Ziarah dan Janji yang Dilangitkan

Ziarah dan Janji yang Dilangitkan
Oleh: Telly D.
Persahabatan kami tumbuh seperti akar beringin yang diam-diam meneguhkan tanah: kokoh, senyap, dan tak banyak yang tahu betapa dalamnya saling menguatkan. Aku dan Ganung Angraeni bukan hanya teman lama; kami adalah saksi hidup satu sama lain, yang menyulam hari-hari dengan dukungan, menambal luka dengan ketulusan. Ia adalah ruang teduh tempat aku menepi, dan aku adalah bahunya saat dunia membuatnya letih.
Namun hidup, sebagaimana sungai yang selalu mencari muara, membawa kami pada alur yang tak selalu sejajar. Ketika ia jatuh sakit, aku terikat pada pengabdian lain: merawat suamiku yang juga sedang terbaring lemah. Aku tak bisa menjenguk. Bahkan saat kabar kepergiannya tiba seperti petir di siang hari, aku masih menggenggam tangan suamiku yang belum bisa ditinggal. Tak ada pelukan terakhir, tak ada bisik doa di telinganya yang mungkin masih hangat. Yang ada hanya doa dalam diam dan janji dalam hati: suatu hari, aku akan datang padanya.
Janji itu tak pernah padam. Kukirimkan setiap malam lewat langit-langit doa, seperti layang-layang harapan yang menanti angin baik. Entah bagaimana, Allah yang Maha Pengasih menenun jalannya. Saat putraku, yang tengah kunjungan kerja di Yogya, tiba-tiba menawariku untuk datang bernostalgia, rasanya seperti undangan langit yang tak boleh kutolak. Suamiku kala itu sudah membaik, dan ada keluarga yang bersedia menjaga. Maka dengan hati yang berdebar namun mantap, aku mengiyakan.
Perjalanan itu bukan hanya rindu pada kota pelajar, tapi perjalanan batin yang telah lama kutangguhkan. Yogya menyambutku dengan hangat dan akrab. Bersama putraku, aku menuju pusara Ganung, sahabat yang telah menungguku dalam senyap.

Mawar yang Ditabur, di Kuburan Bu Ganung. Foto: Dokumen Pribadi
Makammnya sederhana, tapi terasa penuh cahaya. Langit memanggang di titik kulminasi tertinggi saat itu, namun wangi mawar yang kutabur terasa seolah memanggil angin untuk bersaksi. Kutaburkan mawar merah dan putih, perlambang cinta dan ketulusan yang tak terputus oleh kematian. Wanginya semerbak, seperti kenangan yang bangkit dari tidur panjangnya.

Melangitkan Doa di Makam Bu Ganung. Foto: Dokumen Pribadi
Aku berlutut di sisi pusaranya, mengusap nisan yang dingin. Tak ada air mata yang jatuh, hanya bisikan yang pelan dan pasti, “Selamat jalan, Ganung. Maafkan aku ini yang terlambat. Terima kasih telah jadi sahabat yang tak tergantikan. Nantikan aku, di alam sana, bila waktuku tiba.”

Menabur Mawar di Makam Bu Ganung. Foto: Dokumen Pribadi
Putraku berdiri di belakang, diam menyaksikan. Di matanya aku melihat keheningan yang penuh pelajaran. Ziarah ini tentu tidak hanya menepati janji, tapi juga meneladankan mengajarkan bahwa persahabatan adalah bentuk luhur dari kemanusiaan. Bahwa seorang sahabat tak hanya hadir ketika senang, tapi setia bahkan setelah kepergian. Dan bahwa sebagai makhluk sosial, kita punya kewajiban menjaga jejak kebaikan orang lain, agar kenangannya tetap hidup dan tak larut dalam waktu.
Aku ingin putraku mengerti: hidup yang baik adalah hidup yang meninggalkan harum. Dan sahabat sejati adalah mereka yang menjaga harum itu, bahkan setelah jasad tiada. Bahwa manusia akan mati, tapi kenangan akan kebaikannya bisa tumbuh selamanya dari satu hati ke hati lainnya.
Ketika kami berjalan pulang, angin sore Yogya menyentuh wajahku dengan kelembutan yang aneh. Seolah langit sendiri tersenyum, menyaksikan sebuah janji yang telah dilangitkan, akhirnya tiba pada takdirnya.
Dan aku tahu, di antara taburan mawar itu, kenangan kami mekar kembali. Tidak sebagai luka, tapi sebagai bunga yang terus harum, bahkan setelah musim berganti. Sebab cinta dalam persahabatan tak pernah selesai dan berakhir. ia hanya berganti bentuk, menjadi doa, teladan, dan kenangan yang terus hidup.
Yogyakarta, 16 Juni 2025

Leave a Reply