June 13, 2021 in Umum, Uncategorized

Keranjang Terbang. Keberanian menghadapi problema hidup

Keranjang Terbang.

Keberanian menghadapi problema hidup

Oleh Telly D

Hanya anak-anak yang punya keberanian menghadapi problema hidup yang mampu mengambil keputusan  bergelantungan pada ‘keranjang terbang’ melintasi sungai demi memperpendek jarak dan menghemat waktu ke sekolah.

Video berdurasi 29 detik memperlihatkan keberanian itu. Tiga orang murid SD Desa Kuntu, Kabupaten  Kampar Timur, Provinsi Riau  mengenakan seragam merah-putih, melintasi sungai dengan bergantung di keranjang rotan yang dihubungkan dengan tali dan katrol, bak flying fox melayang di udara. Keranjang terbang yang digunakan oleh 7 orang anak (2 TK, 5 SD, dan  2 SMP) setiap hari jika berangkat ke sekolah.

Luar biasa keberanian itu sekaligus juga sangat berbahaya dan beresiko tinggi. Video  jadi viral  mengundang reaksi yang bermacam-macam dari berbagai kalangan, semua prihatin.

Terekam dalam video, anak-anak hanya  mempercayakan keselamatan-nya pada kekuatan tangan kecilnya yang bergantung selama keranjang itu melayang.

Bisa dibayangkan jika genggaman anak lepas, anak-anak akan terjatuh masuk sungai dan berbagai resiko bisa terjadi.  Belum lagi peluang jika  tali yang membentang disungai itu putus, sangat berbahaya.

Pendidikan merupakan amanat UUD 1945 Pasal 3 ayat 1 dan 2. Ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan. Ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pemerintah pun terus menerus mengupayakan kemudahan akses pendidikan yang merata dan berkeadilan, namun disadari belum seluruhnya berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Kondisi ini membuat ketua Komisi V DPRD Provinsi Riau, Eddy Yatim, bersuara vokal dan  menilai tindakan itu sangat membahayakan, tidak boleh dibiarkan.

Eddy prihatin, lebih dari 70 tahun Indonesia merdeka, namun masih ditemukan anak yang belum mendapat pendidikan secara merdeka. Tragisnya, menurut Eddy, Provinsi Riau dikenal sebagai penyumbang devisa terbesar.

Komentar senada disampaikan juga oleh anggota Komisi V Bidang Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial, Ade Hartati. Ade menilai pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan fasilitas.

“Pendidikan tentu tidak bisa berdiri sendiri, dalam arti kata bahwa pendidikan dasar yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota juga harus memiliki kesinambungan dengan jenjang pendidikan menengah. Dengan kata lain, dibutuhkan keterlibatan pemerintah provinsi untuk memastikan keberlangsungan pendidikan dasar”.

Salah satu yang terpenting, kata Ade, adalah soal akses dan sarana pendukung untuk bisa menempuh pendidikan, sehingga tak ada anak putus sekolah. “Baik itu dari segi akses dan kesiapan sarana-prasarana pendidikan dasar, sinergisitas antara kabupaten kota dan provinsi, bahkan pemerintah pusat, tentu diperlukan untuk menekan angka putus sekolah”, katanya.

“Akses harus dipastikan berkeadilan, mengingat pendidikan harus berkesetaraan dan tanpa diskriminasi. Tidak boleh mendiskriminasi, bahwa mereka bukan anak-anak tempatan, mereka hanya anak pekerja. Perlu diingat bersama, bahwa pendidikan merupakan urusan wajib dari pemerintah,” tegas politikus PAN tersebut.

Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto bersegera mengunjungi tempat kejadian.  Memastikan hal ini benar terjadi, dan berjanji akan membangunkan jembatan gantung untuk digunakan anak-anak  menyeberang jika berangkat sekolah.

Pemerintah telah menyiapkan jembatan  untuk keperluan menyeberangi sungai Siantan Kuntu, Kampar Kiri,  Riau, namun jika menggunakan jembatan mereka perlu berjalan kaki sejauh10 km memutar. Anak-anak memilih  melintasi sungai dengan  menggunakan keranjang sehingga jarak dan waktu  dapat diperpendek.

Tentu ada pengalaman yang anak-anak itu dapatkan sebelumnya. Mereka merasakan betapa jauhnya mereka berjalan. Mereka merasakan tiba  di sekolah dalam kondisi lelah  namun harus tetap mampu konsentrasi belajar.  Tantangan itu yang membuat mereka mencari solusi lain sehingga bisa tiba di sekolah tidak kelelahan.

Mereka menemukan salah satu cara melintasi sungai yang ada di kampung itu, yaitu keranjang rotan yang digunakan untuk langsiran kelapa sawit.

Berani menghadapi problema hidup dan berani mengambil keputusan untuk mengatasi. Hal  seperti  itu yang diinginkan  dalam pendidikan  kecakapan hidup.

Pilihan menggunakan keranjang terbang  tentu  melalui diskusi. Saya yakin anak-anak itu bereksperimen dan mencobanya beberapa kali yang mungkin saja mereka punya pengalaman jatuh.

Terekam dalam  video  mereka bekerja bersama menarik keranjang jauh jaraknya dari sungai, kemudian dengan kecepatan berlari cepat mereka dapat melentur  dan meluncur melintasi sungai dengan baik. Hal itu berarti mereka sudah punya pengalaman mencobanya berkali-kali.

Harusnya kita memuji keberanian mereka, bukan bereaksi sebaliknya yang mungkin saja bisa menguapkan keberanian yang sementara mereka asah.

Kecakapan hidup (life skills) adalah kemampuan dan pengetahuan seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara proaktif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya dengan kemampuan berinteraksi dan beradaptasi dengan orang lain, keterampilan mengambil keputusan, pemecahan masalah, berfikir kritis, berfikir kreatif, berkomunikasi yang efektif, membina hubungan antar pribadi, kesadaran diri, berempati, mengatasi emosi dan mengatasi stres.

Menurut Tim Broad-Based Education (2002), kecakapan hidup atau life skills sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya (Depdiknas, 2002).

Undang Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa pendidikan kecakapan hidup (life skill) adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri.

Tujuan pendidikan kecakapan hidup  adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang berarti bagi peserta didik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari, seperti proses sosial, fungsi sosial, serta masalah-masalah kehidupan.

Hal ini dilakukan untuk  mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi.  Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai prinsip pendidikan yang berbasis luas (Broad Based Education).

Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (School Based Managemen).

Memberdayakan aset kualitas batiniah, sikap dan perbuatan lahiriah peserta didik melalui pengenalan (logos), penghayatan (etos), dan pengalaman (patos) nilai-nilai kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. 

Memberikan wawasan yang luas tentang perkembangan karir, yang dimulai dari pengembangan diri, eksplorasi karir, orientasi karir, dan penyiapan karir. 

Memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat memampukan peserta didik untuk berfungsi menghadapi kehidupan masa depan yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus.

Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekolah melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah, partisipasi stakeholders, dan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah.

Mamfasilitasi peserta didik dalam memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi sehari-hari.

Kecakapan hidup dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skill/GLS) yang terbagi dalam kecakapan personal (personal skill) dan kecakapan sosial (social skill) sedangkan kecakapan hidup yang bersifat khusus (specific life skill/SLS) mencakup kecakapan akademik (academic skill) dan kecakapan vokasional (vocational skill) (Depdiknas, 2007).

Saya sependapat  bahwa tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat dan orang tua. Saya juga  setuju bahwa keamanan anak-anak tentu harus jadi perhatian utama pemerintah, masyarakat, dan orang tua.

Namun hal ini tetap dapat disandingkan dengan bijak.  Anak menikmati petualangan yang penuh tantangan dengan aman, didampingi orang tua atau orang yang lebih dewasa.

Keranjang terbang bukan lagi keranjang menyabung nyawa, namun keranjang dimana ada proses belajar  yang aman dan terkendali.

Orang tua  dapat berperan memastikan anak-anak mampu mengatasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjatuh ke sungai. Anak-anak bisa belajar jatuh, atau belajar berenang atau belajar melakukan pertolongan pertama jika ada kawannya  yang tenggelam.

Anak-anak berlatih di alam bebas memang sangat dianjurkan.  Tujuannya agar anak dapat berkembang sempurna  secara alami dan tangguh menghadapi kondisi yang ada.

Jepang melakukan hal ini dengan baik. Anak-anak  sekolah di jepang tidak dibenarkan diantar ke sekolah, mereka harus berani berjalan kaki  sendiri. Mereka berjalan kaki berkelompok bergantian menjadi pemimpin kelompok, kepemimpinan dilatihkan di jalan raya.

Cukup jauh jarak yang mesti ditempuh karena dalam 1 distrik hanya  ada  satu  sekolah  untuk setiap jenjang. Setiap hari mereka berlatih mengatasi  kelelahan berjalan.

Mereka juga diharuskan memikul tas sekolah yang distandarkan beratnya 7 kg. setiap hari mereka berlatih menguatkan bahunya  untuk memikul beban yang berat melampaui usianya.

Jepang tak menganut paham bersenang-senang sambil belajar. Jepang  selalu menanamkan bahwa mereka adalah bangsa yang kalah perang sehingga anak-anak harus bekerja keras dan bermental kuat untuk membangun negara kembali.

Dukungan masyarakat ditunjukkan dengan mengawal anak-anak ini di jalan. Masyarakat  memberi bantuan dengan memastikan mereka bisa tiba di sekolah dengan selamat, menyeberang dengan selamat dan naik ke bus sekolah dengan selamat.

Dukungan Orang tua di pesisir pantai  Pulau Tomia-Wakatobi tak kalah hebatnya.  Melatih keberanian dan  ketangguhan anak menjinakkan gelombang justru dilakukan pada saat badai. Badai membawa gelombang besar.

Anak-anak pulau dengan bersemangat berenang ke tengah laut menyongsong gelombang besar dengan membawa sampan kecil. Para orang tua memberi dukungan dengan mengawasi dari  dermaga.

Menyemangati  anak berlatih mendayung perahu di bawah badai  di tengah gelombang samudera. Perahu kecil anak itu timbul tenggelam dipermainkan ombak dan berkali-kali terbalik, namun mereka mengulanginya dengan senang. Luar biasa resikonya bisa nyawa melayang digulung ombak. Latihan itu membuat anak pulau menjadi pelaut ulung yang berani dan tangguh.

Hal semacam itu biasa dilalakukan anak-anak pulau, demikian pula anak-anak pegunungan menaklukkan berbagai tantangan dengan senang hati. Walaupun demikian, keterampilan yang mereka miliki masih diperoleh berdasarkan pengalaman, belum memadukan dengan teori.

Kita harusnya berbangga melihat tingginya motivasi belajar yang penuh semangat yang ditunjukkan  anak-anak Kampar. Keterbatasan sarana transport tak menghalangi menggapai masa depan. Berangkat ke sekolah dengan gembira.

Melalui keranjang terbang itu mereka melatih kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan menggali dan menemukan informasi, kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan serta kecakapan memecahkan masalah secara kreatif.

Melatih kecakapan sosial bekerja sama dalam kelompok, menunjukkan tanggung jawab sosial, mengendalikan emosi dan berinteraksi yang  menimbulkan hubungan yang harmonis.

 Wujudnya dapat kita lihat seperti berkomunikasi dengan baik, bekerja sama membangun semangat,  dan kepemimpinan.

Akhirnya, Menjaga keamanan dan keselamatan anak penting namun tak kalah pentingnya menjaga keberanian dan motivasi anak untuk tetap bersemangat belajar. Dukungan orang tua, keluarga, dan masyarakat  sangat berperan menjaga semangat belajar anak.

Makassar,  Juni 2021

 



5 Comments

  1. March 25, 2024 at 4:23 pm

    Christoper Fitzhenry

    Reply

    Excellent write-up

  2. June 14, 2021 at 6:07 am

    Tri Sukmono Joko

    Reply

    Wo sangat menginspirasi semoga jadi perhatian pemerintah.

  3. June 14, 2021 at 12:04 am

    Susanto

    Reply

    Luar biasa. Cerita keranjang terbang yang terbang ke mana-mana.

  4. June 13, 2021 at 11:54 pm

    Much. Khoiri

    Reply

    Penutupnya mengandung pesan dan harapan yang pas.

  5. June 13, 2021 at 11:53 pm

    Much. Khoiri

    Reply

    Tulisan yang berisi. Lanjutkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree