April 2, 2022 in Jelajah Nusantara, Uncategorized

Taman Nasional Wasur – Kekayaan Alam di Timur Indonesia

Taman Nasional Wasur
Kekayaan Alam di Timur Indonesia
Oleh Telly D

Taman Nasional Wasur memiliki hutan sabana basah paling luas di Indonesia, bahkan di seluruh Asia. Mempunyai kekayaan alam yang sangat berlimpah, terutama jenis flora dan fauna, mulai dari spesies endemik, langka, dilindungi, sampai jenis migran dari negara tetangga.

Taman Nasional Wasur atau TN Wasur awalnya hanya merupakan wilayah Suaka Alam yang terdiri atas dua kawasan konservasi, yaitu Suaka Margasatwa Wasur (206.000 ha) sebagai lokasi perlindungan satwa, dan Cagar Alam Rawa Biru (4.000 ha) sebagai lokasi pelindung sumber air minum penduduk Merauke.

Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya perhatian pemerintah, pada tahun 1997 ketika ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional Wasur/Wasur National Park sudah memiliki luas mencapai 413.810 ha.

Pintu Masuk TN Wasur
Sumber : Dokumen Pribadi

Saya mengunjungi TN Wasur dengan mengawali perjalanan dari Jakarta ke Merauke menggunakan pesawat udara selama 8 jam, transit di Makassar. Sesampai di kota Marauke, masih meneruskan perjalanan melewati jalan trans Papua (Merauke-Jayapura) dengan menyewa transportasi darat (mobil) Rp 700.000,- Memerlukan naik kendaraan sejam untuk tiba di pintu gerbangnya.

TN Wasur kawasannya berbatasan di bagian utara Sungai Maro, bagian selatan Laut Arafuru, bagian barat Kota Merauke dan bagian timur perbatasan antara Indonesia-Papua Nugini.

TN Wasur luas kawasannya terbentang di tiga distrik, yakni Distrik Sota, Naukenjerai, dan Merauke, di Kabupaten Merauke.

Memiliki kondisi topografi relatif datar dengan kemiringan 0 sampai 8 persen. Jenis tanah adalah organosol aluvial, podsolik merah kuning, dan hidromorf kelabu.

Mengalami dua musim yaitu musim kering selama 5 sampai 6 bulan (Juni/Juli-Desember) dan musim basah selama 6 sampai 7 bulan (Januari-Juni/Juli) dalam setahun. Kawasan ini memiliki iklim moonson.

Semua ini membuat kawasan TN Wasur merupakan salah satu ekosistem lahan basah yang penting di Indonesia dengan potensi keaneka ragaman hayati yang tinggi.

Sumber : Dokumen Pribadi

Ekosistem kaya dengan Flora. TN Wasur memiliki 10 kelas hutan, yaitu: (1) Hutan Dominan Melaleuca sp. (Dominant melaleuca forest), (2) Padang Rumput Rawa (Grass swamp), (3) Padang Rumput (Grassland). (4) Savana (Savanna), (5) Hutan Bakau (Mangrove forest), (6) Hutan Pinggir Sungai, (7) Hutan Musim (Monsoon forest), (8) Hutan Pantai (Coastal forest), (9) Hutan Jarang (Woodland forest), dan (10) Hutan Co-Dominan Melaleuca sp.

Flora yang mendominasi di wilayah Taman Nasional Wasur antara lain kayu putih (Melaleuca sp.), tancang (Bruguiera sp.), api-api (Avicennia sp.), dan ketapang (Terminalia sp.), sagu (Metroxylon sagu), bambu (Bambuseae), punai (Alstonia actinophylla), banksia tropis (Banksia dentata), akasia (Acacia sp.), pohon guinea emas atau red beech (Dillenia alata), pandan (Pandannus sp.), bunga bangkai raksasa (Amorphophallus sp.), jenis-jenis pakis (Cycas sp.), dan aneka jenis anggrek (Orchidaceae).

Beragam jenis vegetasi yang hidup merupakan surga bagi burung-burung air di Indonesia. Tercatat 403 spesies dengan 74 jenis di antaranya endemik Papua dan diperkiraan terdapat 114 spesies yang dilindungi.

Beberapa spesies burung yang sering muncul adalah, garuda papua (Aquila gurneyei), elang (Circus sp.), kakatua (Cacatua sp.), alap-alap (Accipiter sp.), dan mambruk (Crown pigeons), kasuari gelambir (Casuarius casuarius-sclateri), dara mahkota (Goura cristata), kesturi raja (Psittrichus fulgidus), cendrawasih raja (Cicinnurus regius-rex), cendrawasih kuning besar (Paradisea apoda-novaegui), dan cendrawasih merah (Paradisea rubra).

Setiap tahun selama bulan Agustus sampai September, TN Wasur pada daerah padang rumput, danau Rawa Biru, Rawa Dogamit, Rawa Mblatar, dan pantai Ndalir ramai dikunjungi ribuan burung pantai migran berasal dari Australia dan New Zeland. Burung-burung tersebut antara lain ibis (Stra-necked, white, dan glossy), boha (Magpie geese), paruh sendok (Royal spoonbilis), burung pantai (plovers dan australian pratincole), bangau abu-abu (cranes trans-fly), pelican (Pelecanus onocrotalus), Calidris ruficollis, Xenus cinereus, Calidris tenuirotris dan Charadrius mongolus.

Oleh karena itu, kawasan ini memiliki arti penting bagi kepentingan internasional sebagai tempat persinggahan ribuan burung migrasi antara Australia, New Zealand dan Asia.

Terdapat tempat pengamatan khusus yang tersedia dengan didampingi guide lokal atau pun porter.

Ada sekitar 80 spesies mamalia yang ditemukan di kawasan TN Wasur dan hanya 34 spesies yang berhasil diidentifikasi. Beberapa diantaranya adalah kangguru hutan (Darcopsis veterum), kangguru tanah (Thylogale brunii), kangguru lapang (Macropus agilis), kuskus berbintik (Spilocuscus petaurus-breviceps), musang hutan (Dasyurus spartacus), kangguru lincah (Macropus agilis), dan kangguru bus (Thylogale brunii).

Sumber : Dokumen Pribadi

Di Taman Nasional Wasur terdapat kangguru mini yang biasa disebut sebagai kangguru pohon dan juga musamus atau rumah semut. Dua hal ini menunjukkan kemiripan flora dan fauna Papua dengan benua Australia.

Tercatat juga kehidupan aquatik yang menjadi komponen penting bagi keanekaragaman hayati dalam kawasan.

Kelompok pisces atau ikan yang ditemukan ada sekitar 39 jenis ikan dengan 32 jenis berada di Rawa Biru dan 7 jenis berada di Sungai Maro.

Beberapa spesies ikan di kawasan ini, antara lain Arwana (Scleropages jardinii), Kakap loreng (Amniataba affinis), dan Sumpit loreng (Toxotes jaculatrix). Selain itu juga terdapat jenis-jenis ikan lain seperti Ikan Duri (Arius graeffei), Ikan Lele (Clarias batrachus), Kakap Kuning (Glassomia aprian), Ikan Kaca kecil (Ambassis agrammus), dan lain-lain.

Jenis reptil telah tercatat 21 jenis, 4 (empat) jenis kura-kura, 5 (lima) jenis kadal, 8 (delapan) jenis ular dan 1 (satu) jenis bunglon.

Reptil dan amfibi ada sekitar 26 spesies yang terbagi dalam 8 jenis ular (Condoidae, phyton, dan liasis), 2 jenis buaya (Crocodylus porosus dan Crocodylus novaguineae), 3 jenis biawak (Varanus sp.), 5 jenis kadal (Mabouya sp.), dan 4 jenis kura-kura.

Selain itu, juga ditemukan satu jenis bunglon (Calotus jutatas) dan 3 jenis katak, yaitu katak pohon irian (Litoria infrafrenata), katak pohon (Hylla crueelea), dan katak hijau (Rona macrodon). Sedangkan data serangga masih belum banyak diperoleh, namun sedikitnya telah tercatat sebanyak 48 jenis.

Kelompok insekta yang tercatat ada 48 jenis seperti kupu-kupu (Ornithoptera priamus), semut (Formicidae, Pieridae, dan Nytalidae), serta rayap (Tumulitermis sp. dan Protocapritermis sp.). Semua spesies insekta tersebut merupakan fauna asli dari Papua.
Dengan keberagaman yang dimilikinya, berbagai kegiatan dapat dilakukan di kawasan ini. Mulai dari sekadar berkunjung untuk wisata alam, mengadakan penelitian, sampai mengenal lebih dekat sejarah dan budaya dari penduduk lokal.

Jika punya waktu yang banyak dapat berkemah di Bumi Perkemahan TN Wasur. Di tempat ini dapat melakukan pengamatan burung-burung migran di Pantai Ndalir, Rawa Dogamit, dan Mblatar. Atau pengamatan burung-burung endemik di hutan jarang Melaleuca dan hutan dataran rendah.

Rumah Rayap atau Musamus
Sumber : Dokumen Pribadi

Dapat melihat rumah rayap atau Musamus yang hanya ada di tempat ini diseluruh Indonesia.

Jika senang dengan wisata air dapat mengunjungi Pemandian Biras. Dapat memancing, berperahu dan berenang di Rawa Biru atau menikmati sunset sambil memancing, berperahu, dan berenang di Pantai Ndaliratau.

Di dalam TN Wasur hidup 4 suku adat Marori Men-Gey, Kanume, Yeinan, dan Malind Imbuti. Dapat berwisata budaya dengan suku yang hidup di dalamnya. Bisa menikmati tarian Gatzi yang diiringi dengan tifa. Masakan tradisionil dengan cara bakar batu, belajar berburu rusa dengan tombak, busur, pasak, dan kahanggat (batang bambu yang diruncingkan).

Dapat belajar membuat sagu di Rawa Biru dan Kampung Wasur. Membuat kerajinan tangan, menyuling minyak kayu putih, mengamati anggrek yang tumbuh liar di Kampung Wasur dan Yanggandur.

Benar-benar kekayaan alam yang luar biasa. Memerlukan waktu yang banyak untuk dapat menikmatinya termasuk harus datang di waktu yang tepat ketika burung-burung sementara bermigrasi.

Sumber : Dokumen Pribadi

Semua informasi tentang hal ini didapatkan di Gedung Pusat Informasi dan Wisma Bina Cinta Alam BOMI SAI.

Akhirnya tidak ada kata, puisi, syair, atau pun madah yang cukup untuk menguntai keindahan alam TN Wasur yang ada. Hanya lantunan takjub menyaksikan dan beribu lantunan pujian dan kesyukuran segenap anugrah-Nya.

Makassar, Maret 2022

Terima kasih Saya ucapkan kepada: Kaswati, Karim, dan Metamagfirul yang menemani perjalanan ini.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree