January 18, 2023 in Catatan Harian Nadhira, Uncategorized

Tali Asih Eyang Momih

Tali Asih  Eyang Momih

Oleh Telly D

25 Desember 2022

Cucuku Nadhira.

Tulisan ini tentang persaudaraan nenek (Puang Inamu) dengan Ibu Ganung yang telah memberimu Tali Asih sebentuk gelang emas dalam rangkaian acara Mapparola Ayah-Bundamu.

Siapa Nenek Ganung bagi keluarga kita?

Nenek Ganung (Eyang Momih, begitu cara Tasya dan Lufi cucunya memanggil) adalah sahabat nenek (Puang Ina) yang berdiam di Yogyakarta. Puang Inamu sudah mengenalnya jauh sebelum Puang Ina bekerja di Yogyakarta.

Eyang Momih Menggendong Cucu (Tasya). Foto: Dokumen Pribadi

Ketika itu Puang Inamu berdiam di Makassar dan kami berdua baru saja memulai belajar hidup, bekerja membangun karir dan membina keluarga. Persahabatan yang dijalin dengan banyak perbedaan, (usia, suku, tempat tinggal, dan karakter).

Perkenalan yang panjang, awalnya hanya teman biasa yang berproses jadi sahabat, kemudian berkembang menjadi teman kerja atau kolega dan terakhir kami menyatakan diri saudara sekalipun kami tidak sedarah.

Banyak proses jatuh bangun yang menguji kesetiaan, kebersamaan, kemurnian persahabatan kami. Khususnya ketika Puang Ina yang β€˜β€™Yunior’’ karena promosi jabatan harus datang memimpin Eyang Momih yang β€˜β€™Senior’’ dan sudah melegenda di lembaga Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidkan (PPPPTK) Matematika Yogyakarta.

Faktanya, sebelum Puang Inamu datang memimpin, Eyang Momih telah sukses membawa lembaga itu meraih beberapa penghargaan bergengsi untuk kinerja sebuah lembaga pemerintahan.

Saat itu Eyang Momih mengajari Puang Ina ketulusan dan kebesaran jiwa. Eyang Momih merangkul Puang Ina dengan segenap kasih sayang dan membimbing Puang Ina agar bisa sukses juga mempimpin. Puang Ina dijaga bak seorang Kakak (Mbakyu) yang melindungi adiknya.

Puang Ina dan Eyang Momih, Persaudaraan yang dilahirkan dari ibu yang berbeda. Foto: Dokumen Pribadi

Lebih jauh lagi Eyang Momih meneladankan pada semua orang yang ada di dalam lembaga itu untuk ikut menghormati dan memuliakan saya sebagai pimpinan seperti caranya memuliakan dan menghormati saya.

Itu yang membuat Eyang Momih termasuk orang yang Puang Ina sangat hormati dan muliakan, dipercaya untuk berbagi suka dan duka. Persaudaraan kami dilandasi rasa tulus, hanya mengenai kebersamaan, kasih sayang, dan kesetiaan, bebas dari pangkat, jabatan, dan kekuasaan.

Nenek Puang Inamu selalu memposisikan diri sebagai adik dari Eyang Momih. Eyang Momih menyapa Puang Ina dengan panggilan yang tetap Bu Das dan Puang Ina menyapanya dengan panggilan Mbakyu atau Mbak Ganung.

Nama lengkap sebenarnya Dr. Ganung Anggraini, M.Pd., sorang pakar Matematika. Memiliki 2 orang anak dan dua orang cucu. Sampai Puang Ina tulis cerita ini Eyang Momih masih aktif mendarma baktikan ilmunya di salah satu Perguruan Tinggi Swasta yang terkemuka di Yogyakarta.  Puang Ina selalu merasa bangga memiliki saudara semulia Eyang Momih.

Harusnya Eyang Momih datang ketika rangkaian acara perkawinan Ayah-Bundamu dilakukan, sehingga kamu bisa mengenalnya langsung dan Eyang Momih bisa mendoakan dan menggendongmu. Kebiasaan baik Eyang Momih, menghadiri setiap hajatan yang Puang Ina lakukan.

Namun, kesehatan Eyang Momih tidak sebagus dulu lagi. Eyang Momih baru saja keluar ofname dari rumah sakit, masih memerlukan waktu untuk memulihkan kesehatannya, dan juga mengejar ketinggalan tugas-tugas mengajarnya yang terhenti ketika Eyang Momih sementara sakit.

Eyang Momih mengirim Gelang Emas sebagai Tali Asih. Saya yakin, sekalipun Eyang Momih tidak hadir, namun tidak mengurangi makna sebab doanya selalu hadir. Eyang Momih selalu mendoakan kesehatan dan perkembanganmu dari jauh, Puang Ina sangat yakin hal itu.

Cucuku Nadhira.

Dalam adat suku Bugis, anak wanita itu mendapat perlakuan istimewa. Kegembiraan memiliki anak wanita diwujudkan dengan memberikan perhiasan emas dalam tahap-tahap tertentu berupa gelang, cincin, kalung, dan sebaginya.

Nenek Puang Ina dengan cucu Nadhira. Foto: Dokumen Pribadi

Tahapan yang dimaksud adalah ketika lahir, aqiqah, khatam Al-quran, masuk sekolah, tamat sekolah, menikah, dan beberapa hal yang dapat dijadikan alasan untuk memberi perhiasan emas. Itu yang membuat wanita Bugis punya banyak koleksi perhiasan emas.

Bagi orang Bugis, perhiasan emas bukan sekedar benda berharga untuk mempercantik penampilan, namun tanpa disadari memiliki arti mendalam di baliknya. Terlebih jika yang memberi orang tersayang atau orang tua kita.

Memberi perhiasan bisa jadi sesuatu yang bermakna, misalnya Nadhira lagi diberi perhiasan emas oleh Eyang Momih. Itu bermakna Eyang Momih meyayangi Nadhira dan ingin membuat hubungan kasih sayang itu semakin intim.

Emas adalah logam mulai yang paling tinggi, tua dengan nilai ekonomisnya diakui oleh semua bangsa di dunia setelah manusia melewati zaman batu, zaman tembaga, dan zaman perunggu.  Emas simbol kesejahteraan sosial dan ekonomi.

Namun lebih dari itu untuk menakar nilai ekonomi dan prestiusnya ada pada keabadian dan persahabatan manusia. Itulah simbol filosofi dari logam mulia ini. Bangsa-bangsa berperadaban tua menjadikan emas sebagai simbol kejayaan, kesejateraan, dan kemakmuran. Artinya kemakmuran, kebahagiaan, kesuksesan, dan kemegahan.

Emas termasuk harta dengan level tertinggi bagi adat suku Bugis setelah tanah dan sarung.

Nenek Puang Ina dengan cucu Nadhira. Foto: Dokumen Pribadi

Puang Ina menulis cerita ini agar Nadhira cucuku, terinspirasi bagaimana persahabatan itu dapat menjadi persaudaraan. Bu Ganung adalah salah satu saudara yang tidak sedarah yang Puang Ina miliki.

Jika kamu ditakdirkan bertemu Eyang Momih maka belajarlah dengannya. Nadhira bisa belajar bagaimana menjadi sahabat yang selalu ada ketika kita membutuhkan bantuan, baik dalam masa sulit maupun senang.

Belajar bagaimana Eyang Momih menjadi sahabat yang tidak pernah menghakimi atau men-judge. Segala yang buruk pada Puang Ina akan dikatakan Eyang Momih dengan jujur dan baik, sehingga Puang Ina  tidak terganggu Eyang Momih selalu mendukung yang membuat Puang Ina senang dan bahagia dengan tulus.

Belajar bagaimana Eyang Momih, dalam keadaan apapun Pung Ina baik sedih, kesepian, dan senang, Eyang Momih selalu ada bersama untuk memberi dukungan atau ikut bahagia atas apa yang Puang Ina capai. Ketika Puang Ina menangis, Eyang Momih akan berusaha membuat Puang Ina kembali tertawa.

Belajar bagaimana Eyang Momih selalu mendengarkan segala cerita dan memberikan pendapatnya, sehingga kami bisa saling bertukar ide atau pengalaman untuk mendapatkan solusi terbaik pula dalam masalah tertentu.

Eyang Momih mengetahui banyak hal pribadi Puang Ina. Eyang Momih sahabat yang tidak pernah melanggar kepercayaan Puang Ina. Semua ditunjukkan dengan sikap jujur serta tulus.

Cucuku Nadhirah.

Pakailah tali asih itu cucuku, peliharalah dengan baik. Jika nanti kamu sudah besar dan lingkaran gelang itu tidak muat dipakai lagi ditanganmu, Puang Ina berharap kau mau menyimpannya dengan baik sebagai penghargaan atas persahabatan kami. Puang Ina berharap kamu pandai membuat abadi persahabatn kami.

Jika kamu nanti besar dan kami masih hidup, kami akan menceritakan kepadamu betapa indahnya persahabatan yang telah kami jalani.

Demikian juga jika kamu sudah bisa membaca tulisan, maka kamu akan membaca tulisan Puang Ina ini, sehingga tahu bahwa Puang Ina memiliki sahabat sebaik Eyang Momih.

Gelang itu dapat menginspirasi kamu bahwa ikatan persahabatan yang dibuhul menjadi persaudaraan bagai lingkaran gelang yang tak ada ujungnya. Abadi sepanjang hayat.

Makassar, 25 Desember 2022




25 Comments

  1. March 25, 2024 at 10:34 pm

    Eli Deserio

    Reply

    Excellent write-up

  2. January 23, 2023 at 1:33 pm

    Kiki S.Rejeki

    Reply

    Wach keren sekali bund, santapan penuh gizi… mksh

    1. January 26, 2023 at 8:20 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  3. January 23, 2023 at 7:25 am

    Daeng ardi

    Reply

    Contoh persahabatan 2 orang sosok berbeda suku namun disatukan dengan kasih sayang.. patut dicontoh

    1. January 26, 2023 at 8:21 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  4. January 23, 2023 at 4:39 am

    Ganung Anggraini

    Reply

    Adikku, terharu, bahagia, senang membaca tulisan nya… Semoga persaudaraan kita tetap langgeng ya.. Terimakasih sdh menorehkn tulisan ttg kita, juga ttg cucu kita Nadhira. Semoga menjd anak soleha ya, dan menjd penyejuk keluarga…

    1. January 26, 2023 at 8:22 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih, saling menyayang sampai akhir hayat

  5. January 22, 2023 at 11:25 pm

    N. Mimin Rukmini

    Reply

    Keren Bu! ! Puang Ina, Eyang Mamih, Cucu Nadhira, tradisi, dan persahabatan lahir kasih sayang dan tulisan yang luar biasa! Trimakasih! Sarapan oagi yang menyegarkan!

    1. January 26, 2023 at 8:23 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih. Komentar kren dari penulis kreen

  6. January 22, 2023 at 10:40 pm

    Sumintarsih

    Reply

    Biasanya tulisan serupa untuk anak, tapi ini untuk cucu. Keren, saya baper membacanya. Nadhira pasti sangat bangga memiliki Puang sehebat Bunda. Alhamdulillah…. Salam sayang untuk Nadhira kecil.

    1. January 26, 2023 at 8:24 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih. Ini sekedar mengisi waktu masa pensiun

  7. January 22, 2023 at 2:32 am

    Wyda Ayu

    Reply

    persahabatan yang menjadi persaudaudaraan tulus dalam suka maupun duka. Berbahagialah Nadhira dikelilingii banyak orang yang penuh dengan cinta.

    1. January 26, 2023 at 8:25 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  8. January 22, 2023 at 1:15 am

    cahyati

    Reply

    Tulisan ini menginspirasi pembaca untuk menghargai keindahan persahabatan

    1. January 26, 2023 at 8:26 am

      Telly D.

      Reply

      Alhamdulillah, jika pensannya sampai

  9. January 22, 2023 at 12:25 am

    Abdisita

    Reply

    Tulisan tentang ukhuwah yang inspiratif.
    Barakallahuu

    1. January 26, 2023 at 8:26 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  10. January 21, 2023 at 10:56 pm

    Much Khoiri

    Reply

    Tulisan ini sangat bagus dan bergizi. Mantap.

    1. January 26, 2023 at 8:29 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih cikgu. Itu hasil dari belajar sama cikgu

  11. January 21, 2023 at 10:44 pm

    Mukminin

    Reply

    Alhamdulilah persahabatan yanga menjadi persaudaraan. Smg abadi. Artikel yang bagus yang memberikan banyak informasi termasuk suku Bugis. Mksih bunda Telly D.

    1. January 26, 2023 at 8:30 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih Cak Nin semoga persahabatan kita abadi

  12. January 21, 2023 at 10:38 pm

    Abdullah Makhrus

    Reply

    Wah kereeeen sekali bunda. Quote menarik yg saya ambil saya cuplik dari tulisan bunda
    “ikatan persahabatan yang dibuhul menjadi persaudaraan bagai lingkaran gelang yang tak ada ujungnya. Abadi sepanjang hayat.”

    1. January 26, 2023 at 8:30 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  13. January 21, 2023 at 10:03 pm

    Astuti

    Reply

    “Persaudaraan kami dilandasi rasa tulus, hanya mengenai kebersamaan, kasih sayang, dan kesetiaan, bebas dari pangkat, jabatan, dan kekuasaan.”ppesan yang akan sampai pada Nadhira dan pembaca.Sangat bahagia ketika kita dikelilingi sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka.

    1. January 26, 2023 at 8:33 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree