September 28, 2022 in Catatan Harianku, Uncategorized

Ketika Tabebuya Berbunga

Ketika Tabebuya Berbunga
Oleh Telly D

“Cinta adalah satu-satunya bunga yang dapat tumbuh dan berbunga tanpa bantuan musim.”

Memasuki bulan September-November, ribuan bunga Tabebuya di Kota Surabaya, Jawa Timur akan kembali berbunga. Demikian siklus musim Tabebuya berbunga di Indonesia.

Momen Tabebuya berbunga adalah momen yang menyulap jalan protokol Kota Surabaya menjadi indah bak negeri Jepang jika sakura lagi bermekaran.

Sejak tahun 2010, Pemerintah Kota Surabaya mulai menanam pohon dengan nama Tabebuya. Hingga kini sedikitnya 16.263 pohon Tabebuya telah ditanam.

Ribuan pohon tersebut berbunga. “Ada 5 jenis warna Tabebuya di Kota Surabaya, yakni warna pink, putih, kuning, merah, dan ungu,” (Agus Hebi Djuniantoro, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya).

Bisa dibayangkan indah dan wanginya yang semerbak ketika bunganya bersamaan bermekaran. Sekalipun hanya ada dua spesies utama yang paling popular, yaitu Tabebuia Rosea (daun lebar) dan Tabebuia Chrysantha (berdaun kecil).

Tanaman ini sesungguhnya sudah lama dikenal di daerah asalnya. Pohon ini berasal dari Brasil diperkenalkan pertama dengan nama Tabubeya (Handroanthus chrysotricus) oleh Augustin Pyramus de Candolle pada tahun 1838.

Adalah Britton menghidupkan kembali konsep Tabubeya yang berasal dari tahun 1876 oleh Bentham dan Hooker, yang dimasukkan atas spesies tanaman dengan daun majemuk sederhana. Nama Tabebuya ini diambil dari nama lokal Brasil yakni Tabebuia Serratifolia.

Habitatnya ditemukan di hutan Amazone. Tidak heran jika hutan Amazone menjadi salah satu tempat wisata untuk menikmati keindahan pohon Tabebuya.

Sumber : Dokumen Pribadi

Habitat asli Tabebuya di Brasil berada di daerah dengan iklim kering, Tanaman ini memiliki ketahanan hidup yang tinggi dalam cuaca kering, termasuk jenis pohon besar.

Banyak orang yang menyebutnya sebagai Sakura, karena memiliki bunga yang mirip Sakura. Namun kedua tanaman ini sebenarnya tidak berkerabat.

Orang menyebut pohon terompet karena memiliki bunga berbentuk terompet kecil. Sementara untuk jenis pohon Tabebuya lainnya, julukan unik sering terdengar yakni: kayu putih, cedar putih, manjack merah muda, tecoma. Tanaman ini memiliki lebih dari 100 genus.

Tabebuya mampu hidup di daerah tropis dan sub tropis. Suka dengan matahari langsung, Sangat sesuai untuk tanaman penghijauan yang umumnya dihadapkan pada kurangnya penyiraman di saat musim kemarau.

Perkenalan pertama saya dengan ‘Tabebuya’ ketika bunga Tabebuya bermekaran di Surabaya tahun 2019, dan diviralkan pada berbagai media sosial.

Putriku tertarik dengan hal ini. Dia mengunduh gambar Tabebuya dan memperlihatkan kepada saya di atas tempat tidur menjelang tidur di kamar Rumah Dinas di Yogyakarta.

‘’Lihat gambar ini, bisa tebak ini di mana?’’ katanya sambil tersenyum.

Saya memperhatikan gambar yang dia sodorkan dalam hand phone. Dalam gambar terlihat berjejer pohon-pohon rindang yang memiliki banyak cabang namun tidak memiliki daun lagi. Cabang itu dipenuhi dengan kuntum bunga yang bermekaran, rimbun dengan banyak variasi warna yang mencolok, indah dan mempesona, menghias sepanjang pinggiran jalan.

Spontan saya ingat Korea dan Jepang. Saya punya pengalaman berjalan bersama dengannya ke Korea dan ke Jepang hanya untuk menikmati sakura yang lagi berbuga.

Musim semi merupakan saat terbaik untuk menikmati keindahan bunga sakura yang semerbak bermekaran, namun mesti disesuaikan dengan waktu yang tepat sehingga dapat menikmatinya.

Kami pernah menikmati Chеrry Blоssоm Fеstivаl di Distrik Sewari, dan Taman Yodogawa Kasen di Prefektur Kyoto Jepang.

Jеju Chеrry Blоssоm Fеstivаl di аrеа Jеоnnоng-rо dan рintu mаsuk Jеju Nаtiоnаl Univеrsity, А Jinhае Gunhаngjе Fеstivаl untuk mеlihаt sakura di Rоmаncе Bridgе di аtаs Yеоjwаchеоn strеаm. Demikian juga Yеоuidо Flоwеr Fеstivаl hаmрir 2.000 роhоn cherry yang serentak berbunga di Korea Selatan.

‘’Indah sekali warna bunganya mencolok, tapi bunganya lebih besar dan lebih rimbun dibanding bunga sakura yang lebih tersebar. Bunga ini tidak halus dan kecil seperti sakura, ini bukan bunga sakura” cepat saja saya mengidentifikasi melalui gambar.

‘’Betul, ini bukan bunga Sakura ini bunga Tabebuya yang lagi mekar di Surabaya,’’ ujarnya memberi penjelasan.

‘’Indah sekali jika begitu” saya ikut berdecak kagum. ‘’Bunga ini menyulap Surabaya bak negeri sakura,’’ sambungnya sambil mengomentari video-video tentang Tabebuya yang bermekaran di Surabaya. Saya setuju dan merasa perlu memuji ibu Riesma walikota Surabaya dengan hal ini.

‘’Bu Risma itu mirip badan Mama, juga cara berpakaian dan berjalannya’’ bisik putriku, dengan senyum lebar dengan lirikan bercanda sambil memeluk tubuhku.

‘’Dia meniru mama atau mama meniru dia?’’ bisiknya bercanda.
‘’Dia dong yang mengikuti mama,’’ ucap saya menyombongkan diri.

Kami berdua tertawa ngakak dalam selimut, kami jadi menceritakan kembali pengalaman beberapa kali, orang suka salah menduga jika bertemu dengan saya di ruang tunggu bandara, dihotel, atau dipertemuan resmi karena menyangka saya bu Risma Walikota Surabaya.

Itulah awal saya mengenal pohon Tabebuya melalui gambar. Kemudian di waktu yang sama dalam perjalanan saya ke Malang dan ke Magelang, saya bisa menikmati indahnya bunga ini bermekaran berwarna warni di sepanjang jalan.

Keindahannya membuat saya tergerak untuk ikut menanam beberapa pohon di pinggir jalan depan rumah di Makassar kemudian selanjutnya ditaman di halaman kantor PPPPTK Matematika Yogyakarta (sekarang sudah berubah nama Balai Besar Guru Penggerak Yogyakarta) sebanyak 150 pohon.

Beberapa alasan yang membuat saya tertarik untuk ikut menanam dan memelihara Tabebuya.

Bunga dan daunnya tidak mudah rontok, di saat musim berbunga, bunganya terlihat sangat indah, rimbun dan lebat, akarnya tidak merusak rumah atau tembok walau berbatang keras.

Kelopak bunganya dengan model seperti terompet kecil yang bertumpuk-tumpuk berkilau indah jika kena sinar matahari mengeluarkan aroma wangi. Kemudian panjangnya durasi waktu untuk menikmati musim berbunga.

Tentu merupakan kesenangan tertentu memelihara sambil menunggu musim mekar untuk menikmati keindahannya. Hanya sekali dalam setahun. Saya akan punya kesenangan menyebut dalam pembicaraan bahwa ’’ketika Tabebuya berbunga.’’

Pohonnya tidak terlalu tinggi dan berfungsi untuk penyerapan karbon, serta polusi kendaraan. Jadi, udara sekitar bisa lebih bersih.

Pemeliharaan yang mudah hanya dipupuk dengan waktu tertentu dan pemangkasan juga hanya waktu tertentu.

Cara menanam juga sangat gampang bisa membeli bibit langsung dari pedagang tanaman atau mendapatkan biji dari pohon yang sudah tua.

Manfaat Tabebuya beragam. Sekalipun beberapa spesies tanaman ini menghasilkan kayu, tetapi genus ini sebagian besar dikenal untuk dibudidayakan sebagai pohon berbunga.

Teh dari bunga Tabebuya diminum sebagai ramuan tradisional seperti teh ( teh Lapaco) di Anerika ramuan ini dkenal dengan nama teh Inca. bisa membantu menurunkan demam, mengobati penyakit malaria, memperkuat sistem imun, mencegah infeksi.

Akar pohoN Tabebuya sebagai bahan pembuat teh yang disebut tahibo. Bisa mengobati flu yang sering menyerang, mengatasi masalah pankreas.

Daun Tabebuya
Pun dapat dijadikan kompos.

Pagi ini saya terkesima ketika melihat Tabebuya yang di depan halaman rumah telah mengeluarkan bunganya. ‘’Apakah sudah berumur 3 tahun?’’ saya berbisik. “Belum, usianya belum cukup 3 tahun.”

Saya berlari ke dalam rumah dan meneriakkan ‘’Tabebuya telah berbunga”. Saya kembali menatap pohonnya.

Benar, Tabebuya mulai mengeluarkan kuntum bunganya. Belum rimbun baru belajar berbunga. Namun, keindahan kelopak bunga yg mekar sudah berkilau kena sinar matahari pagi.

Saya menikmati bunganya sudah meriap halus bermain dengan angin yang membelainya.

Akhirnya Tabebuya itu berbunga. Jadi terngiang kembali pembicaraan, ketika saya menanam Tabebuya itu, putriku menemani sambil bercerita. Sebenarnya lebih tepat mengganggu.

Dia bercerita dan berlakon tentang pengalaman pertamanya menikmati salju di Boston Amerika, yang membuatnya jadi tertawaan banyak orang. Berdiri di tengah hujan salju untuk merasakan hujan salju menyentuh wajah dan tangannya yang dibentangkan.

‘’Semoga Tabebuya ini berwarna putih seperti salju, saya akan punya pengalaman merasakan sensasi hujan kelopak bunga. Saya akan berdiri di bawah pohonnya, menunggu angin bertiup dan membuat hujan kelopak bunga. saya akan biarkan jatuh menyentuh wajah saya dan mengisi telapak tangan yang saya bentangkan terbuka,‘’ ucapnya mengganggu saya.

‘’Ini belum tentu berwarna putih,‘’ saya mengingatkan ‘’saya tidak memilih warna putih, saya justru berharap berwarna warni,’’ kata saya sambil menanam.

Putriku mengeluarkan tongkat sihirnya (dia suka memegang tongkat sihir Harry Potter jika punya mood mengganggu). Dia kemudian serius merapal mantra dan menyihir Tabebuya agar berwarna putih.

‘’Masalah selesai dengan sedikit sihir,’’ katanya melucu.

‘’Berjanjilah padaku untuk merangkai Tabebuya putih ini menjadi bandana di rambut, Saya ingin memakainya jadi mahkota selama musim Tabebuya,’’ bisiknya.

‘’Saya akan menjelma jadi putri hutan Amazon ketika Tabebunya berbunga,’’ katanya sambil cekikikan.

Dua pohon Tabebuya yang mekar kebetulan keduanya berwarna putih seperti keinginannya. Saya memandang bunga itu dan tidak mampu membendung air mata yg berlinangan.

Kondisi kami sekarang sudah sangat berbeda. Kecelakan mobil yg terjadi di Boston dua tahun yang lalu merenggut jiwa, raga dan mimpi- mimpi putriku.

sekarang semua tinggal hanya kenangan. Pemilik keinginan itu telah menghadap ke Khalik-Nya. Kami sudah hidup dalam dunia yang berbeda.

Saya tentu tidak dapat memenuhi janji saya untuk merangkai bunga itu, untuk saya sematkan di rambutnya.

Saya tidak bisa menahan diri membayangkan seandainya putriku masih hidup maka dia akan menjadi putri Amazon yang memamerkan mahkota Tabebuya putih di kepalanya selama musim Tabebuya berbunga.

Putriku suka melakukan hal-hal sederhana, menyenangkan namun tidak terduga. Bahkan kadang melampaui hal normal. Memiliki bakat alami membahagiakan dirinya dan orang sekitarnya.

Betapa berharga pembicaraan-pembicaran kami untuk jadi harta kenangan.

Ya Allah saya jadi sadar betapa banyak hal-hal indah yang telah saya lewati bersama, terima kasih Ya Allah. Kenangan itu membuat saya berterima kasih pernah dipercaya memiliki anak seperti almarhumah. Mampu membuat dunia ini selalu tersenyum dengan aneka lakonnya.

Hanya ini yang saya miliki sekarang. Cerita kenangan jika Tabebuya berbunga. Saya berbisik pada diri saya ini bukan perpisahan selamanya, bukan akhir, ini hanya berarti ‘’aku merindukanmu sampai kita bertemu lagi.’’

Apa yang saya khawatirkan, bunga saja tidak khawatir tentang bagaimana mereka akan mekar. Bunga hanya terbuka dan mengarah ke cahaya dan itu membuat mereka indah.

Tiba-tiba saja saya ingin menjadi sebuah bunga sehingga ketika sedang kesusahan, saya masih tetap bisa berdiri dan menemukan cahaya matahari.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S Al-A’raf: 162).

Makassar, 20 September 2022




4 Comments

  1. March 25, 2024 at 2:44 pm

    Oliver Bumgarner

    Reply

    Insightful piece

  2. September 29, 2022 at 12:28 pm

    Supinah supinah

    Reply

    Putri yang selalu menjadi bunga di rumahnya yang membuat setiap orang terpesona melihatnya.

  3. September 29, 2022 at 11:36 am

    Harwasono

    Reply

    Indah menanwan menarik hati

  4. September 29, 2022 at 6:19 am

    Ganung

    Reply

    ^Bunga tidak khawatir tentang bagaimana mereka akan mekar. Bunga hanya terbuka dan mengarah ke cahaya dan itu membuat mereka indah.” – Jim Carrey

    Luarr biasa, Tabebuya spt bunga Sakura ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree