January 31, 2024 in Pentigraf, Uncategorized

Mappadendang

Post placeholder image

Pentigraf

Mappadendang

Oleh Telly D.

Di Bola Sobae, kesibukan terlihat ketika “Tudang Sipulung” menggelar acara Padendang berjalan sukses. Petta Tunru, sosok pemangku adat yang juga menjabat sebagai tuan tanah di desa itu, dengan kemurahan hati menyambut setiap tamu untuk menikmati hidangan khas kue-kue bosara sambil menyeruput teh hangat dan kopi. Kehadiran para tamu dipenuhi oleh semangat kegembiraan yang semakin memuncak, hasil panen tahun ini begitu melimpah, pesta panen Padendang digelar dengan megah.

La Tinro dan I Tenri, sepasang kekasih yang telah mengikat janji untuk menikah setelah pesta panen, menanti dengan penuh harap. Pesta Padendang kali ini menjadi momen titik akhir dari perjalanan mereka sebagai kekasih. Suara ketukan irama alu pedendang mengisi udara, sementara anak-anak bermain mappanca, mallogo, maggasing, wanita dewasa mattojang dan lelaki dewasa dengan permainan tradisional marraga dan mabbbitte manu yang menggembirakan.

Namun, kebahagiaan tiba-tiba terputus ketika tali mattojang penopang ayunan I Tenri putus. Dengan sigap La Tinro, berlari cepat menangkapnya, bahkan harus terjatuh berpelukan. Semua yang menyaksikan hal itu lega karena tidak ada kecelakaan. Namun, suasana tiba-tiba berubah mencekam ketika Petta Tunru, menendang La Tinro secara kasar dengan sangat marah. Semua yang hadir memandang bingung, hingga akhirnya terungkap bahwa Petta Tunru berencana menjadikan I Tenri sebagai istri keempatnya untuk melunasi utang orang tua I Tenri. La Tinro dan I Tenri harus menghadapi pahitnya kenyataan bahwa cinta masih terhalang batu besar.

Sorong, 29 Januari 2024

Catatan.
Padendang = Pesta panen raya
Tudang sipulung = Duduk bersama bermusyawarah
Mattojang = Bermain ayunan diketinggian
Marraga, malogo, mappanca = nama permainan tradisional




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree