January 6, 2023 in Resensi, Uncategorized

Resensi Buku : Virus Emcho Melintasi Batas Ruang dan Waktu

Resensi Buku

 Oleh Telly D

Judul Buku:Virus Emcho Melintasi Batas Ruang dan Waktu
Penulis:Much Khoiri
Penerbit:Tankali – Sidoarjo
Tahun:2020
Ukuran:13 x 20,5cm
Tebal:xiv+180 hlm
ISBN:623-7451-22-8

Siapa yang Menanam Dia Akan Memanen

Pepatah ini bermakna siapa yang menanam kebaikan dia akan memanen kebaikan. Pepatah yang sederhana, bermakna mendalam serta berimplikasi bagi keberlangsungan hidup baik atau pun buruk.

Ungkapan ini cocok untuk mengawali tinjauan buku ini. Penyusun buku ini Much Khoiri seorang dosen dan pegiat literasi yang menyamakan dirinya virus penebar cinta literasi yang menginfeksi atau menjangkiti sesama penulis untuk berkembang sebagai amuba-amuba yang bereproduksi, konsisten menulis, dan membawa inspirasi bagi siapa pun untuk ikut mencintai dunia literasi.

Menebar cinta literasi menulis membuat Much Khoiri memanen tulisan-tulisan yang memuji apa yang telah didedikasihkan sebagai pegiat literasi. β€œJika Anda investasi tulisan, maka Anda akan memanen tulisan.” (Much Khoiri)

Buku ini adalah himpunan 40 tulisan dari 29 orang penulis. Terdapat 7 penulis yang menulis lebih dari satu, (Achmida Sufiati Utami (2), A. Mustamsikin Koiri (2), Hibatun Wafiroh (2), Husni Mubarrok (2), Omank Rokhmani (2), Slamet Widodo (2), dan Sumintarsih (3) yang dikumpulkan sendiri oleh Much Khoiri dengan bahan yang ditemukan dari Web/Blog/media online dan grup WA dimana masing-masing penulis ini menulis.

Inilah yang menjadi daya tarik untuk saya lakukan tinjauan buku. Buku ini adalah edifikasi sesama. Dua puluh sembilan orang penulis mengedifikasi Much Khoiri dalam 40 tulisan dan sebaliknya Much Khoiri melalui buku ini juga mengedifikasi kembali 29 orang penulis ini, dua kepentingan yang sangat menguntungkan.

Seperti yang diakui Much Khoiri dalam Prakata, bahwa Virus Emcho telah berkembang menjadi media edifikasi sesama penulis, yakni memberikan pujian atau apresiasi kepada penulis lain untuk meningkatkan atau mengingatkan prestasi dan reputasinya. Saling mengedifikasi sesama penulis. Dapat dijadikan momentum media untuk memupuk persaudaraan dan solidaritas yang egaliter.

Hal yang tak kalah menariknya, tinjauan buku yang saya lakukan ini dapat dikatakan mengedifikasi hasil edifikasi sehingga dapat disebut meta edifikasi dari penulis-penulis yang terlibat dalam buku Virus Emcho ini.

Edifikasi adalah usaha atau sikap untuk menghargai atau menghormati orang lain pada posisi yang semestinya dan lebih terhormat.

Tindakan tersebut akan membuat orang yang diedifikasi menjadi merasa tersanjung dan biasanya akan balik memberikan edifikasi.

Sikap tersebut akan berefek kepada semangat kerja dan kerjasama yang tinggi kepada sesama. Merasa diorangkan dan diakui eksistensinya.

Sebaliknya tindakan tersebut juga akan membuat dihargai oleh orang yang diedifikasi maupun oleh orang yang melihat edifikasi yang dilakukan. Itulah yang disebut dengan efek domino. “Kita dihargai oleh orang lain jika sebelumnya menghargai orang lain terlebih dahulu.”

Beragam edifikasi/pujian yang dilakukan oleh masing-masing penulis. Semua pujian bersifat positif tertuang dalam gaya bahasa yang berbeda, menyiratkan ucapan terima kasih pada penyebar virus.

Secara umum mereka mengakui telah termotivasi, terpengaruh, tergerakkan untuk menulis dan mengedifikasi buku yang telah ditulis.

Membaca tulisan-tulisan beliau memberikan inspirasi yang luar biasa. Jika dirunut salah satu minat awal saya menekuni dunia literasi disemai oleh artikel-artikel beliau. Saat itu saya bermimpi ingin menjadi penulis seperti beliau. (Ngainun Naim)

Jika Ngainun Naim bermimpi menjadi penulis seperti Much Khoiri, sama halnya dengan yang ditulis oleh Kismawati mengibaratkan dirinya tanaman yang menemukan pupuk yang subur.

Dari buku yang saya baca sangat banyak pengetahuan yang menggerakkan untuk menulis ibarat saya menemukan pupuk yang cocok untuk menyuburkan hasrat dan keinginan saya untuk menjadi seorang penulis. (Kismawati).

Bahkan lebih jauh Husnul Hafifah menulisnya bahwa virus ini sudah menyebar luas menjangkiti sehingga menembus ruang jiwa dan mengakar di setiap diri yang terinfeksi.

Mengubah seseorang dari tidak menulis jadi menulis dan penulis mencipta karya bahkan memasarkan karya tidaklah mudah dan butuh proses panjang, namun virus Emcho virus yang dengan segala trik dan daya pikatnya sendiri, menyebar luas dan menjangkiti menembus batas relung jiwa menyemi dan mengakar di setiap diri. (Husnul Hafifah)

Mereka mengedifikasi buku dan bahasa yang digunakan oleh Much Khoiri dengan menulis.

Dahsyat karya SOS sapa orang sibuk, menulis dalam kesibukan (2016) mampu menyembuhkan bagi siapapun yang terjerat penyakit malas menulis. Buku Rahasia Top menulis (2014) adalah obat mujarab bagi siapapun yang berhasrat besar ingin jadi penulis tenar. Sementara buku Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015 ) adalah cermin pribadi dalam himpitan lautan, lautan penuh tugas tetap mampu berkarya. (Husni Mubarrok)

Tulisan-tulisan Pak Emcho disampaikan secara menawan. Gagasannya disampaikan secara lancar. Pilihan katanya tepat, tulisannya bernas, sudut pandang yang digunakan unik, dan dikemas secara menarik. Saya benar-benar tertarik setiap membaca tulisan beliau. (Ngainun Naim)

Tulisan Much Khoiri selalu saya ikuti. Memaparkan teori-teori menulis secara gamblang dengan bahasa yang renyah, enteng namun cukup bergizi tinggi. Orang yang membacanya akan terhipnotis hingga titik terakhir. (Ommank Rokhmani)

Para penulis itu juga memuji hal yang bersifat personal seperti mengedifikasi Much Khoiri tentang kepribadian yang dimiliki, interaksi dengan keluarga, mahasiswa, guru, dan sesama penulis bagaimana rendah hati yang dimiliki, suka berbagi ilmu dan pandai membangkitkan semangat untuk menulis.

Karyanya sampai melanglang dunia, misalnya sampai ke Malaysia. Mengapa sampai terkenal di dunia karena keuletannya, kesabarannya dan ketekunannya dalam menulis. (Khusnul  Khotimah)

Saya semakin ta’zim pada beliau meskipun beliau sibuk masih meluangkan waktunya untuk merespons keluh kesah yang kusampaikan pada beliau. (Slamet Widodo)

Berbagai julukan yang diberikan:

Pak Emcho sang motivatior menulis (Febri suprapto).

Pak Emcho sang penebar Virus Literasi dan Karya (Husni Mubarrok).

Serta beberapa jargon yang sering Much Khoiri ucapkan, dijadikan penyemangat dalam menulis.

Menulis atau mati adalah pesan yang sangat dahsyat sekaligus peringatan keras bagi kita. Menulislah jika tidak mati saja, jika tidak menulis apa bedanya dengan subjek yang mati. (Slamet Widodo)

Jika sampah yang bisa kau tulis maka tulislah. Kelak sampah itu akan menjadi kompos yang mahal. (Hibatun Mafiroh)

Mereka mengagumi kedisiplinan dan konsistensinya dalam menulis termasuk kreativitasnya. Dalam kesibukan selalu ada waktu untuk menulis dan berbagi ilmu dan memberi perhatian pada penulis yang membutuhkan perhatian.

Kreativitas menulisnya mengagumkan, topik dan tema yang beliau angkat juga menunjukkan krativitas yang tinggi. (Ngainun Naim)

Saya mengagumi kosistensi beliau dalam menulis. Sesibuk apapun masih memiliki disiplin tinggi untuk menulis. Saya ingin meneladani beliau, semoga bisa. (Ngainun Naim)

Demikianlah 40 tulisan dari 29 penulis mengisi buku ini yang menjadi layak dibaca untuk semakin mengenal sosok Much Khoiri pegiat literasi yang terus menebar virus cinta literasi.

Buku ini direkomendasikan untuk semua kalangan terkhusus bagi pegiat literasi dan kalangan guru. Banyak hal yang dapat diambil hikmahnya.

Dari buku Virus Emcho ini saya mengenal lebih dekat sosok Much Khoiri. Saya dapat belajar semangat dan dedikasih yang diberikan, untuk menjadikan dirinya teladan di depan mata, satunya kata dengan perbuatan demikianlah sejatinya seorang guru. Termasuk bagaimana perjuangan Much Khoiri dalam menjaga dua hal sama baiknya, yaitu kepribadian dan buku, sehingga keduanya memiliki kualitas yang sama baiknya.

Jika sikap edifikasi ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak menutup kemungkinan membuat hidup ini lebih indah dan penuh harmoni.

Makassar, 6 Januari 2022




16 Comments

  1. January 7, 2023 at 10:38 pm

    Hariyanto

    Reply

    Resensi yang semakin memperjelas virus literasi yang menjadi wadah berkumpul.kita saat ini yaitu RVL. Resensinya sangat konstektual dan ringan dibaca. Salam.literasi Bunda

    1. January 26, 2023 at 8:34 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  2. January 7, 2023 at 3:11 pm

    Sumintarsih

    Reply

    Setuju Bundaa…. Buku yang keren….

    1. January 26, 2023 at 8:35 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  3. January 7, 2023 at 3:10 pm

    Sumintarsih

    Reply

    Benar sekali, buku ini mengenal Pak Khoiri lebih dalam. Selain itu, buku menunjukkan apresiasi Pak Khoiri kepada penulis pemula.

    1. January 26, 2023 at 8:35 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  4. January 7, 2023 at 2:10 pm

    Muhammad Arif

    Reply

    Saya juga termasuk diantara mereka yang terjangkit virus emcho. Semoga Mr. Khoiri, Bu Daswatia, dan seluruh anggota RVL senantiasa sehat dan panjang umur.

    1. January 26, 2023 at 8:36 am

      Telly D.

      Reply

      Terima kasih

  5. January 6, 2023 at 11:59 pm

    Muhammad Helmi

    Reply

    Mantap sekali…satu kata baru yang telah kupelajari “Edifikasi”.

    1. January 26, 2023 at 8:37 am

      Telly D.

      Reply

      Alhamdulillah

  6. January 6, 2023 at 11:32 pm

    Abdullah Makhrus

    Reply

    Ada sepenggal paragraf yang sangat menarik di resensi ini yang berbunyi “Sebaliknya tindakan tersebut juga akan membuat dihargai oleh orang yang diedifikasi maupun oleh orang yang melihat edifikasi yang dilakukan. Itulah yang disebut dengan efek domino. β€œKita dihargai oleh orang lain jika sebelumnya menghargai orang lain terlebih dahulu.”. mantabbb

  7. January 6, 2023 at 11:17 pm

    Daeng ardi

    Reply

    Resensinya enak sekali dibaca, kayak tidak mau berhenti untuk terus menikmati kata demi kata. Gaya bahasa dan tutur katanya begitu sempurna sehingga menghipnotis pembaca. Makasih Bu Telly..

  8. January 6, 2023 at 11:02 pm

    Mukminin

    Reply

    Resensi yang bagus sekali Bunda Telly. Lanjut

  9. January 6, 2023 at 11:00 pm

    Mukminin

    Reply

    Resensi yang sangat mantab sekali. Joz bunda Telly.

  10. January 6, 2023 at 10:13 pm

    Ari Susanah

    Reply

    Resensi yang menawan Bu Telly, bisa buat contoh dalam menyusun resensi. Runtut dan memberikan paparan yang logis.

  11. January 6, 2023 at 6:44 am

    Much Khoiri

    Reply

    Terima kasih atas resensi yang sangat bagus, bahkan cukup akademik. Nalarnya enak diikuti. Saya merasakan adanya apresiasi dan edifikasi yang dilandasi hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree