May 1, 2024 in Uncategorized

“Nasi Tumpeng”

“Nasi Tumpeng”

Harapan dan Penghargaan

Oleh Telly D.


“Belajar adalah proses seumur hidup. Usia hanya angka, semangatlah yang membuat kita tetap muda dalam pengetahuan.”

Sebagai orang Indonesia, saya sangat yakin anda familiar dengan Nasi Tumpeng. Hidangan tradisional Indonesia yang biasanya disajikan dalam acara-acara spesial, termasuk perayaan ulang tahun. Nasi tumpeng terdiri atas nasi kuning yang dibentuk seperti gunung kecil dan dikelilingi oleh aneka lauk-pauk serta makanan pelengkap lainnya, seperti ayam goreng, telur rebus, sambal, tahu, tempe, dan sayuran.

Demikian halnya dengan pengalaman saya, ketika saya memimpin dua lembaga besar di Yogyakarta, nasi tumpeng selalu menjadi tradisi hadiah yang saya terima, bahkan saya pernah beberapa kali menerima hadiah nasi tumpeng lebih dari satu tampah, disertai karangan bunga ketika saya berulang tahun atau ulang tahun lembaga yang saya pimpin.

Nasi tumpeng memiliki sejarah yang panjang di Indonesia, diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara. Awalnya, nasi tumpeng digunakan sebagai bagian dari upacara adat dan ritual keagamaan, seperti persembahan kepada dewa atau roh nenek moyang. Bentuknya yang menyerupai gunung kecil melambangkan gunung suci yang dihormati dalam tradisi kepercayaan lokal.

Demikian halnya dengan makna dari pemberian nasi tumpeng dalam perayaan ulang tahun mencakup beragam aspek. Nasi tumpeng melambangkan harapan akan kesuksesan dan kebahagiaan di masa depan bagi penerima. Bentuknya yang menyerupai gunung kecil merupakan simbol keberuntungan dan keberhasilan, menggambarkan cita-cita untuk mencapai puncak kesuksesan dalam kehidupan.

Pemberian nasi tumpeng mencerminkan nilai-nilai budaya seperti kerukunan, kebersamaan, dan penghargaan terhadap orang lain. Ini adalah ungkapan dari kedekatan hubungan antara pemberi dan penerima, serta apresiasi akan kontribusi dan keberadaan dalam hidup satu sama lain.

Dengan memberikan nasi tumpeng, pemberi ingin menunjukkan rasa terima kasih dan penghargaan yang mendalam terhadap penerima, serta berharap untuk mempererat ikatan emosional dan sosial mereka.

Hari ini kakak sulung saya (dr. Dedy) berulang tahun, saya ingin memberikan hadiah yang bermakna, Nasi Tumpeng istimewa yang saya buat sendiri. Saya tidak hanya menyampaikan ucapan selamat ulang tahun, harapan, dan doa terbaik, tetapi juga menggambarkan tekad belajar yang tak kenal usia.

Hadiah nasi tumpeng yang saya buat sendiri, terkandung keberanian dan semangat untuk mencoba hal-hal baru, bahkan di usia yang lebih matang. Ini adalah isyarat yang luar biasa tentang pentingnya terus belajar dan berkembang sepanjang hidup, dan semangat ini akan menginspirasi kakak sulung saya untuk mengejar impian dan tujuan baru dalam hidupnya.

Lebih jauh saya ingin menyampaikan pesan tentang kebersamaan, penghargaan, dan cinta yang mendalam kepada kakak sulung saya. Bahwa nasi tumpeng yang saya bentuk dengan teliti adalah simbol dari harapan akan kesuksesan dan keberkahan dalam hidupnya, sementara hidangan-hidangan yang melingkari nasi tumpeng mencerminkan keragaman dan kelimpahan rezeki yang selalu menyertainya.

Membuat nasi tumpeng bagi pemula seperti saya, memang terasa menantang, tetapi dengan beberapa persiapan dan perencanaan yang baik, saya dapat menghindari risiko kegagalan.

Pertama: saya menonton video tutorial membuat nasi tumpeng yang banyak tersedia di internet. Dengan menonton video, saya dapat melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan nasi tumpeng dilakukan. Ini membantu saya memahami langkah-langkah yang diperlukan dengan lebih baik daripada hanya membaca resep.

Video memberikan informasi tentang teknik khusus dan tips yang dapat membantu saya menghindari kesalahan umum dan mencapai hasil yang lebih baik. Saya dapat belajar tentang cara memasak nasi kuning dengan benar, cara menyusun nasi tumpeng dengan estetis, dan banyak hal lain lagi.

Melalui video, saya juga dapat melihat berbagai ide kreatif untuk menghias dan menghidangkan nasi tumpeng. Ini memberi saya inspirasi untuk menciptakan versi nasi tumpeng yang unik dan menarik sesuai keinginan sendiri. Video tutorial juga memberikan penjelasan yang detail tentang cara mengatasi masalah umum yang mungkin saya hadapi.

Menonton keberhasilan orang membuat nasi tumpeng melalui video tutorial meningkatkan motivasi dan percaya diri saya untuk mencoba sendiri. Saya dapat melihat bahwa membuat nasi tumpeng tidaklah terlalu sulit, dan dengan kemampuan yang telah saya miliki, saya sangat yakin bisa melakukannya dengan baik

Kedua: Saya mulai merencanakan pembuatan nasi tumpeng dan lauk-pauk yang saya kehendaki. Beberapa hal yang saya pertimbangkan sebelum memulai:

Merencanakan bahan. Pemilihan bahan (beras, bumbu, lauk-pauk, dan bahan-bahan lainnya) sesuai dengan masakan yang akan saya buat.

Merencanakan waktu yang akan saya perlukan untuk memasak nasi, memasak lauk-pauk, dan menyusun nasi tumpeng. Saya harus memastikan memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan semuanya tanpa terburu-buru.

Memiliki semua alat dapur yang diperlukan, seperti panci besar untuk memasak nasi, wajan untuk memasak lauk-pauk, dan alat untuk membentuk nasi tumpeng, seperti cetakan nasi tumpeng atau wadah berbentuk kerucut.

Memahami teknik memasak untuk setiap komponen nasi tumpeng, dan memahami penyajian bagaimana cara menyusun nasi tumpeng dengan indah dan estetis. Saya mencari referensi tentang teknik penyusunan yang baik dan bagaimana cara menghias nasi tumpeng dengan lauk-pauk dan makanan pelengkap lainnya.

Beberapa Bahan Lauk Pauk untuk Nasi Tumpen. Foto: Dokumen Pribadi


Dengan melakukan semua hal ini saya telah melakukan persiapan yang matang dan mampu memutuskan lauk-pauk yang akan menyertai hidangan nasi tumpeng itu.

Ayam goreng utuh bumbu lengkuas, ayam goreng kecap, sambal goreng hati+kentang, sambal goreng tempe+kacang tanah, perkedel ikan+kentang, telur rebus dan sayur urapan adalah pilihan yang saya tetapkan kemudian.

Ketiga: untuk meminimalkan risiko kegagalan dalam membuat nasi tumpeng, saya melakukan analisis kekuatan dan kelemahan saya.

Analisis Kekuatan: saya meninjau pengalaman dan keterampilan yang saya miliki dalam memasak dan membuat nasi tumpeng. Apakah saya memiliki pengetahuan yang cukup tentang bahan-bahan, teknik memasak, dan penyajian makanan? Apakah saya memiliki kreativitas dan keahlian dalam menghias hidangan?

Sesungguhnya saya tidak punya pengalaman membuat nasi tumpeng, namun saya punya kemampuan dan pengalaman yang baik dalam hal memasak nasi kuning. Saya menguasai teknik memasak dan menyajikan hidangan lauk pauk yang menjadi pengiring nasi tumpeng. Saya hanya membuka peluang memadukan nasi kuning dengan lauk-pauknya sehingga menjadi satu kesatuan yang indah sebagai nasi tumpeng.

Saya yakin punya krativitas yang baik, bukankah saya seorang pelukis, sehingga memiliki cita rasa yang baik untuk menghias hidangan ini.

Analisis Kelemahan: saya mulai menganalisis area-area di mana saya kurang berpengalaman atau kurang mahir. Apa pun itu, ternyata identifikasi kelemahan saya lebih banyak keterbatasan fisik yang saya miliki karena alasan usia. Tangan saya suka gemetar sehingga beresiko jika mengangkat panci panas yang berat. Itu juga berpengaruh jika saya harus mengukir hiasan buahnya, syaraf-syaraf halus tepi-tepi jari saya sudah tidak berfungsi baik, sehingga saya tidak yakin bisa mengerjakan pekerjaan kecil-kecil yang membutuhkan ketelitian dan kekuatan mengcengkram.

Saya mengatasinya dengan meminta bantuan tetangga saya yang penjual nasi kuning untuk membuat nasi kuning sesuai keinginan saya dan menerimanya dalam kondisi selesai untuk dicetak dalam cetakan nasi tumpeng.

Mengukir buah dengan tangan yang sudah kaku dan sedikit bergetar saya yakin bisa menyelesaikan dengan baik jika saya menggunakan alat/pisau ukir. Saya membuka peluang itu dengan membongkar barang milik almarhumah putri saya. Saya tahu persis bahwa dia menyimpan pisau ukir buah satu set yang dibelinya ketika kami ke Shanghai bersama.

Pisau Ukir Buah untuk Nasi Tumpeng. Foto: Dokumen Pribadi


Saya selalu mengingat bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Beberapa Buah yang Sudah Diukir untuk Nasi Tumpeng. Foto: Dokumen Pribadi


Terakhir saya mewujudkan keinginan saya itu menjadi nyata. saya melakukan dengan baik, taat dengan perencanaan yang saya telah tetapkan sendiri. Setiap langkah yang saya ambil dengan ketelitian, saya menyadari bahwa detail kecil dapat membuat perbedaan besar dalam hasil akhir.

Saya pastikan nasi kuning dimasak dengan tepat dengan mengukur beras dengan teliti, mencampurnya dengan santan dan bumbu-bumbu yang dipilih dengan cermat, lalu membiarkan panci berisi nasi mengeluarkan uap harum yang menggoda saat proses memasak berjalan.

Ketika lauk-pauk dan makanan pelengkap dimasak, saya memastikan bahwa semuanya matang dengan sempurna dan memiliki rasa yang lezat. Saya memperhatikan setiap detail, dari kematangan daging ayam hingga warna dan tekstur sayuran yang segar, hidangan saya siapkan semua sesuai kemampuan terbaik yang saya miliki.

Saat tiba untuk menyusun nasi tumpeng, dengan hati-hati saya membentuk gunung kecil dari nasi kuning yang hangat. Kemudian saya menyusun lauk-pauk dan makanan pelengkap di sekeliling gunung nasi, dan menghiasnya menciptakan gambaran yang indah dan menggugah selera. Saya menghiasnya dengan unik dan menarik.

Tepat 2 jam seperti waktu yang saya tentukan, nasi tumpeng selesai disusun. Saya melangkah mundur sejenak untuk mengagumi karya saya sendiri, setiap detilnya terasa sempurna, dari bentuk gunung nasi yang menawan hingga susunan lauk-pauk yang indah. Saya merasa puas dengan hasil karya saya, dan saya tahu bahwa nasi tumpeng ini tidak hanya sekadar hidangan, tetapi juga sebuah karya seni yang indah.

Saya memamerkan kepada suami saya yang sementara sakit, dia berusaha bangkit untuk memfoto dan mengaguminya. Dia mengoreksi tinggi nasi tumpeng itu.

Saya dan Nasi Tumpeng Buatan Sendiri. Foto: Dokumen Pribadi


‘Tinggi nasi tumpeng tidak proporsional’ bisiknya. Suamiku selalu menjadi orang yang paling kritis dalam hidupku.

“Saya juga menyadari itu, namun hidup memang selalu tidak proporsional, kitalah yang menyelaraskan sehingga harmonis” bisikku dengan senang. Sudah ada yang bisa dikoreksi ketika telah ada yang berwujud.

Ketika foto nasi tumpeng saya masukkan dalam grup keluarga kecil saya, putraku langsung berkomentar,

‘Tumpengnya kecil‘ tulis WAnya
Kemudian saya membalasnya,
‘Mimpi besar selalu dimulai dengan mimpi kecil’ tulisku melindungi rasa bangga saya.

Memotong Nasi Tumpeng Buat Kakak. Foto: Dokumen Pribadi


Saat akhirnya tiba untuk menyajikan nasi tumpeng, saya melakukannya dengan rasa bangga dan sukacita. Saya merasa bahagia bahwa saya telah menciptakan sesuatu yang istimewa. Dengan hati penuh syukur, saya menikmati momen ini, bersama dengan mereka yang saya cintai dan hargai.

Kakak Menberkan Nasi Tumpeng Kepada Ayah (Puang Bapak). Foto: Dokumen Pribadi


Di usia senja, ketika banyak orang telah menyerah pada keadaan fisik mereka, saya tetap memiliki semangat dan tekad yang luar biasa untuk terus belajar dan mencoba hal-hal baru. Saya merasa bangga bahwa saya tidak membiarkan usia menjadi penghalang bagi saya untuk mengejar kecintaan saya pada masakan dan seni kuliner.

Melihat nasi tumpeng yang telah saya buat, saya merasa terharu oleh kekuatan tekad dan semangat yang terus membara di dalam diri. Saya menyadari bahwa kehidupan tidak pernah berhenti untuk memberikan peluang baru, bahkan di usia senja. Saya akan terus melangkah maju, terus belajar, dan terus menciptakan keindahan di dunia ini.

Saya jadi ingat pribahasa “tak kenal usia dalam mencari ilmu,” yang bermakna bahwa dalam upaya untuk memperoleh pengetahuan dan belajar, usia bukanlah halangan atau batasan yang mengikat. tidak peduli seberapa tua atau muda seseorang, mereka tetap dapat terus belajar dan meningkatkan pengetahuan mereka sepanjang hidup mereka. Hal ini menekankan pentingnya semangat dan tekad untuk terus belajar, tanpa memandang faktor usia atau kondisi fisik.

Makassar, 27 April 2024.




5 Comments

  1. May 1, 2024 at 11:25 am

    Mukminin

    Reply

    Mantab Bunda TELLY memang hebat. Belajar Sepanjang Hayat tak kenal usia. Dengan teliti dan detail. Tulisannya MATOH dan MEGILAN sudah naik kelas. TABIK!

  2. May 1, 2024 at 10:59 am

    Abdullah Makhrus

    Reply

    Saya suka kalimat ini,
    “Saya juga menyadari itu, namun hidup memang selalu tidak proporsional, kitalah yang menyelaraskan sehingga harmonis”. Buat nasi tumpeng dengan bumbu analisa SWOT jadi semakin nambah ilmunya. Mantabbbb

  3. May 1, 2024 at 10:29 am

    Mustajib

    Reply

    Masya Allah. Speechless. Kronik ulisan (narasinya), produk (nasi tumpengnya), dan semangat (belajar, dan menghadirkan yang terbaik) tumplek menyatu membentuk kesatuan segala makna baik atas segala asa kebersamaan, penghormatan, dan kebahagiaan lahir batin dunia akhirat”. Salut. Barakallah. Salam sehat dan sukses selalu, Bunda Telly sekeluarga (keluarga inti maupun keluarga besar)

  4. May 1, 2024 at 9:29 am

    Sri Rahayu

    Reply

    Pejuang sejati…selalu yakin atas hasil… apa pun bisa Bunda lakukan…pantang menyerah…srmangat tanpa batas… Selamat Bunda…Anda layak dapat bintang…selalu terdepan dan jadi panutan… Itulah Panjenengan…sehat selalu nggih… Barakallahu fiik…

    1. May 1, 2024 at 10:08 am

      Telly D

      Reply

      Terima kasih🙏🏻🙏🏻🙏🏻selalu disemangati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree