May 10, 2022 in Catatan Harianku, Uncategorized

Pertemuan Menantu Mertua

Post placeholder image

Pertemuan Menantu Mertua
Oleh Telly D

Kalau kamu jadi mertua kelak, jadilah temannya, bukan ibunya. Pahami kenyataan bahwa dia istri anak laki-lakimu dan perlakukanlah dia sebagaimana kamu menginginkan Dia memperlakukanmu.

Saya jadi teringat ucapan ini ketika menanti putra Saya yang mudik dengan membawa isteri. Ini mudik pertama sekaligus pertemuan pertama dengan menantu baru.

Keduanya menikah di Singapore dalam kondisi pandemi. Saya hanya mengikuti prosesi pernikahannya melalui virtual. Saya tentu berkeinginan memberi kesan yang baik.

Ini sudah yang ketiga kalinya Saya memastikan kamar-kamar di rumah sesuai yang Saya inginkan. Sekalipun semua sudah rapi, bahkan telah rapi dari beberapa hari sebelumnya.

Baru saja makanan itu Saya cicipi, Saya cicipi lagi. Ada dorongan untuk memastikan bahwa makanan juga dihidangkan dengan citarasa yang benar.

Kamar dan makanan jadi representasi betapa kami bahagia dengan kedatangannya. Mereka berdua adalah orang yang sangat berarti.

Sejujurnya Saya merasa tertekan. Suami menepuk bahu Saya berulang-ulang untuk meyakinkan semua akan berjalan baik-baik saja.

‘’Enam belas tahun menjadi menantu yang baik tentu tidak susah menjadi mertua yang baik.’’

Ini mantra penawar yang dibisikkan , namun tidak ampuh menyembunyikan kegelisahan.

Ketika putra saya dan isterinya tiba, semua kecemasan menguap entah ke mana. Putra Saya piawai memandu isterinya untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada. Semua berjalan mulus, terkendali tanpa drama.

Makanan yang hidangkan dimakan dengan lahap. Saya lega dia menyukai masakan itu , bahkan dia memuji keenakannya. Dia menyukai rumah kami, dia senang dengan kamar yang kami siapkan, dia memilih hanya satu kamar dari tiga yang kami siapkan.

Kami berceritera sejenak dengan riang, kemudian dia izin mengundurkan diri masuk kamar untuk beristrirahat. Menurutnya pemeriksaan di imigrasi Jakarta cukup melelahkan.

Saya merasa lega. Pertemuan pertama berjalan mulus. Semoga hari-hari ke depannya juga demikian.

Saya juga mendapat kesan, menantu Saya orang rendah hati, sederhana, santun, terdidik dan punya kemampuan menerima kondisi yang ada. Saya percaya kami dapat menjadi sahabat yang baik, sekalipun berbangsa yang lain.

Ketika rumah sudah sepi. kesenyapan membuat Saya jadi teringat kenangan lama. Ketika itu Saya juga mudik pertama. Mudik yang menunggu 6 tahun. Saya telah memiliki dua anak baru dibolehkan mudik kekampung halaman suami.

Itu pun dengan syarat Saya harus sabar dan tidak boleh mengeluh.

Waktu itu belum ada akses pesawat udara seperti sekarang. Saya harus ikut-ikutan berjubel naik kapal laut Pelni dari pelabuhan Makassar ke pelabuhan Bau-Bau selama 20 jam. Kemudian menyambung dengan kapal layar bermesin kurang lebih sehari semalam berlayar di atas samudera.

Suami Saya anak pesisir, anak Buton pulau atau pulau-pulau Tukang Besi yang orang kenal dengan sebutan Wakatobi. Wakatobi adalah singkatan dari nama 4 pulau yang ada di deretan pulau Tukang Besi yaitu: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Keluarga suami mendiami Pulau Tomia.

Ketika Saya bersikeras pulang, kondisi laut lagi tidak bersahabat. Ombak laut bergulung-gulung lebih tinggi dari pinggiran kapal kayu yang kami tumpangi. Kapal kami berlayar di tengah samudra yang sementara mempertontonkan kebesaran gelombangnya.

Luar biasa pengalaman pertama itu. Saya baru mengerti mengapa Saya selalu dicegah untuk mudik, kapal kayu kami ibarat sebuah sabut kelapa yang dipermainkan gelombang.

Gempuran gelombang yang terus menerus memukul dinding kapal, mengeluarkan bunyi yang berderit-derit, bunyi mesin kapal yang mengerang-erang memberi isyarat sengitnya pertarungan melawan hantaman ombak.

Saya sangat ketakutan, rasanya hempasan ombak itu menghempas di dada. Semua kemungkinan terburuk Saya pikirkan. Bagaimana jika perahu itu pecah tidak mampu menahan gempuran ombak. Pasti dindingnya berhamburan dan berserakan di atas gelombang samudera.

Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saya tidak melihat alat pelampung. Padahal kami di tengah samudera luas yang tidak ada satu pun pulau yang terdekat. Bagaimana Saya mengatasinya? kemampuan berenang Saya tidak memadai.

Ayunan gelombang naik turun yang sangat ekstrem membuat Saya mabuk laut. Rasanya saya dimasukkan ke dalam botol dan diguncang-guncang.

Saya tidak hanya muntah sepanjang pelayaran, namun menangis tertahan dengan diam-diam tidak boleh mengeluh. Saya teguh memegang janji. Sekalipun Saya selalu melirihkan pelan-pelan ‘‘Ya Allah jauh benar jodoh Saya di ujung samudra. Ini bukan perjalanan biasa Ya Allah ini perjalanan menantang maut, lindungi kami Ya Allah.’’

Di kapal kayu itu, hanya Saya yang mabuk. Semua penumpang termasuk anak Saya menikmati ganasnya ombak perjalanan ini. Anak Saya bahkan mengepalkan dan merentangkan tangannya di depan perahu dan meneriakkan ‘’Saya Sinbad si pelaut,’’ dengan kebanggaan yang membuncah.

Semua orang sepakat mengatakan itu karena di tubuhnya ada darah anak pulau yang mengalir. Mereka menertawakan Saya yang berdarah Bugis mabuk laut padahal punya slogan pelaut ulung tidak gentar dengan badai dan gelombang samudra.

Kapal kami tiba sehari sebelum Idul Fitri. Rombongan yang terakhir dari semua yang pulang mudik tahun itu. Kedatangan kami sangat ditunggu-tunggu. Masyarakat sampai memadati dermaga sekedar menjemput dan melihat kami sekeluarga. Keluarga suami Saya tentu tersenyum melihat kami berhasil pulang kekampung.

Dari jauh di atas kapal kayu, Saya terkesima melihat padatnya manusia berjejal di dermaga. Pemandangan yang baru buat Saya. Beberapa perahu kecil (koli-koli) didayung mendekati perahu kami.

Mereka datang menjemput kami lebih dahulu. Dengan tangkas menggendong anak Saya dan mengangkat semua koper dengan penuh kegembiraan dan membawanya ke daratan.

Semua berlangsung dengan cepat, anak Saya telah berpindah digendong orang lain, koper-koper kami pun sudah dipikul orang berjalan di dermaga.

Saya hanya mampu mengikui arus eforia itu, menapakkan kaki di dermaga dan mengikuti seremonial penjemputan. Dieluk-elukkan dan diiring-iringi sampai tiba ke rumah mertua. Saya tidak sadar berjalan tanpa merapikan badan, mengganti baju, dan juga tanpa memakai alas kaki.

Tiba di rumah terasa lega sekai dapat beristirahat, badan masih terasa diayun-ayub ombak. Keluar kamar Saya menemukan ibu Mertua menangis.

Saya memeluknya, itu tangisan bahagia karena kami dapat berkumpul seperti yang dia selalu inginkan namun ternyata Saya salah.

‘’Mengapa, berjalan tanpa sandal, juga dengan pakaian yang asal-asalan? ucapnya tegas mencoba berkomunikasi.

Tangisan itu tangisan yang tidak tahan omongan orang pulau bahwa putranya menikah degan wanita miskin, yang alas kaki pun tidak punya. Keluarga suami memang termasuk keluarga berada yang disegani di pulau itu.

“Saya ingin melakukannya, namun koper dan sandal telah diangkat oleh keluarga “Saya mencoba memberi penjelasan.

‘’Orang mengatakan dapat di mana perempuan yang semiskin itu tidak punya alas kaki.’’

Saya memeluk mertua Saya dan membujuknya.
‘’Ina (panggilan ibu untuk suku Buton) tidak perlu sedih, Ina tahu bahwa Saya bukan seperti yang mereka katakan.”ucap Saya.

‘’Justru karena itu Saya sedih dan malu kamu dikatakan miskin,’’ katanya sambil mengusap air matanya.

‘’Oh tidak perlu sedih Ina, Saya bukan orang yang malu dikatakan miskin. Miskin bukan hal yang memalukan. Saya senang kita bisa berkumpul. Tidak ada yang bisa mengganggu kebahagiaan Saya.’’ Saya mencoba mengembalikan kebahagiaannya itu.

Ternyata percakapan kami yang sederhana itu awal yang merekatkan hati Saya dengan ibu mertua. Itulah jembatan yang membuat ibu mertua percaya bahwa Saya siap untuk kondisi apapun.

Ibu Mertua sangat yakin dengan kemampuan Saya mengatasi masalah. Ketika ayah mertua meninggal dia memilih meninggalkan rumahnya mempercayakan hari-hari kesendiriannya di rumah kami di bawah pengawasan suami sekalipun dia memiliki 2 anak wanita.

Kenangan indah, kami hidup 16 tahun dengan ibu mertua dan itulah saat-saat yang terbaik dalam hidup Saya. Semoga almarhumah tenang di sisi Allah dan melihat betapa kami sangat memuliakan dan mencintainya dengan terus menghidupkan nilai-nilai luhur yang diwariskan pada kami semua.

Jangan pernah meremehkan percakapan yang sederhana. Tidak ada yang tahu kapan menjadi kekuatan kepercayaan di kemudian hari.

Makassar , 26 April 2022

*Terima kasih Cikgu (Much Khoiri) yang mengajari saya mau menulis cerita yang akrab dengan hidup saya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree