Duo Pang: Dua Pensiunan, Satu Langkah, Seribu Cerita

Duo Pang: Dua Pensiunan, Satu Langkah, Seribu Cerita
Oleh Daswatia Astuty *)
Kami menyebut diri Duo Pang, nama yang sederhana, tapi penuh makna. Pang dari kata pensiunan, dan duo karena kami berdua: dua perempuan yang tak pensiun dari belajar, tak lelah menulis, dan tak takut melangkah. Nama itu muncul begitu saja, dari tawa kecil dalam obrolan kami yang sering berubah arah, dari puisi ke pantun, dari air mata ke rencana petualangan. Tapi jangan keliru, kami bukan hanya dua. Di balik layar RVL, komunitas menulis yang mengikat kami, ada banyak pensiunan tangguh yang juga terus menyulut cahaya di halaman-halaman baru kehidupan.
Awalnya, aku hanya pendatang baru dalam kopdar RVL 1. Aku belum kenal siapa-siapa, dan mataku masih mencari patokan. Siapa yang bisa kujadikan bayangan untuk berlari mengejar? Lalu kutemukan dua nama yang melekat kuat: Bu Rita Audriyanti, yang bercita-cita menulis buku sebanyak usianya, dan Bu Sri Sugiastuti, si Ratu Antologi yang namanya terpampang di ratusan buku bersama. Sejak saat itu, aku tahu siapa yang harus kuikuti. Dan Bu Kanjeng, seperti tahu isi hatiku, menggenggam tanganku dan menarikku berlari bersama.

Tiket Kereta Api Yogyakarta – Surabaya. Foto: Dokumen Pribadi
Tak butuh waktu lama. Dalam hitungan 3 tahunan lebih, aku sudah mengejar dengan napas terengah, menulis buku lebih dari 50 judul buku solo dan antologi, dan masih terus bertambah. Bu Kanjeng seperti peta dan kompas, yang tahu arah dan memberi dorongan saat kakiku mulai gemetar.
Ia datang dari Solo saat tahu aku di Yogya, dan ketika kami bertemu, seolah dua kutub magnet bertaut kembali. Kami berbagi tempat tidur, cerita, air mata, dan semangat yang tak pernah padam. Bahkan kami naik kereta Yogya–Surabaya pulang-pergi dalam sehari, hanya untuk membuktikan: tubuh mungkin tua, tapi semangat tak bisa direm.

Duo Pang di Depan Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta. Foto: Dokumen Pribadi
Kami memang punya banyak kesamaan: sama usia, sama keras kepala dalam menulis, sama suka ngebolang, dan sama-sama sedang merawat suami yang sakit. Tapi kalau bicara perbedaan? Wah, segerobak penuh tak cukup untuk mendaftar. Dari suku, bahasa, kebiasaan, sampai cara menata sendok pun bisa jadi bahan diskusi.

Di Dalam Ruang Tunggu Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta. Foto: Dokumen Pribadi
Aku ini orangnya penuh pertimbangan, harus aman, harus pasti. Sedangkan Bu Kanjeng? Semua bisa dikerjakan sendiri, tak suka repot, dan percaya pada langkah spontan. Jadilah aku, yang tadinya selalu butuh kawalan, kini bisa lebih berani. Karena selama ada Bu Kanjeng, aku tahu akan selalu ada tangan yang sigap menggandeng. Di kereta, di jalan, bahkan di lembar-lembar buku yang kami tulis bersama.
Kini kami sedang seru-serunya menulis pantun, karmina, dan pentigraf. Buku solo dan buku bersama bermunculan. Kami saling berbagi ilmu, tapi tetap berkompetisi diam-diam. Lucu memang, dua nenek-nenek yang obrolannya ke mana-mana, impiannya ke mana-mana, bahkan kekesalannya pun ke mana-mana. Tapi dari semua itu, yang paling indah adalah: kami tidak pernah sendiri.
Duo Pang bukan tentang dua pensiunan yang mengisi waktu luang. Tapi tentang dua perempuan yang memilih untuk terus hidup sepenuhnya, dengan menulis, berjalan, belajar, dan menyemangati satu sama lain. Persahabatan ini bukan sekadar kebetulan. Ia adalah anugerah yang dikirim waktu di usia senja, saat dunia mulai tenang, justru muncul suara-suara kecil yang mengajak kita bersenang-senang.
Dan siapa sangka? Dalam gelak dan langkah kami, banyak hal menjadi mungkin. Karena seperti hidup itu sendiri, yang indah bukan karena sempurna, tapi karena kita menjalaninya bersama.
Yogyakarta, Juni 2025
*) Daswatia Astuty, penasihat Rumah Virus Literasi (RVL), Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanuisaan, Penulis dengan 50 Judul buku.

Leave a Reply