March 4, 2022 in Jelajah Nusantara, Uncategorized

Pulau Baer – Eksotis dan Memukau

Pulau Baer
Eksotis dan Memukau
Oleh Telly D

Kombinasi dua teluk dengan air yang sangat jernih serta laut yang maha tenang beresonansi dengan vegetasi mangrove dan tebing batu yang tinggi membuat panorama Pulau Baer sangat eksotis dan memukau.

Kepingan keindahan ini, eloknya dinikmati oleh anak negeri pemilik pulau terbanyak di dunia, bukan hanya oleh wisatawan luar. Pulau Baer ini tidak berpenghuni dan belum banyak anak negeri yang datang mengais keindahannya.

Landmark P. Baer
Sumber : Dokumen Pribadi

Pulau Baer terletak di Maluku Tenggara. Dari Jakarta tidak ada penerbangan yang langsung menuju ke tempat ini. Jika ada hasrat ingin mengunjunginya, siapkan banyak waktu sebab akan menempuh jarak yang panjang.

Saya memulai perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta, naik pesawat 3 jam menuju Bandara Internasional Pattimura. Dari sana meneruskan perjalanan 1 jam 15 menit naik pesawat ATR ke Bandara Karel Sadsuitubun Langgur, Kei ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara.

Untuk menuju Pulau Baer, ke Kota Tual terlebih dahulu. Dari terminal Kota Tual ke dermaga Dullah Barat. Setelah itu masih diteruskan dengan naik speed boat 30-60 menit untuk tiba di Pulau Baer.

Perjalanan tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Saya harus menginap dulu di resort yang ada sebelum meneruskan perjalanan ke Pulau Baer keesokan harinya.

Sumber : Dokumen Pribadi

Perjalanan menuju Pulau Baer naik speed boat. Membuat Saya melewati beberapa pulau yang juga tidak berpenghuni. Bisa mampir sebelum ke Pulau Baer atau sebaliknya setelah pulang. Perjalanan tidak terasa lama karena melewati pemandangan alam yang indah dengan laut yang membiru.

Menjelang tiba di Pulau Baer, dari jauh Saya sudah berdecak kagum dengan suguhan tebing-tebing batu yang mengelilingi Pulau Baer. Tebing itu banyak ditumbuhi bunga anggrek yang tekulai bunganya dan bergoyang dimainkan angin laut.

Pulau Baer seperti berada dalam kolam alam yang dikeliling tebing-tebing karang yang berliku-liku tinggi dan indah. Menurut informasi di waktu tertentu orang dapat melihat anak ikan hiu jenis blackpit dan ikan lumba-lumba muncul di perairan itu.

Begitu sampai di teluk Pulau Baer, Saya benar-benar merasa berada di sebuah kawasan yang luar biasa megah dan indah dengan suguhan tebing batu. Saya terperangkap di dalam kepungan tebing karang.

Pesisir di Pulau Baer

Ada jembatan panjang yang terbuat dari kayu yang memanjang di tengah sisi depannya. Menyambut pengunjung dan itu satu-satunya fasilitas yang ada. Saya berjalan di atasnya sambil mengambil gambar dengan latar belakang tulisan Pulau Baer yang ada di dinding Karang.

Pulau Baer berada di Tuol, masih belum terkenal setenar Raja Ampat di Papua Barat. Namun keindahannya tidak kalah menariknya. Bahkan tebing karangnya lebih indah dan ditumbuhi berbagai tanaman anggrek, bak Raja Ampat dalam bentuk mini. Beberapa orang yang pernah mengunjunginya mengatakan Pulau Baer ‘’Raja Ampatnya Maluku.’’

Banyak aktivitas wisata bahari yang dapat dilakukan di sini. Pulau ini terlindungi oleh gelombang laut sehingga cocok untuk berperahu kano dan jetski.

Dapat berenang menikmati airnya yang sangat jernih. Dapat memancing, snorkel, dan menyelam melihat kehidupan di bawah lautnya yang beragam. Dapat juga berjemur, naik perahu, dan juga dapat memanjat tebing yang curam itu. Beberapa orang yang memanjat tebing dan meloncat dari ketinggian untuk berenang di air yang jernih itu.

Pulau Baer punya “Lorong Mati,” nama yang diberikan pada Lorong air yang diapit oleh dua tebing yang menjulang tinggi menciptakan area lorong yang sempit. Jika masuk menyusurinya, rasanya kedua tebing itu menghimpit perahu. Suara Saya bergema sepanjang perjalanan dalam Lorong Mati itu.

Anak muda milenial memberi nama lain untuk Lorong itu, “Lorong cinta,” mungkin terinspirasi sempit dan penuh tantangan berperahu dalam lorong itu ibarat cinta yang penuh tantangan dalam perjalannya.

Pulau Baer juga memiliki hutan mangrove yang begitu epik yang juga menambah daya pikat saat berkunjung ke sini. Udaranya yang dihasilkan sangat sejuk. Harmonis keindahan itu dengan keberagaman panorama alam yang ada.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan, namun setara dengan keindahan yang dinikmati. Rasa lelah, penat terbayarkan saat tiba di tempat tujuan. Semua keluh kesah hilang terhisap oleh suguhan panorama alam sekitar.

Kawasan Kota Tual yang terdiri atas 66 pulau, memiliki keindahan bahari yang luar biasa. Banyak pantai dengan air laut masih jauh dari tercemar. Pasir putih memberikan pengalaman, sensasi, dan pesona tersendiri bagi wisatawan.

Jika lelah, dapat membuka bekal yang dibawa. Di sini tidak ada warung yang menjual makanan sehingga harus membawa bekal. Toilet dan WC umum pun tidak ada. Urusan ke kamar kecil diselesaikan pada alam yang menjadi kamar besar.

Suasana di Pulau Baer
Sumber : Dokumen Pribadi

Waktu terbaik untuk mengunjungi kawasan ini adalah bulan Maret hingga Agustus. Waktu dimana ombak-ombak pulau tenang dan arus tidak terlalu ganas. Dalam kondisi laut surut, dapat menemukan beberapa pantai yang bisa disinggahi karena tidak tertutup oleh air laut.

Dalam perjalanan pulang setelah puas menikmati Pulau Baer, Saya mampir ke Pulau Adranan yang sempat dilewati tadi. Pulau Adranan memiliki luas sekitar 5.000 meter persegi. Memiliki pantai yang berpasir putih, dengan air laut yang jernih. Bisa melakukan kegiatan menyelam jika ingin menikmati pemandangan bawah lautnya.

Pulau Adranan biasa digunakan warga jika melakukan ritual mandi bulan Safar atau upacara membersihkan diri. Daya tarik lainnya adalah saat perubahan musim Timur ke Barat atau sebaliknya. Konon kabarnya pasir pantai bergeser sesuai musim.
Berikutnya Saya juga mampir di Pulau Ohoimas atau Pulau Burung pulau berdampingan dengan Pulau Baer. Di pulau Ohoimas tengah dikembangkan wisata bahari sambil berkemah, tempat wisata konservasi burung dan biota laut.

Sumber : Dokumen Pribadi

Saya juga ke Pulau Ut, agak jauh dari Pulau Ohoimas dan Pulau Baer, ditempuh dengan waktu 45 menit. Pulau Ut dikelilingi pasir putih. Pecinta olah raga selancar dapat menikmati pantai ini, pada musim gelombang lautnya cukup tinggi.

Ternyata, Kota Tual memiliki 66 pulau yang hampir sebagian besar pulau karang yang berpasir putih. Sebanyak 13 pulau berpenghuni 53 pulau lainnya tidak berpenghuni. Pulau-pulau yang tidak berpenghuni, selain untuk lahan pertanian, perkebunan, dan sebagian di antaranya dikembangkan sebagai pusat Wisata Bahari.

Tergoda ingin pergi ke kawasan ini, keindahan Pulau Baer memang harus dibayar dengan harga yang mahal. Untuk mengunjunginya dibutuhkan merogoh isi kantong yang tidak sedikit. Dari harga transport (pesawat, mobil, speed boat) sampai membayar resort tempat nginap namun itu sesuai dengan mahakarya alam yang dinikmati.

Sumber : Dokumen Pribadi

Tidak ada yang lebih indah dari pada melihat kegigihan laut yang menolak mencumbu bibir pantai, meski berkali-kali harus menjauh terbawa arus.

Saya biarkan kaki dihempas air. Saya tetap berdiri di atas hamparan pasir di pinggir pantai, sesaat air merendamnya sebagian, sesaat juga hilang lenyap dan menjauh.

Kenangan keindahan pulau ini akan selalu hidup, sekali pun jejak kaki Saya di pantai telah hilang di hapus ombak. Ombak tidak mampu menghapus jejak keindahannya yang telah terukir menyatu di palung hati Saya.

Makassar, Februari 2022
Terima kasih kepada; Yandri, Kaswati, Karim, dan Metamgfirul yang menemani perjalanan ini.




4 Comments

  1. March 11, 2022 at 7:55 am

    agussalimabs@gmail.com

    Reply

    Alhamdulillah, walaupun belum kesana tapi setelah membaca tulisan Ibu terasa sudah dipulaunya, terima kasih Ibu atas wawasannya

  2. March 5, 2022 at 12:58 pm

    Harny

    Reply

    panorama eksotis memaksa pembaca menghabiskan perjalanan hingga diakhir tulisan ini… Subhanallah Mahakarya yg patut diabadikan. Trims ibunda hebat sdh berbagi cerita indah tuk kami

  3. March 5, 2022 at 6:07 am

    SYAMSUDDIN

    Reply

    Luar biasa. Saya ikut menikmati keindahan alam pulau Baer da alam sekitar nya lewat kisah ini. Sungguh indah sekali terima kasih Bu Daswatia telah berbagi untuk kita kita yang tidak sempat ke sana. Semoga banyak bermanfaat untuk kita semua terutama untuk Ibu Daswatia.🙏👍

  4. March 5, 2022 at 5:42 am

    Much. Khoiri

    Reply

    Kisah perjalanan yang bermakna, diabadikan dalam tulisan yang bagus. Video dan foro2nya sangat mendukung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree