February 27, 2022 in Jelajah Nusantara, Uncategorized

Situs Gua Binsari ( Jepang )

Situs Gua Binsari (Jepang)
Bukti Kekejaman Sekutu terhadap Jepang
Oleh Telly D

Gua yang masih berisi tulang-belulang termasuk tengkorak manusia dan banyak sisa-sisa mortir, peluru, senjata, topi baja, bangkai mobil yang berserakan menjadi bukti sengitnya penyerangan Sekutu terhadap Jepang di Gua Binsar, Biak Papua.

Cagar Budaya Situs Goa Binsari
Sumber : Dokumen Pribadi

Gua Binsari atau Gua Jepang, adalah salah satu dari beberapa peninggalan bersejarah Perang Dunia II yang terdapat di Pulau Biak, Papua.

Nama asli gua ini adalah Abyab Binsari yang berarti β€œGua Nenek.” Masyarakat di sekitar gua percaya sebelum tentara Jepang datang, gua itu dihuni oleh seorang nenek, namun nenek itu kemudian menghilang tanpa jejak.

Abyab Binsari menjadi saksi bisu Perang Dunia II yang terjadi saat itu, yaitu pada tanggal 27 Mei 1944 hingga 20 Juni 1944.

Biak pada masa penjajahan mendominasi jalan masuk ke Teluk Geelvink, di dekat ujung barat Pulau Papua, sehingga dipertahankan oleh 11.000 pasukan Jepang di bawah komando Kolonel Kuzume Naoyuki.

Lokasi Gua Binsar yang strategis, tepatnya di kampung Sumberker, distrik Samofa. Pasukan Jepang menggunakannya menjadi tempat pertahanan dalam Perang Dunia II dari pasukan Sekutu.

Jepang di bawah pimpinan Kolonel Kuzume dari infantri 222 melawan musuh dengan menggunakan taktik jaringan bawah tanah agar dapat dengan mudah menaklukkan pasukan Sekutu.

Dari dalam gua ini pasukan Jepang melancarkan serangannya dengan menembak jatuh pesawat sekutu yang lewat tepat di atas gua ini, namun dengan kondisi ini sekutu justru dapat mengetahui posisi tantara Jepang dengan tepat.

Resimen Infantri ke-162 dari Divisi ke-41 AD AS mendarat di Biak pada 27 Mei 1944, dan pada pukul 5.15 sore berhasil mendaratkan 12.000 orang pasukan dengan 12 tank Sherman, 29 artileri lapangan, 500 kendaraan, dan 2.400 ton suplai.

Bukti sejarah senjata perang jaman dahulu di Situs Goa Binsari
Sumber : Dokumen Pribadi

Penyerangan ke Gua Binsari dilakukan pasukan Jepang diperkirakan sekitar 3.000 orang tewas terjebak dan terkubur di dalam gua saat bom dari sekutu dijatuhkan. Hingga saat ini tercatat 850 hingga 1.000 dari jasad pasukan Jepang tersebut telah dipulangkan ke Jepang.

Gempuran sekutu yang sengit dan terus menerus dari dataran sekitar dan tepian-tepian puncak perbukitan, ibarat badai peluru dan proyektil meriam membuat tantara Jepang terjebak dan hanya bisa berlindung tanpa bisa ke mana-mana di dalam Gua Binsari. Setelah malam tiba, barulah traktor-traktor amfibi berhasil mengeluarkan mereka dari jebakan tersebut.

Pada hari berikutnya, mereka mencapai lapangan Mokmer, dengan sasaran lapangan Sorido. Pasukan Jepang tetap bertahan menunda jatuhnya lapangan Mokmer selama sepuluh hari.

Karena penundaan tersebut, markas Komando AU ke-5 di Nadzab mengatur agar Pulau Owi, yang berada di sebelah selatan pantai Bosnik (hanya beberapa kilometer sebelah timur Mokmer), direbut pada tanggal 2 Juni.

Di sana tantara sekutu membangun dua landasan sepanjang 7.000 kaki. Sebuah detasemen garis depan ditempatkan di sana bersama 15.000 orang pasukan. Penyerangan dilakukan kembali dengan satu grup pesawat amfibi dari teluk Korin pada tanggal 20 Juni. Pada tanggal 22 Juni, Kolonel Kuzume membakar panji-panji kesatuan Jepang lalu melakukan hara kiri.

Laksamana Toyoda membutuhkan landasan-landasan di Biak untuk menyerang Armada Pasifik AS. Ia meneruskan serangan dengan melancarkan Operasi Kon, upaya untuk menyelamatkan Biak.

Sebuah serangan pada tanggal 8 Juni berhasil dibendung oleh kekuatan laut Amerika dan Australia. Serangan pertama pada tanggal 1 Juni dibatalkan ketika sebuah pesawat Jepang memberi laporan keliru yang menyatakan kehadiran sebuah kapal induk AS, dan serangan kedua pada tanggal 13 Juni dialihkan ke utara, ke Laut Filipina untuk menyerang kapal-kapal induk Armada ke-5 AS. Serangan itu mengikut sertakan kapal-kapal tempur super Jepang, Yamato dan Musashi.

Ketika mengunjunginya, Saya melihat banyak sisa-sisa mortir, peluru, senjata, bangkai mobil, yang menjadi bukti dahsyatnya penyerangan saat itu yang di pajang bertumpuk di halaman depan situs ini.

Juga masih terdapat tulang-belulang seperti tengkorak, tulang kaki, tangan tentara Jepang yang tewas pada peristiwa itu. Sebagian tulang-tulang tersebut sudah dikremasi dan dibawa ke Jepang untuk diberikan kepada keluarganya.

Gua Binsari sudah menjadi museum alam yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya, terdapat tulang belulang dari tentara Jepang yang tersimpan rapi dalam suatu ruangan. Selain itu, terdapat pula artefak, senjata, alat makan, seragam, mortar, tank, hingga alat-alat pribadi milik tentara Jepang seperti botol obat, kacamata, dan lainnya.

sisa-sisa mortir
Sumber : Dokumen Pribadi

Saya dan pengunjung lain memasuki gua yang ada di sana. Gua Binsar berbeda dari gua atau bunker perlindungan tentara Jepang yang biasa Saya kunjungi.

Gua ini bukanlah gua buatan yang sengaja digali atau dibuat melainkan gua alami lengkap dengan stalagtit yang menggantung indah di atap gua yang tinggi.

Setibanya di mulut gua, untuk dapat mencapai dasar gua, harus menuruni anak tangga yang basah dan lembab. Saya pun mencoba turun ke dasar gua.

Tiba di dasar gua, disuguhi pemandangan yang indah tetapi ada rasa merinding. Mengingat cerita di dasar gua ini pernah terjebak 3.000 pasukan Jepang yang meninggal akibat dijatuhkan bom dan drum-drum bahan bakar di atas gua oleh tentara Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mc. Arthur hingga gua tersebut luluh lantak.

Gua Binsari memiliki kedalaman sekitar 45 meter dan panjang 180 meter yang menjadi saksi bisu peristiwa pada tahun 1944, sengitnya perlawanan Jepang melawan Sekutu saat Perang Dunia II, dan banyaknya korban jiwa dari pasukan Jepang yang berjatuhan.

Menggunakan senjata jaman dahulu
Sumber : Dokumen Pribadi

Situs Gua Binsari dikelola oleh Yayasan Binsari. Saat ini Pemerintah Daerah memberikan bantuan kepada yayasan tersebut berupa: pembuatan jalan, perbaikan tangga, pembuatan kamar mandi, dan pembangunan museum.

Waktu tempuh Gua Binsari sekitar 30 menit dengan menggunakan transportasi darat roda dua atau roda empat dari kota Biak. Gua ini menjadi salah satu destinasi yang sering dikunjungi oleh wisatawan.

Tempat ini juga menjadi sumber edukasi bersejarah. Gua Binsari telah diusulkan oleh Pemerintah setempat untuk dijadikan sebagai objek wisata warisan dunia UNESCO.

Banyak orang yang telah meninggal namun nama baik mereka tetap hidup dan kekal. Banyak orang yang masih hidup tapi seakan-akan mereka sudah mati karena tidak memberi kegunaan dan manfaat.

Makassar, Februari 2022




6 Comments

  1. April 19, 2024 at 4:44 pm

    Zobacz jak

    Reply

    Outstanding feature

  2. March 2, 2022 at 8:18 am

    Harnys

    Reply

    Teims coretanya Bu, banyak Pesan moral untuk anak bangsa

    1. March 4, 2022 at 5:31 pm

      daswatiaastuty

      Reply

      terima kasih

  3. February 28, 2022 at 7:03 am

    Much. Khoiri

    Reply

    Cakep dan sangat innformatif. Mdh2an segera lengkap untuk satu buku.

    Sehat selalu, salam literasi.

    1. March 4, 2022 at 5:32 pm

      daswatiaastuty

      Reply

      terima kasih

  4. February 28, 2022 at 4:47 am

    Sitti Hajrah

    Reply

    Terima kasih sharingnya bu. Sangat bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree