Isra Mi‘raj dan Etika Pendidikan

Isra Mi‘raj dan Etika Pendidikan
Oleh: Telly D.*)
Setiap kali Isra Mi‘raj diperingati, kita sering memaknainya sebagai peristiwa spiritual yang jauh dari ruang kelas. Padahal, jika dibaca lebih dalam, Isra Mi‘raj justru menyimpan pelajaran mendasar tentang pendidikan manusia. Bukan hanya tentang naiknya pengetahuan, tetapi tentang arah, niat, dan tanggung jawab dalam proses belajar.

Isra Mi‘raj tidak dimulai dengan Mi‘raj. Ia diawali oleh Isra perjalanan mendatar, menyusuri bumi, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Ini isyarat penting: pendidikan sejati tidak dimulai dari prestasi, melainkan dari perjumpaan dengan realitas. Dari pengalaman hidup, dari pengenalan pada sesama, dari kesadaran bahwa manusia belajar bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk memahami.
Pendidikan kita hari ini kerap terburu-buru ingin “naik.” Naik kelas, naik nilai, naik peringkat, naik reputasi. Tangga-tangga akademik disusun rapi, tetapi jalanan kemanusiaan sering diabaikan. Murid-murid dilatih menjawab soal, tetapi jarang diajak membaca kehidupan. Mereka pandai menghafal rumus, tetapi gagap memahami penderitaan di sekitarnya. Kita sibuk mengejar Mi‘raj kognitif, namun kehilangan isra karakter.
Mi‘raj Nabi Muhammad SAW terjadi pada masa paling rapuh dalam hidupnya. Ia kehilangan orang-orang tercinta, ditolak, dan dilukai. Justru dalam kondisi itulah perjalanan pendidikan langit diberikan. Seakan ada pesan penting: belajar sejati sering lahir dari kegagalan, bukan dari kemenangan. Namun di sekolah, kegagalan justru dianggap aib. Nilai rendah dihukum, kesalahan dipermalukan, sementara proses belajar yang jujur sering tak mendapat tempat.
Dalam perjalanan Isra Mi‘raj, ada jeda dan singgah. Nabi berhenti, berjumpa, dan shalat. Pendidikan pun seharusnya memberi ruang untuk berhenti dan merenung. Namun ruang kelas kita sering kehilangan waktu untuk bertanya pelan, ragu dengan jujur, atau salah dengan aman. Segalanya harus cepat, terukur, dan seragam. Padahal tidak semua anak tumbuh dengan ritme yang sama.
Puncak Mi‘raj bukanlah kekaguman pada langit, melainkan turunnya perintah salat. Salat adalah disiplin harian, konsistensi, dan kesetiaan pada proses. Inilah inti pendidikan: pembentukan kebiasaan baik, bukan sekadar capaian sesaat. Datang tepat waktu, bertanggung jawab, jujur pada usaha, nilai-nilai ini sering disebut, tetapi jarang sungguh-sungguh diajarkan.
Kita hidup dalam sistem pendidikan yang makin teknokratis. Kurikulum berganti, metode diperbarui, teknologi diperkenalkan. Semua bergerak cepat, seperti Buraq. Namun pertanyaan mendasarnya sering tertinggal: pendidikan ini sedang membentuk manusia seperti apa? Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara akademik tetapi rapuh secara moral, maka ada yang keliru dalam arah perjalanannya.
Isra Mi‘raj juga mengajarkan tentang batas. Ada Sidratul Muntaha titik di mana bahkan malaikat pun berhenti. Dalam pendidikan, batas ini bernama kerendahan hati. Kesadaran bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan angka, tidak semua keberhasilan bisa dinilai dengan skor. Namun sistem pendidikan modern justru ingin mengukur segalanya. Nilai menjadi tujuan, gelar menjadi simbol, sementara makna perlahan memudar.
Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, tantangan pendidikan makin kompleks. Anak-anak hari ini memiliki akses pengetahuan yang luas, tetapi sering kehilangan ruang perenungan. Mereka cepat menguasai alat, tetapi lambat mengenali diri. Di sinilah pendidikan diuji: apakah ia hanya mengantar anak-anak naik, atau juga mengajarkan mereka menjejak dengan sadar.
Isra Mi‘raj tidak berhenti di langit. Nabi kembali ke bumi, membawa pesan dan tanggung jawab. Pendidikan sejati pun seharusnya demikian. Ia tidak berhenti pada kelulusan, tetapi berlanjut dalam cara seseorang hidup, bersikap, dan mengambil keputusan. Ilmu yang baik selalu pulang ke keluarga, ke masyarakat, ke kepedulian sehari-hari.
Mungkin yang paling kita butuhkan hari ini bukan kurikulum baru, melainkan cara pandang baru. Bahwa pendidikan bukan perlombaan menuju ketinggian, melainkan perjalanan panjang yang setia menyusuri bumi. Bahwa tugas pendidikan bukan hanya membuat anak-anak pintar naik, tetapi juga mampu turun, peduli, dan bertanggung jawab.
Sebab seperti Isra Mi‘raj, pendidikan sejati adalah perjalanan yang menyatukan bumi dan langit: pengetahuan dan nilai, kecerdasan dan nurani. Tanpa itu, pendidikan hanya akan melahirkan ketinggian semu terlihat maju, tetapi kehilangan arah.
Makassar, Januari 2026
————————
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL, Penasihat IGMP Matematika, Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

February 6, 2026 at 1:32 pm
Hope785
Promote our products—get paid for every sale you generate!