Ketika Murid Berani Melawan Guru

Ketika Murid Berani Melawan Guru
Oleh: Telly D.*)
Ada masa ketika suara kapur yang digoreskan di papan tulis terdengar seperti doa. Guru berdiri bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penunjuk arah. Di ruang kelas yang hangat, hormat tumbuh tanpa diminta. Bukan karena takut, melainkan karena percaya. Hari ini, suasana itu terasa mulai berbeda. Kita dikejutkan oleh kabar murid yang berani melawan gurunya dengan kata, dengan sikap, bahkan dengan tangan. Banyak yang tergesa menyalahkan anak. Padahal, peristiwa ini lebih tepat dibaca sebagai retakan panjang dalam bangunan pendidikan kita.
Murid tidak tiba-tiba kehilangan hormat. Ia tidak bangun pagi dengan niat untuk melawan. Perlawanan sering kali adalah bahasa lain dari kegagalan relasi. Seperti tanaman yang tumbuh bengkok bukan karena ingin melawan matahari, tetapi karena cahaya tak pernah datang dengan cukup.
Di zaman ketika pengetahuan bisa diakses dengan satu sentuhan layar, posisi guru pelan-pelan bergeser. Anak-anak merasa dunia terbuka tanpa perantara. Mesin pencari, video singkat, dan kecerdasan buatan memberi kesan bahwa belajar bisa berlangsung tanpa figur manusia. Guru tak lagi dipandang sebagai sumber makna, melainkan sekadar penyampai materi. Ketika makna hilang, wibawa ikut memudar. Guru direduksi menjadi petugas kurikulum, bukan teladan kehidupan.
Pendidikan kita juga terlalu rajin mengajarkan hak, tetapi sering lupa menanamkan kewajiban. Anak-anak tahu apa yang boleh mereka tuntut, tetapi tidak selalu memahami apa yang harus mereka jaga. Hormat dipahami sebagai pilihan, bukan nilai dasar. Seperti rumah yang hanya dibangun dari jendela tanpa fondasi terbuka, tetapi rapuh.
Namun ruang kelas bukan satu-satunya panggung. Anak-anak adalah penonton setia dunia orang dewasa. Mereka melihat bagaimana orang tua berbicara dengan nada tinggi, bagaimana pejabat saling merendahkan, bagaimana perbedaan diselesaikan dengan cercaan. Media sosial mempercepat semuanya: kemarahan mendapat panggung, kesantunan tersingkir. Di dunia seperti itu, melawan menjadi ekspresi yang dianggap wajar. Anak-anak hanya meniru, dengan cara mereka sendiri.
Hubungan guru dan murid pun perlahan berubah menjadi transaksional. Sekolah diperlakukan seperti layanan jasa. Orang tua merasa membeli hasil, bukan proses. Murid merasa sebagai pelanggan. Dalam relasi semacam ini, teguran mudah dianggap serangan, disiplin dianggap penindasan. Padahal pendidikan sejati bukan transaksi, melainkan perjalanan bersama. Ketika relasi kehilangan kehangatan, perlawanan tumbuh sebagai reaksi.
Pendidikan karakter sering disebut, tetapi jarang dihidupkan. Ia hadir di spanduk, bukan di keseharian. Di pidato, bukan di relasi. Anak-anak diminta sopan, tetapi jarang merasa diperlakukan dengan hormat. Mereka diajari nilai, tetapi tidak selalu melihat nilai itu dijalankan. Seperti peta yang indah, tetapi tak pernah dipakai untuk berjalan.
Di sisi lain, guru juga manusia. Mereka memikul beban administrasi, target, dan tuntutan sistem yang tak ringan. Waktu untuk mendekat sering tergerus oleh laporan dan formulir. Kelelahan membuat kesabaran menipis, jarak emosional melebar. Ketika guru tak sempat hadir sebagai manusia, murid pun sulit melihatnya sebagai figur yang patut diteladani. Relasi yang dingin jarang melahirkan hormat; ia lebih sering melahirkan resistensi.
Maka murid yang melawan guru bukanlah anomali. Ia adalah cermin. Cermin dari krisis hormat yang lebih luas: hormat pada proses, hormat pada batas, hormat pada sesama. Kita hidup di zaman yang memuja suara keras dan kemenangan cepat. Dalam hiruk-pikuk itu, adab menjadi pelan, hampir tak terdengar.
Namun penting ditegaskan: menghormati guru bukan berarti membenarkan kekerasan atau kesewenang-wenangan. Guru tetap harus adil, empatik, dan terbuka pada koreksi. Pendidikan yang sehat adalah ruang dialog, bukan ruang takut. Tetapi perlawanan bukan jalan keluar dari kekecewaan. Ia hanya memperlebar jarak dan melukai makna belajar.
Jika kita ingin murid kembali menghormati guru, jawabannya bukan hukuman semata. Kita perlu memulihkan relasi. Mengembalikan guru sebagai teladan, bukan hanya pengajar. Menghadirkan sekolah sebagai ruang aman untuk bertanya, salah, dan tumbuh. Menguatkan rumah sebagai tempat anak belajar adab sebelum belajar angka. Dan menghadirkan masyarakat yang memberi contoh bagaimana perbedaan disikapi dengan hormat.
Hormat tidak bisa dipaksakan. Ia tumbuh dari pengalaman merasa dihargai. Seperti benih, ia butuh tanah yang subur, air yang cukup, dan waktu. Ketika guru dihormati, murid belajar tentang batas. Ketika murid didengar, guru belajar tentang empati. Di titik itulah pendidikan menemukan kembali rohnya.
Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan mengapa murid berani melawan guru, melainkan apa yang telah kita ajarkan dan perlihatkan tentang cara menghormati sesama. Sebab anak-anak adalah pembaca paling jujur dari dunia yang kita bangun. Jika halaman-halamannya penuh amarah, jangan heran bila mereka menulis ulang dengan tinta yang sama.
Makassar, Januari 2026
————————
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL, Penasihat IGMP Matematika, Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

February 1, 2026 at 4:19 pm
Owen652
Promote our brand and get paid—enroll in our affiliate program!
January 17, 2026 at 12:49 pm
Mudafiatun Isriyah
Akankah karakter anak yg keliru krn pengaruh globalisasi?