August 15, 2021 in Catatan Harianku, Uncategorized

Sakit, Mau Makan Apa nak?

Post placeholder image

Sakit, Mau Makan Apa nak?
Oleh Telly D

Sakit dan bahagia, dua hal berbeda namun dapat diwujudkan bersamaan. Kebahagiaan dapat digunakan mengusir buruknya rasa sakit.

Jatuh sakit adalah kondisi yang tidak enak. Berdiam diri di rumah, badan meriang karena demam, pencernaan terganggu, selera makan hilang, tulang dan sendi ngilu tidak ada yang suka menikmati hal ini.

Hebatnya, ibu mampu menjungkir balikkan kondisi ini sehingga sakit menjadi hal yang tidak kalah membahagiakan. Si sakit mendapat perlakuan istimewa bahkan boleh memilih makanan yang ingin dimakan. Mau makan apa nak?

Ibu sibuk, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Punya jadwal ketat yang ibu lakoni dengan sangat disiplin, namun begitu saya sakit, ibu hanya punya satu jadwal yaitu merawat dan melayani saya.

Ibu punya ritual, jika ada yang sakit, ibu menghentikan semua aktivitas di luar rumah. Fokus mendedikasikan semua waktu dan perhatian merawat dan melayani si sakit.

‘’Mengapa ibu tidak pergi ke kantor?”, saya suka bertanya.
‘’Ibu yang meyayangi anaknya tidak akan meninggalkan anak yang sementara sakit”, begitu jawaban ibu.
‘’Merawat dan melayani anak yang sakit jauh lebih membahagiakan dan menarik daripada bekerja di kantor’’, ucap ibu menambah keyakinan.

Bahagia adalah kata kunci di rumah. Ibu suka mempromosikan hal ini. Semua aktivitas selalu dimuarakan bagaimana menciptakan rasa bahagia itu.

Sakit membuat ibu menghabiskan waktu, menemani saya sambil bercerita. Ibu pandai sekali menarik perhatian dengan bercerita.

Saya bisa mendengar bagaimana menariknya cerita masa kecil. Saya mendengar banyak cerita yang menginspirasi. Saya bahkan mendengar mimpi terdalam ibu tentang rancangan masa depan anak-anaknya. Kesempatan itu tentu tidak saya dapatkan jika kondisi normal.

Ini yang membuat saya suka menyimpan banyak hal. Menunggu sakit untuk dapat saya komunikasikan dengan ibu.

Kami bercerita sambil berpelukan, sesekali ibu membelai saya mencium saya dan membisikkan kata-kata yang membuat saya melupakan sakit. Kami fokus untuk saling berbagi kemesraan.

Saya suka menikmati mimik ibu jika bercerita. Ibu pandai bercerita. Bahasa lisan dan bahasa tubuhnya menarik.
Saya suka mengamati lakon ibu, sambil mencium aroma wangi tubuh dan rambutnya yang panjang sampai di lantai. Menurut saya, ibu wanita menarik, cerdas, dan wangi.

Setiap kali ibu selesai bercerita, saya selalu mengomentari cerita itu.
Ibu tertawa sambil menutup mulutnya ketika mengakhiri cerita cinta Rama dan Sinta. Saya justru mengatakan,
‘’Saya berpihak pada Rahwana’’.
‘’Saya tidak suka Rama yang meragukan kesucian Sinta’’.
‘’Untuk apa Rama berjuang melibatkan semua orang termasuk membawa pasukan kera jika meragukan kesucian Sinta. Cinta itu harus penuh kepercayaan’’.
‘’Rahwana sesungguhnya yang pejuang cinta, rela melakukan apa saja untuk Sinta. Semua cara dihalalkan termasuk kehilangan nyawanya”, kata saya bersemangat.

Betapa menggeloranya kemarahan saya pada Datuk Maringgi yang membuat Siti Nurbaya lara karena kasih tak sampai.
Ibu tidak bisa menahan gelaknya, ketika saya katakan,
‘’Syukur Datuk Maringgi bukan tetangga, sebab jika dia tetangga, saya akan memanah kakinya dari jendela di samping rumah supaya tidak bisa berjalan mengganggu cinta Siti Nurbaya’’.

Saya ikut mengutuk kedurhakaan Malingkundang yang tidak mau mengakui ibunya. Saya meyakinkan ibu berulang-ulang bahwa hal yang sama tidak akan terjadi pada saya.

Hal lain yang tidak kalah menariknya, ada ibu berarti ada ayah. Ibu selalu satu paket dengan ayah, jika ibu ada di samping, maka ayah dipastikan juga ada di situ.

Saya curiga bahwa ayah tidak sekedar menemani saya sakit. Namun lebih karena ingin selalu dekat ibu. Kami semua mengetahui betapa ayah sangat tergila-gila membuat ibu selalu terpesona. Ayah sudah terpasung dengan pesona ibu.

Sakit membuat saya bisa menikmati cara ayah dan ibu mengisyaratkan cintanya. Saya menikmati ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan. Saya menikmati kilau kebahagiaan yang berpendar pada mata ibu, bahkan saya menikmati cara ayah menyentuh ibu.

Getaran kasih punya kekuatan luar biasa mengusir rasa sakit. Saya suka menikmati kebahagiaan ibu. Saya diam-diam selalu berbisik semoga punya pasangan hidup seperti ayah yang selalu berlimpah perhatian dan kasih sayang.

Cerita baiknya setelah cerita selesai saya akan ditanya, dengan pertanyaan yang saya sudah nantikan,
‘’mau makan apa nak?”

Beberapa saudara saya suka keberatan ketika pertanyaan ini diajukan.
‘’Mengapa pertanyaan diajukan di saat sakit, dimana tidak ada selera untuk makan?’’.
‘’Mengapa tidak diajukan ketika sehat?’’.

Namun bagi saya bukan makannya yang membuat saya ketagihan, perhatian yang diberikan sangat mengesankan.

Sakit membuat dapat meminta apa saja, termasuk meminta makanan kesukaan saudara yang juga dinumpangkan pada saat saya sakit. Orang sehat memanfaatkan kondisi yang ada dan itu sah-sah saja jika yang meminta orang yang sakit.

Betapa bahagianya jika ada yang sakit, kami kumpul keluarga menghibur si sakit sambil makan makanan kesenangan.

Ritual sakit ini menjadi tradisi setelah kami dewasa dan berkeluarga. Saya termasuk yang masih menelepon ibu setiap saya sakit. Saya selalu tersugesti bahwa pelukan ibu dapat memusnahkan semua penyakit dan menggantinya dengan rasa bahagia.

Tradisi itu juga semakin bertambah, ketika selalu ada saudara yang menyanggupi menjadi penyandang dana membeli makanan kesenangan. Makanan kesenangan jadi beragam dan orang yang berkumpul menjadi banyak.

Dua bulan sebelum ibu meninggal saya jatuh sakit. Setiap kali batuk saya muntah. Saya cemas karena pernah diopname dirumah sakit dengan kasus yang sama.

Saya meminta menelepon ibu namun suami dan anak-anak mencegah takut mengganggu istirahat ibu. Saya akhirnya menelepon ibu sambil menangis.

‘’Tidak ada yang tahu menjaga saya jika saya sakit’’, ucap saya dalam telepon.

Malam itu ibu datang ke rumah. Seperti biasa, memeluk dan mencium. Saya tertidur dalam pelukan ibu dan ayah.

Besoknya kami makan makanan kesukaan kami dan makanan kesukaan semua keluarga besar kami. Sakit itu menjadi kebahagiaan kumpul keluarga sambil memberi perhatian dan semangat bagi saya yang sakit.

Tradisi itu membuat anak dan suami mengatakan saya ibu yang cengeng. Setiap sakit lari ke ketiak ibu untuk mencari perlindungan. ‘’Cemen’’, kata mereka.

Tradisi itu tinggal kenangan. Tidak akan terulang lagi, pemilik ritual itu telah menghadap khaliknya. Kematian membuat kami kehilangan ibu. Kenangan itu menyemangati saya bahwa kebahagiaan itu dapat diciptakan kapan saja.
Sakit dan tetap bahagia dapat diupayakan. Kekuatan kasih ibu menjadi motor penggerak menggapai kebahagiaan.

Makassar 10 Agustus 2021 (H31)
Hadiah ultah mengenang almarhumah
Waode Adityarini Aqidah Absahi Djadir Dg Malebbi.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree