jadi lain ketika dua hari kemudian usiamu baru 14 hari ayahbundamu bertekad membawa Nadhira ikut menghadiri pertemuan makan malam keluarga di salah satu restoran terbaik di Kota Makassar, itu bukan pilihan yang baik.

Hal itu jelas menabrak tradisi Puang Ina di Indonesia. Anak bayi menghindari keluar rumah sebelum usia mencapai 40 hari. Masih sangat sensitif untuk terjangkit penyakit.

Pertimbangan berikutnya Nadhira bukan bayi yang lahir dengan proses normal, ada proses lain yang memerlukan penanganan khusus, sehingga masih terus memastikan kondisimu dalam kondisi normal saja dulu.

Namun, melihat keyakinan ibunda-Zieha, membuat Puang Ina memberi restu sekalipun tetap waspada.

Menurut ibunda-Zieha, Nadhirah bayi yang ‘strong’ dan sudah teruji ketahanannya bertarung berebut maut sejak lahir. Bakat ketahanan tubuh yang Nadhira miliki mesti dilatih terus. Betapa pemberani dan yakinnya ibunda-Zieha dengan kemampuan yang Nadhira miliki.

Jika ibunda-Zieha memiliki keyakinan yang demikian kuat, tentu Puang Ina mesti percaya itu. Puang Ina sangat percaya ikatan hubungan ibu-anak yang selalu terhubung dengan baik.
Anak adalah bagian dari tubuh seorang ibu sehingga ibulah secara alami orang yang paling mengetahui kemampuan dan kelemahan dari bagian tubuh itu.

Cucuku Nadhira
Luar biasa reaksi semua orang melihat kamu datang dalam pertemuan keluarga itu. Semua orang terpekik takjub. Tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa kamu yang baru saja lahir datang menghadiri makan malam itu. Kamu tercatat sebagai anggota keluarga termuda yang hadir di pertemuan makan malam itu.

Semua senang melihat kamu datang, sangat surprise. Namun, juga bercampur cemas karena takut dengan kondisi kesehatanmu yang baru lahir apalagi kondisi umum ketika itu masih dalam tahapan akhir pandemi covid 19.

‘’Anakku, kami senang sekali kamu datang tapi lebih senang jika kamu tidak datang,” ucapan penyambutan versi dokter Yusril, sambil menyentuh pipimu. Kamu tertidur saja dengan tenang. Tidak terusik dan peduli dengan kecemasan semua orang.

Ketika itu, Puang Ina melihat semua orang dalam ruangan yang berprofesi dokter kesehatan melongo berusaha menahan diri.

‘’Mengapa kamu bawa cucuku nak. Itu sangat beresiko, sadarkah kamu? bisik Puang Bapak sambil memeluk Puang Ina.”

‘’Ayahbundanya yang menginginkan tentu saya harus menghargainya,’’ balas Puang Ina juga dengan berbisik.

Puang Baji langsung mengamankan kamu, mengambil alih keadaan, menggendongmu dari gendongan ayah. Puang Dedi menyambutmu dengan teriakan ‘’semua yang menyentuh anak Nadhira memastikan diri masker terpasang dengan baik,’’ demikian ketakutannya Puang Dedi.

Akhirnya dalam pertemuan keluarga, kamu yang menjadi pusat perhatian. Semua orang ingin mengenal wajahmu dan menyentuh tubuhmu yang mungil. Nadhira berada dalam kerumunan keluarga yang tidak mampu dihindari.

Ada cerita akhir pada saat selesai pertemuan itu. Beberapa keluarga yang menghadiri kena batuk dan demam (termasuk Puang Ina, Puang Ida, dan ayahbundamu). Beredar rumor bahwa kami kena Covid versi baru. Namun, kau satu-satunya di rumah yang tidak terpapar. Daya tahan tubuhmu memang sebagus keyakinan ibunda-Zieha.

Sejak itu ayahbundamu tak terbendung membawamu ke mana saja aktivitasnya, termasuk berjalan-jalan ke Mall, makan di restoran, dan bertemu dengan kolega. Di mana ada ibunda-Zieha maka di situ ada anak Nadhira. Kamu ibarat anak kangguru yang kemana-mana dengan ibunya.

Nadhira ikut ke rumah makan. Foto: Dokumen Pribadi


Nadhira menikmatinya dengan riang, kamu suka berada dalam keramaian. Nadhira bahkan bisa tidur nyenyak sambil berjalan, tidur di atas meja restoran atau di mobil tidak ada masalah untukmu. Jadwal tidur, jadwal minum susu, bahkan jadwal pubmu juga tidak terganggu.

Di usiamu yang baru satu bulan lebih kamu sudah dibawa berwisata ke Pantai Bara yang jarak tempuhnya 3 – 4 jam. Berbaring di atas pasir putih, menikmati suara ombak, desah angin laut, dan berjemur di bawah sinar matahari pagi.

Nadhira ikut menikmati Panorama Pantai Bara, Bulukumba. Foto: Dokumen Pribadi


Nadhira juga pernah terlibat dalam kemacetan banjir yang membuat kita terperangkap dalam arus air yang mengalir di jalan selama 12 jam dalam kondisi hujan lebat disertai badai.

Nadhira hanya rewel karena lapar. Puang Do yang mengemudi ketika itu, harus ke luar mobil mencari air panas guna mengencerkan susumu di tengah hujan badai. Kamu gelisah karena mobil stop. Nadhira rupanya bisa membedakan jika mobil berjalan. Puang Ina sangat cemas ketika itu.

Namun, sampai di rumah Nadhira hanya meneruskan tidur yang tertunda dengan mendengkur halus. Memberi isyarat bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan.

Kamu tahu cucuku, beberapa hari setelah itu Puang Do masih selalu menelepon untuk memastikan kondisimu baik-baik saja. Betapa cemasnya Puang Do, dan betapa luar biasa daya tahan tubuhmu.

Apa yang membuat Nadhira bisa setenang dan senyaman itu dalam perjalanan?

Itu karena ayahbundamu bijak memilih jam perjalanan yang tepat, memilih barang bawaan secara cermat, menjaga kebersihan dan kenyamanan selama perjalanan.

Ibunda-Zieha memilih waktu perjalanan yang beririsan dengan jam tidur Nadhira. Dengan begitu bosan dan rewel selama perjalanan bisa diantisipasi sejak awal.

Jika Nadhira tidak tidur selama perjalanan, ibunda-Zieha mengalihkan perhatiannya dengan minum susu yang sudah tersedia. Dengan begitu, kemungkinan Nadhira rewel atau menangis karena lelah dan bosan bisa diminimalisir.

Nadhira dengan Perlengkapan Travelling. Foto: Dokumen Pribadi


Selalu tersedia perlengkapan anak yang ramah untuk dibawa traveling (Stroller ukuran kabin, Sterilizer portable, Car seat Cooler bag. Changing pad, Termos, Tisu basah dan kering dan lain-lain).

Kemudian mengusahakan perjalanan Nadhira tidak lebih dari 6 jam. Jika harus lebih maka melakukan pemberhentian di tempat singgah beberapa kali sehingga Nadhira dapat bergerak-gerak dan mendapat suasana baru sebelum melanjutkan perjalanan.

Cucuku Nadhira
Banyak yang menganggap, traveling dengan bayi tidak akan memberikan pengaruh apa-apa pada hidupnya kelak. Bayi dianggap belum memiliki kemampuan mengingat pada saat itu, sehingga mengajak anak traveling saat bayi, banyak dipandang sebagai sesuatu yang sia-sia.

Menurut berbagai penelitian dan beberapa ahli, ’’anak baru mulai mengingat pengalamannya di atas usia 4 tahun. Jadi memang sangat mungkin anak bayi tidak mengingat pengalamannya.”

Namun, tidak ada yang percuma membawa Nadhira traveling. Puang Ina melihat manfaat yang bisa didapat ketika mengajak Nadhira traveling, adalah menciptakan hubungan yang mesra antara Nadhira dengan ayahbunda.

Traveling dengan Nadhira membuat Nadhira terus berada bersama ayahbunda, dan ini membuat kamu lebih nyaman. Hubungan mesra bisa tercipta, dan ini adalah fondasi bagi Nadhira bertumbuh kembang dengan optimal.

Hal yang paling penting bukan kemana tujuan ayahbunda dan Nadhira berlibur, namun kenyamanan Nadhira dengan ayahbundalah yang penting.

Manfaat lain mengajak Nadhira traveling, di antaranya adalah saat Nadhira telah dewasa, foto-foto perjalanannya bisa ditunjukkan kembali, sambil menyampaikan bahwa Nadhira pernah ke tempat tersebut.

Nadhira akan merasa bahagia dan bangga karena Nadhira pernah mengunjungi berbagai tempat ketika masih usia dini.

Pengalaman yang menakjubkan tentunya yang diharapkan menguatkan dan menginspirasi perjalanan-perjalanan berikutnya.

Cucuku orang yang gemar berjalan, Puang Ina yakin memiliki wawasan yang lebih luas dibanding dengan orang yang tidur-tiduran saja.

Mereka Cenderung lebih fleksibel, lebih pandai bergaul (bukan katak dalam tempurung). Kemampuan adaptasinya lebih cepat (karena di setiap tempat ada perbedaan), biasanya menguasai lebih dari 1 bahasa, dan sebagainya, betapa bermanfaatnya.

Cucuku Nadhira
Sesungguhnya hidup ini adalah perjalanan. Perjalanan yang membutuhkan tujuan yang hendak dicapai. Menetapkan tujuan bukan bagian yang sulit cucuku. Bagian tersulit, datang selama perjalanan mencapai tujuan itu, itulah yang sering orang katakan hidup ini penuh tantangan, memiliki liku-liku dan pasang surut.

Namun, jangan pernah menyerah. Jangan pernah melewatkan bagian terbaik. Kesulitan adalah bagian terbaik dari perjalanan yang harus Nadhira nikmati di setiap langkahnya. Pengalaman yang diperoleh akan menguatkan kakimu melangkah dan mematangkan dirimu, membuat Nadhira lebih mengenal kemampuan dan kelemahan diri.

Untuk melewati perjalanan tersulit, Nadhira hanya perlu mengambil satu langkah pada satu waktu, dan tetap terus melangkah.

Jangan pernah takut melangkah, sebab Allah telah memperlengkapi Nadhira dengan baik. Kamu hanya memanfaatkan bakat dan karunia itu dan membiarkannya berkembang dengan baik.

Dalam perjalanan hidup ini, Nadhira akan bertemu orang-orang yang akan membuatmu merasa layak hidup. Bersikaplah baik kepada semua orang dan selalu tersenyum. Hindari membuat masalah karena hidup adalah perjalanan yang harus dialami dan dinikmati bukan masalah yang harus dipecahkan.

Makassar, 13 Januari 2023




One Comment

  1. February 3, 2023 at 7:09 am

    Much. Khoiri

    Reply

    Tulisan yang mantap tentang Nadhira. Fotonya bikin kangen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree