October 12, 2023 in Haji dan Umrah, Uncategorized

Wanita Hebat itu Bernama Siti Hajar

Wanita Hebat itu Bernama Siti Hajar
Oleh Telly D.


“Kekuatan wanita hebat terletak pada keberaniannya untuk tetap bertahan meskipun dunia seolah melawan.” (Daswatia Astuty)

Dunia ini penuh wanita hebat yang menginspirasi. Wanita hebat ada di berbagai bidang dan latar belakang, termasuk dalam agama, ilmu pengetahuan, seni, politik, pendidikan, dan banyak lagi. Ini mencerminkan keanekaragaman peran dan pencapaian wanita di seluruh dunia dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi.

Di Pelataran Ka’bah dalam Masjidil Haram. Foto: Dokumen Pribadi

Pembicaraan tentang wanita hebat ini terjadi antara saya dan putri saya. Ketika itu kami melaksanakan ibadah umrah dan saat beristirahat di hotel, perbincangan itu gayeng.

Sejatinya saya ingin memastikan kapasitas putri saya berkenaan dengan wawasannya tentang Siti Hajar. Wanita hebat yang kehebatannya diabadikan dalam Al-Qur’an. Kaum muslimin melakukan napak tilas sejarahnya (sai) demi memaknai kehebatan iman, ketakwaan, kesabaran, dan ketawakalannya.

“Mengapa seseorang disebut wanita hebat?” Saya membuka diskusi sambil meluruskan badan beristirahat di sampingnya.

“Sebab wanita itu memiliki berbagai kualitas dan prestasi yang luar biasa,” spontan saja pertanyaan saya disambar.

“Jawab yang lebih spesifik!” ujar saya tidak suka dengan jawaban seentengnya itu.

“Banyak faktor yang membuat wanita tercatat hebat. Bisa karena menjadi ahli di bidang tertentu yang memberikan dampak positif yang besar.”

“Bisa karena mencapai tingkat pendidikan tinggi. Menjadi ilmuwan, profesor, atau peneliti terkemuka sehingga memiliki kontribusi positif pada umat manusia.”

“Bisa karena menjadi agen perubahan sosial sehingga terlibat dalam advokasi hak asasi manusia atau kampanye sosial untuk meningkatkan kondisi dan martabat suatu masyarakat.”

“Bisa karena membantu komunitas dan orang lain terlibat dalam kegiatan sukarela, pelayanan masyarakat, atau pekerjaan amal yang memberikan manfaat kepada orang lain.”

“Bisa karena keberanian mengatasi rintangan besar dalam hidup mereka dan menjadi inspirasi bagi orang lain.”

“Bisa karena kecerdasan emosional dan kemampuan mereka mampu membantu dan mendukung orang lain dalam keadaan sulit.”

“Bisa karena kemampuan untuk berpikir kreatif, menciptakan solusi baru, atau berkontribusi pada seni dan budaya.”

“Bisa juga karena mencapai keberhasilan luar biasa dalam peran keluarga mereka, baik dalam peran dan fungsinya sebagai ibu, istri, atau anak.”

“Seperti saya, anak perempuan yang hebat yang dimiliki keluarga Djadir.”

“Pokoknya “wanita hebat” dapat bervariasi dari satu budaya atau masyarakat ke budaya atau masyarakat lainnya. Tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua. Lagi pula pengakuan sebagai wanita hebat dapat berasal dari berbagai pencapaian dan kualitas individu.” ucap putri saya panjang sambung-menyambung bak air keran yang mengocor deras dari memori tandonya.

“Sudah puas Ibunda dengan jawaban panjang saya?” ucapnya sambil menggoda.

Saya justru masih ‘mengunyah’ informasi yang beruber. Ketika menemukan saya masih diam, putriku meneruskan.

“Banyak contohnya, mau diberi contoh?” sambungnya tanpa menunggu persetujuanku.

Di Lantai 2 Masjidil Haram. Foto: Dokumen Pribadi


“Di bidang pendidikan, banyak wanita hebat sebagai guru, pendidik, dan ilmuwan terkemuka. Ada Hypatia, seorang ahli matematika dan filsuf Yunani Kuno, ada Fatimah al-Fihri, yang mendirikan Universitas al-Qarawiyyin di Fez, Maroko.”

“Di bidang politik, ada wanita hebat telah menjabat sebagai pemimpin politik di berbagai negara. Ada Cleopatra di Mesir Kuno. Ratu Elizabeth I dan Margaret Thatcher di Inggris. Indira Gandhi di India. Angela Merkel di Jerman. Tribhuana Wijayatunggadewi di Majapahit. Ratna Kencana atau Ratu Kalinyamat dari Jepara. Keumalahayati dan Cut Nyak Dhien di Aceh. Colli’ Pujié Arung Pancana Datu’ Lamuru IX dan Opu Daeng Risadju dari Bugis Makassar. Masih banyak lainnya.”

“Di bidang Seni dan budaya, ada wanita seniman Frida Kahlo, Georgia O’Keeffe, dan Marie Curie (yang juga ilmuwan) telah menghasilkan karya-karya luar biasa yang memengaruhi seni dan budaya dunia.”

“Di bidang peperangan dan keberanian, ada wanita hebat Jeanne d’Arc, yang memimpin pasukan Perancis selama Perang Seratus Tahun, dan Rani Lakshmibai dari Jhansi, yang memimpin perlawanan melawan penguasa Inggris dalam Pemberontakan Sepoy di India, telah menunjukkan keberanian luar biasa dalam medan perang.”

Di Jabal Uhud. Foto: Dokumen Pribadi


“Di bidang Inovasi dan Ilmu Pengetahuan, ada wanita hebat Marie Curie, yang memenangkan dua Hadiah Nobel dalam dua bidang ilmu berbeda (Fisika dan Kimia), serta Rosalind Franklin, yang melakukan penelitian penting dalam pemahaman struktur DNA, telah berkontribusi besar dalam ilmu pengetahuan.”

“Di bidang kesehatan dan kesejahteraan, ada wanita hebat yang menjadi pionir dalam perawatan kesehatan dan advokasi kesejahteraan masyarakat. Florence Nightingale.”

“Di bidang hak asasi manusia, ada wanita hebat Malala Yousafzai dan Eleanor Roosevelt telah berjuang untuk hak asasi manusia, pendidikan, dan kesetaraan gender.”

“Di bidang keberlanjutan lingkungan, ada wanita hebat Rachel Carson, menulis buku “Silent Spring” yang memicu gerakan lingkungan, dalam upaya melindungi lingkungan alam.”

Saya tertegun dengan jawabannya yang keluar dari tandon memorinya seperti tanpa perlu dipikir.

“Stop, stop, kok bisa menjawab semantap itu?” saya memerlukan berbalik dan menatapnya takjub.

“Yah tanya mbah google” jawabnya sambil ngakak terbahak-bahak memperlihatkan layar HPnya yang masih aktif. Saya meringis menyadari bahwa saya dan putri tidur Bersama. Namun, besar di zaman yang berbeda sehingga punya siasat merespons yang berbeda pula.

Suasana jadi hening. Saya memerlukan waktu mencerna interaksi ini. Apakah saya masih mampu bercerita dengan putri saya selengkap layar HP itu? Informasi apa lagi yang bisa saya berikan jika layar HP itu sudah memberikan semuanya? Tampaknya saya harus bersaing dengan teknologi itu.

Melihat saya terdiam, putri saya memeluk dan mengatakan, “Tak ada yang mencemaskan, kita berdua tetap wanita hebat yang dimiliki keluarga ini. Ibunda wanita hebat sebagai ibu dan saya wanita hebat sebagai anak,” bujuknya sambil menciumi saya.

Putri saya memang selalu menyemangati dirinya dengan slogan “saya bukan wanita biasa.”

Depan Pintu Hotel. Foto: Dokumen Pribadi


“Apa yang membuat Siti Hajar itu wanita hebat?” putriku justru balik bertanya.
“Tahu dia bisa cari informasi yang lebih lengkap!” saya menjawab hanya sekenanya.

Di Pelataran Masjid Nabawi. Foto: Dokumen Pribadi

“Namanya tertulis dalam Al-Qur’an?”
Banyak nama wanita yang tertulis dalam Al-Qur’an. Atau setidaknya, ada banyak kisah dalam Al-Qur’an yang kemudian dijelaskan tentang peran wanita hebat tersebut dalam hadis secara gamblang. Bukan hanya Siti Hajar. Ada Maryam putri Imran. Ada Khadijah binti Khuwaylid. Ada Aminah binti Abdul Wahab. Ada Siti Asiah istri Fir’aun. Ada Siti Bilqis sang ratu Sheba. Ada Siti Fatimah binti Muhammad SAW. Ada Aisyah binti Abubakar yang tak kurang hebatnya,” ucapnya menyela.

Kemudian dia meneruskan, “Jangan katakan lagi, karena Siti Hajar isteri seorang rasul atau ibu seorang rasul. Karena itu, juga ada wanita hebat lain yang memilikinya.” Putriku menatap sangat menantang.

Akhirnya ada kesempatan untuk unjuk kemampuan. Saya kemudian duduk menjelaskan panjang lebar.

“Justru itu kehebatannya. Siti Hajar memadu seluruhnya. Hebat sebagai istri. Hebat pula sebagai ibu yang merawat ketabahan dan keimanan keluarganya, sehingga memiliki keluarga hebat dan yang sesungguhnya dia memang hebat secara pribadi.”

Allah menguji dengan ujian luar biasa kepada keluarga ini. Keluarga ini lulus dengan hebat. Nabi Ibrahim lulus ujian ketika diminta membangun Ka’bah, meninggalkan keluarganya, serta diminta menyembelih anaknya. Putranya, Ismail lulus bersedia patuh dan sabar pada perintah Allah Azza wa Jalla serta mendukung ayahnya, Ibrahim, agar bersedia melaksanakan perintah Tuhan mereka untuk menyembelihnya. Siti Hajar pun tak kalah hebatnya, menunjukkan kepatuhan yang luar biasa kepada perintah Allah.

Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan Siti Hajar dan putranya, Isma’il di lembah tandus Bakkah, sekarang Makkah, tanpa persediaan makanan atau air. Siti Hajar menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia memahami bahwa perintah Allah harus dipatuhi, meskipun itu berarti ditinggalkan di tempat yang sangat sulit untuk bertahan hidup.

Tahukah kamu bahwa ketika kita melakukan ibadah sai, kita mengikuti Langkah-langkah cepat Siti Hajar yang dengan penuh ketekunan dan keyakinan berlari-lari antara dua bukit itu dalam pencarian air. Ini adalah pengingat yang kuat akan bagaimana ketekunan dan keberanian seorang wanita dalam menjalankan perintah Allah dapat menghasilkan berkah yang besar.

Mendampingi Kakek. Foto: Dokumen Pribadi


Ibadah Sai, selain mengingatkan kita pada sejarah Siti Hajar, ritual ini juga mengajarkan kita beberapa nilai penting dalam kehidupan.

Ketekunan adalah salah satu nilai utama yang dapat dipetik dari ibadah sai. Seperti Siti Hajar yang tidak pernah menyerah dalam mencari air, kita juga harus memiliki ketekunan dalam menghadapi cobaan dan rintangan dalam kehidupan. Ketika kita menghadapi tantangan, kita harus tetap berusaha dan tidak menyerah.

Ibadah sai juga mengajarkan kepada kita kita tentang pentingnya kepatuhan kepada perintah Allah. Seperti Siti Hajar yang taat kepada perintah Allah meskipun dalam situasi sulit. Kita juga harus mematuhi ajaran-ajaran agama kita dengan sepenuh hati.

Kepercayaan kepada Allah adalah pondasi yang kuat dalam cerita Siti Hajar dan ibadah sai. Ketika kita berlari-lari kecil antara bukit Marwah dan Safa, kita harus memahami bahwa Allah selalu menyaksikan dan menguji keyakinan kita. Keyakinan dan kepercayaan kepada-Nya adalah sumber kekuatan kita.

Siti Hajar juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya kemanusiaan. Ketika air zam-zam muncul, ia membaginya kepada suku-suku yang datang ke sumber itu. Kemanusiaan adalah nilai penting dalam Islam. Kita pun harus mengasihi dan membantu sesama manusia.

Siti Hajar dan ibadah sai adalah bagian integral dari tradisi Islam yang mengajarkan kita tentang keberanian, ketekunan, kepatuhan kepada Allah, kepercayaan, dan kemanusiaan.

Di Kebun Kurma. Foto: Dokumen Pribadi


Ketika kita melakukan ibadah sai di antara bukit Marwah dan Safa, kita seharusnya tidak hanya mengingat sejarah Siti Hajar. Namun, kita juga dapat mengambil pelajaran berharga untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Ia adalah contoh wanita hebat dengan keteladanan. Kita dapat belajar banyak dari kisahnya.

Saya menutup diskusi itu setelah yakin bahwa penjelasan saya telah memaksa putriku mengakui bahwa saya juga wanita hebat dalam keluarga kami. Sambil saya meneriakkan, “Ini tidak tertulis di google,” dan saya menarik selimut menutup semua badan untuk memulai istirahat.

Ini secuil kisah perjalanan umrah yang terakhir saya bersama dengannya dan keluarga besar saya. Percakapan ini sekarang hanya kenangan bagi kami. Sebuah kecelakaan maut di Boston-Amerika merenggut nyawanya. Wanita hebat itu menghadapi sakaratul maut sendiri di negeri orang.

Saya selalu ingat bisikannya jika menyemangati saya, “Kita adalah wanita hebat yang dimiliki keluarga ini.”

Al-Fatihah untuk almarhumah.

Makkah, Mei 2023




2 Comments

  1. October 12, 2023 at 7:44 am

    Astuti

    Reply

    Diskusi ini akan abadi karena sudah ada jejak digitalnya.Al fatihah buat ananda Ant8

  2. October 12, 2023 at 6:02 am

    Chamim Rosyidi Irsyad

    Reply

    Beautiful memories will always remain strong …. Allah Ta’ala always adds beauty to life for those who diligently appreciate beauty ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By browsing this website, you agree to our privacy policy.
I Agree