December 27, 2021 in Catatan Harianku, Uncategorized

Berani Berbuat Berani Bertanggung Jawab

Post placeholder image

Berani Berbuat Berani Bertanggung Jawab

Oleh : Telly D

Berani berbuat berani bertanggung jawab adalah hukum  sebab akibat. Berani mengambil tindakan harus berani dengan konsekuensi yang ditimbulkannya. Ayah melatih Saya berpikr sebelum bertindak sehingga tidak lari dari tanggung jawab sepahit apa pun.

Hujan baru saja turun. Bunyi tetesan air hujan jatuh di atas atap rumah yang beratap seng demikian bergemuruh. Bunyi air yang jatuh menyentuh tanah pun tidak kalah gemeresiknya memberi isyarat betapa derasnya hujan.

Langit yang tadinya cerah dan tersenyum tanpa permisi berubah menjadi murung dan mendung.  Awan gelap berarakan.

Awan berat membawa  air dalam arakannya. Petir menyambar di sela-sela awan  menyisakan jejak pijar kilat yang mengukir langit. Gemuruh guntur sambung menyambung bercampur angin kencang. Ranting pohon meliuk-liuk mencoba bertahan dari tiupan angin. Suasana menjadi mencekam.

Semua mahluk hidup menghindari resiko menantang hujan yang bercampur angin. Bergegas mencari tempat aman untuk berlindung. Ayam naik ke terataknya di kandang. Kucing tetangga masuk bergelung dalam dus di atas meja. Burung ketilang yang bersarang di atas pohon segera kembali ke sarang, melebarkan sayapnya melindungi anaknya yang baru beberapa hari menetas.

Musim hujan memberi tanda kedatangannya. Jika musim hujan di desa Saya, hujan bisa turun terus menerus tanpa berhenti berhari-hari dalam seminggu.

Air hujan ibarat ditumpahkan dari langit saja, membuat semua halaman sekeliling rumah tergenang air, termasuk lapangan sepak bola dan lapangan volly yang ada di seberang jalan di depan rumah.

Genangan air yang setinggi lutut telah mengubah lapangan itu  menjadi kolam renang. Kolam yang  menunggu Saya untuk  berenang atau berkubang di situ.

Ketika musim hujan, semua aktivitas di luar rumah dihentikan. Ibu menggantinya dengan aktivitas dalam rumah. Musim hujan bisa berlagsung 3 bulan lamanya dengan kondisi hujan terus menerus.

Ceritera baiknya, Saya terbebas dengan pekerjaan rutin di luar rumah, Saya tidak perlu menyapu halaman apalagi menyiram bunga. Kami hanya berkumpul di dalam rumah bersama ibu, ayah, dan saudara-saudara bersenda gurau, berakrab-akrab, saling mengganggu sambil mengerjakan sesuatu.

Ibu memberi perhatian ekstra dengan mendesain aktivitas yang mesti kami lakukan. Ibu membeli buku bacaan yang banyak, mungkin maksudnya supaya kami tidak merasa bosan, mengisi waktu di rumah dengan membaca, itu masih ditambah lagi dengan membawa bahan sulaman dan rajutan.

Ibu juga  selalu memastikan bahwa tubuh atau perut kami tetap hangat tidak kedinginan. Ibu selalu mengkhawatirkan cuaca dingin dapat membuat kami jatuh sakit.

Pulang sekolah, istirahat di bawah selimut yang hangat dengan perut kenyang di tengah derasnya hujan, jelas sangat menyenangkan. Kesempatan ini Saya gunakan sebaik-baiknya untuk memanjakan diri tanpa terganggu dengan jadwal ibu yang ketat.

Namun jika boleh memilih, Saya lebih suka bermandi hujan, kuyup dan menggigil kedinginan sambil berenang atau berkubang di lapangan berlumpur depan rumah.

Memilih mandi hujan adalah pilihan yang beresiko tinggi. Ibu sangat cemas jika ada di antara kami mandi hujan, takut sakit. Tidak boleh mandi hujan adalah aturan yang masuk kategori level satu di rumah. Aturan level satu adalah aturan yang tidak dikompromikan. Pelanggarannya pasti menuai sangsi berat.

Saya selalu kesulitan mengatasi pesona air hujan yang menggoda dengan daya pikat yang tinggi. Lebih tinggi dari ketakutan dengan hukuman yang bakal diterima

Sensasi mandi dalam guyuran hujan adalah kenikmatan yang tiada duanya. Jika rangsangan itu berkobar, Saya meresponsnya dengan melemparkan selimut dan meninggalkan tempat tidur.

Awalnya Saya hanya duduk di atas jendela kamar yang tinggi, sambil memperhatikan air hujan yang jatuh bergemuruh berlomba-lomba menyentuh tanah, dan berkejar-kejaran mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Saya mulai menimbang-nimbang,

Mandi hujan, pasti nikmat sekali.

Berenang ke sana ke mari, tentu lebih sedap.

Kesempatan ini tidak selalu datang, hujan lebat tidak setiap hari,

tapi pasti kena marah.

namun bagaimana jika ingin sekali.

Diskusi dalam diri terus menerus, memaksa untuk memutuskan mandi hujan atau tidak.

Saya mengintip ke kamar tidur utama, ibu sudah istirahat dengan pulas, Saya membutuhkan orang lain untuk menguatkan mengambil keputusan. Ada ayah yang belum tidur.

Saya memanggil ayah dengan isyarat tangan, ayah mendekat dan Saya berbisik.

Saya ingin mandi hujan, bisik Saya pada telinga ayah.

Ayah mengamati wajah Saya dengan teliti kemudian mengatakan:

Tapi kamu tahukan aturannya yang tidak boleh mandi hujan? tanya ayah juga dengan berbisik.

Tahu, kata Saya dengan tambahan anggukan kepala yang keras.

Tapi Saya tetap ingin, sambung Saya dengan mantap tanpa keraguan.

Sudah mempertimbangkan resiko yang akan kamu terima dengan keputusan yang kamu pilih? tanya ayah dengan serius.

Sudah, jawab Saya mengatasi nada seriusnya.

Sudah kamu pertimbangkan resiko ini apa setara dengan kenikmatan yang kamu peroleh? Ayah meminta Saya berpikir lagi.

Sudah….sudah… sudah, kata Saya dengan tidak sabar, takut banyak diskusi bisa membuat Saya berubah pikiran.

Setelah yakin bahwa Saya sudah memutuskan melalui pertimbangan matang, maka ayah menyetujui Saya bermain di tengah hujan deras.

Ayah membukakan pintu. Ayah menyilakan Saya keluar rumah dengan terhormat. Ayah masih membekali Saya senyuman dan ucapan hati-hati, pulang setelah merasa puas bermain. kata Ayah menyemangati sambil menepuk bahu saya, sekali pun hal itu jelas tidak boleh.

Betapa senangnya dapat menikmati berlari di tengah guyuran hujan yang berangin. Kesempatan ini mesti Saya gunakan sebaik-baiknya. Berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain untuk merasakan nikmat dan derasnya air yang tercurah dari pipa utama.

Saya berlari bebas di jalanan yang sepi dari orang dan kendaraan. Ada rangsangan untuk menjadi lebih liar. Tangan Saya bentangkan selebar-lebarnya, Saya berlari menyongsong badai hujan, Saya  berteriak sekeras-kerasnya, suara saya membahana membelah langit, betapa senangnya.

Setelah puas berlarian, maka Saya mulai mendekati lapangan sepak bola di depan rumah yang telah berubah menjadi kolam renang.

Saya memulai keasyikan dengan tidur telentang dan berguling-gulingan di air yang tergenang memandangi langit yang bungkam dengan awan hitamnya. Langit yang penuh misteri menumpahkan air hujan seolah-olah memendam kesedihan yang tiada habisnya.

Betapa pasrahnya bumi menerima perlakuan langit. Disentakkan petir, kilat, dan guruh yang menggemuruh yang juga silih berganti. Apa langit sedang menakut-nakuti bumi? Saya berguling-guling dan berciprat-cipratan di air yang tergenang.

Saya melihat ayah berdiri di depan jendela kamar yang menghadap ke lapangan sepakbola, daun jendela kamar terbuka. Mengetahui jadi pusat perhatian. Saya menambah lakon dengan menari, berakrobat dan bersorak-sorak di tengah hujan deras ditonton ayah.

Ayah melambai-lambaikan tangan sebagai isyarat beliau menikmatinya. Itu membakar semangat untuk mengulang gerakan, bahkan saya membonus ayah dengan tarian hujan dengan lebih baik dan lebih bersemangat.

Saya telah menjadi artis penghibur dengan penonton tunggal. Saya telah mengubah lapangan itu menjadi panggung pementasan, deru angin sebagai  musik  pengiringnya, air hujan menambah efek dinamis  ekspresi penarinya.  Suara guntur dan kilatan petir menjadi main light, full light, back light, head light dalam sistem yang otomatik memberi efek dan imajinasi yang kuat. Luar biasa sensasinya.

Namun ketika badan mulai kedinginan dan menggigil, kesenangan itu harus dihentikan. Saya pulang ke rumah, ibu sudah menunggu di depan pintu, dan Saya harus patuh menerima resiko melanggar aturan.

Saya menjalani hukuman yang dieksekusi oleh ibu. Ibu sudah siap dengan baskom kecil yang berisi kacang ijo yang sudah direndam semalaman dan  baru bertunas kecil (touge, cambah). Hukuman saya mememotong ekor kecambah itu sambil menghilangkan topi hijaunya. Betapa menderita melakukan itu satu persatu.

Kesenangan mesti saya bayar dengan berlatih teliti dan sabar yang selalu saya hindari. Ibu tahu persis itu. Saya berusaha tabah menerimanya namun lebih banyak menangis tertahan.  Ternyata Saya tidak setabah yang Saya bayangkan.

Tidak tahan dengan hukuman yang dijalani, Saya mulai mencari bantuan. Di mana ayah ketika Saya dihukum? mata Saya mencari-cari dan menyapu seluruh ruangan.

Ayah tepat berada di ruangan yang sama, tanpa punya hasrat untuk melindungi. Ayah menikmati Saya dihukum. Ayah melakukan pembiaran, membiarkan ibu menyelesaikan tanggung jawabnya.

Saya yang tadinya merasakan bahagia sekarang harus merasakan hukuman dari kebahagiaan yang melanggar aturan.

Dalam sesegukan tangis, Saya menatap ayah, Saya mengirim sinyal, isyarat untuk ayah mau menolong, melindungi seperti apa yang selalu dilakukan.

Saya ingin ada keberpihakan ayah pada Saya. Ayah terlibat mengeluarkan Saya dari rumah. Ayah ikut menikmati tarian balet Saya di bawah derasnya hujan. Menikmati sorak kebahagiaan Saya yang membelah langit.

Saya tahu persis bahwa jika ayah menolong, ibu pasti tidak keberatan. Namun ayah hanya merespons dengan tatapan mata yang bermakna.

Tanggung resiko.

Berani berbuat berani bertanggung jawab.

Bukankah dengan sadar Saya sendiri yang memutuskan melakukan pelanggaran ini?

Harus mau menerima resiko dari pilihan yang saya putuskan sendiri.

Jika Ibu sudah selesai dengan ritual hukuman yang harus Saya terima, barulah ayah mengambil peran. Memeluk, membuka baju basah, memandikan dan membersihkan badan Saya, mencuci rambut dan terakhir menggulung badan Saya dalam handuk besar dan menggendong masuk kamar.

Melalui balutan handuk itu Saya merasakan kehangatan kasih sayang ayah yang tadi menguap entah kemana.

Ayah membantu Saya berpakaian sambil mengobrol.

Puas bermandi hujan? tanya ayah penuh rasa ingin tahu.

Sangat puas, jawab Saya mencoba mengumpulkan harga diri  sekali pun Saya masih dengan tangis sesegukan. Saya tidak mau terlihat lemah.

Besok mau diulang lagi? tanya ayah menantang.

Bisa, lihat semangat Saya besok, ucap Saya tidak kalah sengitnya.

Tidak apa asalkan berani berbuat berani menanggung resiko, berani bertanggung jawab. Kata Ayah juga tidak kalah menantangnya.

Ayah menutup pembicaraan, memastikan baju yang Saya pakai sudah rapi, menggendong Saya ke tempat tidur, memasukkan dalam selimut untuk melanjutkan tidur siang yang tertunda karena pesona mandi hujan.

Saya mengerti bahwa hukuman yang diberikan adalah akibat dari kesalahan sendiri, akibat dari keputusan yang Saya ambil, bukan karena kejahatan dari pihak ayah dan ibu. Saya juga memahami bahwa dengan menghukum bukan berarti orang tua tidak mengasihi Saya lagi.

Saya tertidur lelap dengan pemahaman itu, dan bergumam membujuk diri Saya, berani berbuat berani menanggung resikonya.

Kebiasaan mandi hujan Saya lakukan sepanjang masa kecil, dan sangsi terhadap pelanggaran juga selalu Saya terima. Betapa konsistennya ayah dan ibu.

Kesenangan mandi hujan itu hilang seiring dengan bertumbuhnya Saya menjadi besar. Proses yang Saya lewati menjadi pengalaman hidup dan memberi sumbangan besar pada pembentukan karakter.

Berani berbuat berani bertanggung jawab adalah hukum sebab akibat yang dapat diartikan jika Saya mengambil tindakan harus berani dengan konsekuensi yang ditimbulkannya. Karena itu maka berpikirlah sebelum bertindak, jangan lari dari kenyataan sepahit apa pun, dilatihkan oleh ayah di rumah.

Makassar,  2021.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree