July 29, 2021 in Catatan Harianku, Uncategorized

Buta Huruf Vs Pandai Menghafal

Post placeholder image

Buta Huruf Vs Pandai Menghafal

Oleh Telly D

Mengganti kata buta huruf dengan pandai menghafal membuat saya bisa melepaskan diri dari belenggu ketidak mampuan membaca. Label istimewa yang diberikan ayah membuat saya menjadi benar-benar istimewa.

Kejadian itu pada tahun 1968, saya baru saja naik kelas III SD. Ruang makan yang selalu kami gunakan belajar bersama, malam itu hanya digunakan diskusi serius antara ibu dan ayah.

Saya ada di ruangan itu, ikut mendengar pembicaraan yang terjadi. Mereka membicarakan kekecewaannya terhadap saya.

Ruang makan yang biasanya penuh kehangatan gelak tawa, malam itu senyap. Kehangatan kabur diusir oleh kekecewaan ibu. Pisang goreng dan teh hangat yang selalu menarik perhatian jika kami duduk bersama, tergeletak begitu saja, dingin, tidak ada tangan yang berani menyentuhnya.

Semua takut, sedikit sentuhan bisa menyebabkan jadi objek kekecewaan. Saudara saya mencari amannya meninggalkan ruang makan, masuk kamar.

Saya dan ayah harus bertahan. Saya pokok pembicaraan utama. Ayah adalah orang yang mesti bertanggung jawab , yang menurut ibu ikut berperan lalai memberi perhatian kepada saya.

“Iya.. ya…kok bisa 2 tahun lolos tanpa kita ketahui”, suara ayah dengan lembut dari kursi di seberang meja, tempat mereka berdiskusi serius malam itu. Suara ayah berpihak meng‘’iya’’ kan kecemasan Ibu.

Ayah mencoba menenangkan ibu dengan mengelus tangannya dan menggenggamnya. Genggaman ayah malah semakin menaikkan suhu kecemasan. Ibu menarik tangannya, dipakai menutupi wajahnya. Ada rasa malu yang coba disembunyikan di belakang telapak tangan itu. Ibu malu memiliki saya sebagai anaknya.

“Mau jadi apa dia jika tidak bisa membaca” kata ibu mengakhiri diskusi kecemasan itu. Ibu berdiri meninggalkan ruang makan masuk ke dalam kamar.

Diskusi itu tentang saya. Saya yang ketahuan tidak bisa membaca atau buta huruf. Ibu yang menemukan hal itu.

Saya sampai kelas III SD belum bisa membaca dan celakanya setiap tahun saya rangking 1 kelas. Ibu merasa terkecoh dan ayah tidak habis pikir.

Menurut saya, ini terjadi karena jika ibu guru kelas mengajar membaca, saya hanya diminta membaca satu paragraf yang diulang-ulang dari buku gemar membaca yang isinya: Ini Amir, Ini Tuti, Ini Sudin, Ini Ayah, Ini Ibu, ini Bibi, ini Paman, Ini Adik, dan seterusnya.

Karena singkat dan gampang, saya melakukan dengan menghafal saja tanpa mengenal huruf, ibarat orang menyanyi, demikian mudahnya untuk di ingat. Ternyata itulah yang dinamakan buta huruf.

Ibu guru kelas mungkin saja kena efeck hallo. Ibu guru itu juga yang mengajar kedua kakak saya sebelumnya. Kami memang terkenal sebagai keluarga yang cerdas di sekolah, sehingga ibu guru tidak teliti memperhatikan ada anak yang lemah membaca dalam keluarga kami.

Mungkin juga karena guru kelas yang mengajar kami dari kelas satu sampai kelas dua adalah guru yang sama. Kesalahan itu terbawa selama 2 tahun.

Awalnya saya melakukan dengan senang saja. Naik kelas III SD ketika harus membaca banyak dan berlembar-lembar, maka ketahuan rahasia ini.

Cara ayah dan ibu berdiskusi memberi kesan saya bermasalah dengan masa depan jika tidak tahu membaca. Kerasnya reaksi kecemasan ibu, saya memahami bahwa itu hal yang buruk. Tekanan kecemasan itu membuat saya ketakutan.

Saya tertekan sekali, saya mendengarkan kerasnya detak jantung saya yang berpacu, berdegup-degup di dada. Saya merasakan getirnya air ludah yang saya telan. Rasa nyeri mulai menjalar mengisi tepi-tepi ulu hati. Saya mulai menjilati bibir yang terasa kering.

Sambil duduk ayah memanggil, bergegas saya menghampiri “biar cepat selesai” saya berbisik menyemangati diri sendiri. Sangat tidak nyaman tertekan dalam waktu yang lama.

Ayah meminta saya berdiri tepat di depannya. Tangan ayah yang kokoh merangkul kedua bahu saya, kami saling berhadapan dan tatap menatap.

Ayah memeluk saya dalam posisi duduk dengan erat sekali. Badan ayah yang besar membuat seluruh badan saya masuk dalam pelukannya. Saya merasakan kehangatan pelukan ayah.

Saya mengangkat wajah melihat wajah ayah dan menikmati senyumnya. Senyum ayah mengendorkan syaraf saya, senyum itu memberi keyakinan. Ada ayah yang selalu melindungi apapun yang terjadi.

Ayah mulai bertanya:
“Coba katakan ada berapa orang di kelasmu?” tanya ayah menatap saya dengan penuh kasih sayang, membuka pembicaraan.
“Empat puluh tiga orang”. Saya menjawab cepat, takut kelihatan bodoh. Saya pandai menghitung.
“Berapa orang yang pandai membaca?”, ayah semakin serius.
“Semua pandai membaca kecuali saya”, jawab saya getir dan semakin cemas. Itu kenyataan yang mesti saya katakan, saya mesti siap dengan resiko apapun.
“Coba katakan ada berapa orang yang seperti kamu”, kata ayah.
Saya terdiam, ayah mengulangnya.
“Ada berapa orang yang pandai menghafal seperti kamu?”, tanya ayah berulang dengan penekanan suara yang tegas dan mimik yang lain.
“Cuma ada 1 orang”, jawab saya sambil melihat ayah.
“Cuma saya yang seperti itu”. Saya mengulangnya dengan tergagap, takut ayah tidak mendengar.

Ayah spontan berdiri, memeluk saya dengan kebahagiaan yang tulus dan mengatakan dengan bangga.
“Luar biasa nak, betapa istimewanya kamu, cuma ada satu orang yang seperti kamu di kelas itu yang pandai menghafal”. Ayah meneruskan kata itu dengan satu tarikan napas.

“Lihat, betapa bangganya saya memiliki anak seperti kamu”, kata ayah dengan keyakinan yang tidak terbantahkan.
Ayah berdiri memeluk saya dan memberi penghargaan sebagaimana yang biasa dia lakukan jika saya membuatnya bangga. Nanar mata saya menatap ayah.

“Benarkah itu???” saya tergagap, ayah bangga dengan saya?

“Tahukah kamu siapa yang terlemah di kelas?” tanya ayah, saya kemudian mengangguk cepat.
“Dapatkah kamu menyebutnya?”.
“I Bacce”, jawab saya. “Saya bukan yang terlemah karena saya pandai berhitung”, saya membela diri.
“Apakah dia pandai membaca?”, selidik ayah.
“Iya pandai membaca”, jawab saya sambil mengangguk.
“Itu artinya membaca itu gampang nak, orang terlemah di kelas pun mampu melakukannya”.

“Coba lihat dirimu nak betapa istimewanya, menghafal yang susah dapat kamu lakukan dengan sangat baik”.
“Mari, saya temani kamu supaya dapat membaca, jika mengikuti cara saya, pasti bisa”, ayah melanjutkan.
“Semua pekerjaan ada rahasianya” kata ayah memberi jaminan.

Cara ayah melakukan diskusi dan cara ayah menghargai membuat saya merasa menjadi orang yang benar-benar istimewa. Ketika diskusi itu selesai rasanya semua oksigen yang beredar di udara masuk mengisi paru-paru. Dada saya membusung dengan sempurna, wajah saya memerah senang dan kepala saya tegap tanpa tekukan.

Buta huruf bukan masalah. Saya justru orang istimewa yang dimiliki ayah.

“Saya merasa sangat terhormat.”
“Saya ternyata anak yang istimewa”.
Saya ulang kata-kata ayah sebanyak-banyaknya. Saya anak yang istimewa, ayah bangga memiliki saya. Saya merasakan kata-kata itu mengalir mengisi pembuluh darah, membakar semangat dan potensi terbaik saya. Berdebar di dada, mengisi otak dan jantung saya.

Semangat itulah yang membuat saya mampu mengatasi ketidak mampuan. Mampu membaca hanya dalam 1 minggu. Ceritera baiknya tidak ada yang sadar bahwa saya pernah buta huruf, guru saya sekali pun. Ini menjadi rahasia keluarga kami.

Label istimewa yang diberikan ayah membuat saya tidak terbendung berprestasi di sekolah dan menjadi benar-benar istimewa di setiap jenjang. Tidak ada yang menyangka, bahwa mengganti kata buta huruf dengan pandai menghafal oleh ayah memiliki daya dorong yang tinggi, membuat saya lepas dan bergerak menembus belenggu ketidak mampuan.

Dorongan kata istimewa mulai saat itu saya pakai menyemangati diri. Kata-kata yang ayah suntikkan menjadi sugesti sempurna untuk menjadi benar-benar istimewa. Tidak ada yang menyangka bahwa Doktor pertama dalam keluarga, diberikan oleh anak yang punya riwayat buta huruf.

Betapa bahagianya ketika ayah dan ibu hadir pada acara promosi doktor. Betapa tersenyum lebarnya saya ketika ayah dan ibu membisikkan kata:

“Betapa berbahagianya saya”.
“Hari ini saya melihat keberhasilan anak buta huruf saya jadi doktor dengan predikat cumlaude”.
“Luar biasa nak caramu membahagiakan saya”.
“Saya bangga sekali”.

“Saudaramu yang lain memang sangat pintar, namun kamu memiliki kebanggaan bahwa kehormatan doktor pertama itu ada pada kamu yang punya riwayat buta huruf yang mereka anggap terlemah dari mereka”.

“Bersyukurlah nak dengan keistimewaan yang Allah berikan padamu”.
Ayah memeluk saya seperti yang selalu beliau lakukan jika saya membuatnya bangga, saya rasakan betapa hangatnya pelukan ayah hari itu. Saya merasakan tangan ayah yang memeluk saya bergetar akibat mendalamnya rasa bahagia.
Haru saya menerima ucapan ayah, tanpa disadari air mata kebahagiaan itu menetes di wajah saya. Terima kasih ayah. Pandainya ayah mendidik. Saya tidak bisa bayangkan jika ketika diskusi itu tidak seperti itu, tentu hasilnya akan jadi lain.

Mengganti kata buta huruf dengan kata pandai menghafal membuat saya benar-benar jadi istimewa. Hanya seorang ayah visionerlah yang mampu melakukannya, Saya jadi hebat dan benar-benar istimewa saat itu, menjadi alumni terbaik universitas. Ayah memang hebat, sehingga tidak heran saya jadi istimewa. Nikmat Allah yang tak henti saya syukuri.

Saya mencintai ayah dengan segenap jiwa dan raga.

Makassar , 27 Juli 2021 (H17).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree