Taburan Mawar di Tiga Pusara

Taburan Mawar di Tiga Pusara
Oleh: Telly D.*)
Langit Yogyakarta pagi itu seperti lembaran puisi yang belum selesai ditulis. Awan tipis mengambang perlahan, angin menyingkap dedaunan, seolah memberi jalan bagi langkah-langkah kecilku menuju tiga tempat yang menyimpan sunyi: makam Ganung Angraeni, Pujiati, dan Mas Yoga. Mereka bukan hanya sahabat, tapi juga potongan diriku yang tertinggal di tahun-tahun lalu masa muda, tawa, luka, dan keyakinan bahwa persahabatan tak mengenal kematian.
Aku membawa sekeranjang bunga mawar: merah dan putih. Bukan tanpa alasan. Mawar merah kubawa sebagai lambang cinta yang berani dan tak pernah disesali. Mawar putih, sebagai penanda ketulusan yang tak menuntut balasan. Keduanya kugenggam erat, seperti kenangan yang tak ingin kulepas.
Ganung Angraeni, sahabat yang paling lama menemaniku. Di makamnya yang teduh di bawah pohon trembesi, kutaburkan lebih banyak mawar merah dengan tangan yang bergetar. Kami pernah berjanji: jika salah satu pergi lebih dulu, yang tertinggal harus datang, menabur cinta, bukan air mata. Mawar merah itu kupilih karena ia seperti Ganung berani mencintai hidup dengan luka-luka terbuka, namun tak kehilangan indahnya kelopak.
Di tempat lain, Pujiati beristirahat dalam damai. Ia yang lembut, sabar, dan tak banyak bicara, tapi hangatnya bisa mengusir badai dalam diriku. Di atas nisan hijaunya, kutaburkan lebih banyak mawar putih. Ia pantas mendapatkannya kesucian, keikhlasan, dan ketulusan yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Mawar putih bukan sekadar bunga, ia adalah simbol diam yang berbicara paling jujur.
Lalu Mas Yoga Kartika. Persahabatan kami tumbuh dalam perbedaan. Ia seperti mawar itu sendiri berduri tapi memesona. Kami sering berselisih, tapi tak pernah membenci. Ia mengajarkanku bahwa persahabatan bukan tentang kesamaan, melainkan kesediaan menerima yang tak bisa diubah. Pada pusaranya, kutaburkan keduanya: merah dan putih, karena kami adalah percampuran yang tak sederhana tapi nyata.

Bunga mawar Untuk Ditabur di Tiga Pusara. Foto: Dokumen Pribadi
Bunga mawar selalu menyentuhku dengan cara yang tak bisa dijelaskan logika. Bentuknya kelopak yang membuka perlahan adalah lambang perjalanan manusia: dari rapatnya rahasia, menuju terbukanya keindahan. Wanginya lembut, tapi bertahan lama, seperti kenangan yang enggan hilang. Duri di batangnya adalah pelajaran paling jujur bahwa keindahan tak pernah hadir tanpa risiko.

Makam Bu Ganung. Foto: Dokumen Pribadi
Persahabatan, seperti mawar, adalah seni merawat. Ia bukan hanya hadir saat senang, tapi juga diam di dekat luka. Ketika sahabat berpulang, yang tersisa bukan sekadar kenangan, tapi juga keberanian untuk mencintai yang telah tiada, tanpa menggenggamnya kembali. Mawar merah dan putih kupilih bukan karena estetika semata, tapi karena keduanya mengandung pesan yang ingin kusampaikan: cinta dan keikhlasan.

Makam Bu Pujiati. Foto: Dokumen Pribadi
Menziarahi sahabat-sahabatku bukanlah akhir dari pertemanan kami. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kesetiaan paling sunyi berjalan sendiri, membawa bunga, menyapa nisan, dan membisikkan doa di antara kelopak yang gugur. Setiap pusara adalah surat terbuka yang kutulis dengan air mata dan harum mawar, agar mereka tahu: aku masih di sini, menyebut nama mereka dalam diam yang paling dalam.

Makam Pak Yoga Kartika. Foto: Dokumen Pribadi
Dan mungkin, suatu hari, ketika waktuku tiba, seseorang akan menaburkan mawar yang sama di atas pusaraku. Semoga ia tahu, aku pun pernah mencintai dengan setulus itu.
Yogyakarta, Juni 2025
*) Telly D. adalah Nama Pena dari Dr. Daswatia Astuty, M.Pd. Kepala PPPPTK Matematika Yogyakarta tahun 2016-2020. Pemerhati Pendidikan, Pekerja sosial Kemanusiaan, Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas RVL, penulis 50 judul buku.

Leave a Reply