Tertawa di Hadapan Kekuasaan

Tertawa di Hadapan Kekuasaan
Oleh: Telly D *)
Ada satu malam dalam kalender politik Amerika yang selalu terasa aneh sekaligus indah. Di sebuah ballroom di Washington, presiden Amerika Serikat duduk semeja dengan para wartawan yang setiap hari menguliti kekuasaannya. Mereka makan malam bersama, lalu saling menertawakan. Presiden mengejek dirinya sendiri, jurnalis tertawa, komedian menertawakan presiden, dan semua orang pulang tanpa ada yang diborgol. Malam itu bernama White House Correspondents’ Dinner. Ia bukan sekadar pesta, melainkan semacam upacara kecil untuk mengingatkan bahwa dalam demokrasi, kekuasaan yang sehat adalah kekuasaan yang tahan ditertawakan.
Tradisi ini berangkat dari kesadaran sederhana: pers dan penguasa tidak harus selalu bermusuhan, tetapi mereka juga tidak boleh bersekongkol. Di tengah ketegangan itulah humor bekerja. Roasting, sindiran, dan candaan menjadi cara untuk mengendurkan otot kekuasaan yang cenderung kaku. Seorang presiden yang mampu menertawakan dirinya sendiri sedang berkata kepada rakyatnya, “Saya berkuasa, tetapi saya tetap manusia.” Dan seorang jurnalis yang berani menyindir presiden di hadapannya sedang berkata, “Saya hormat, tetapi saya tidak takut.”
Dalam satu acara, Barack Obama pernah membuka pidatonya dengan menyinggung rumor dan kritik tentang dirinya, bahkan tentang kegagalannya sendiri. Ia menjadikannya bahan lelucon. Di sisi lain, komedian yang tampil setelahnya tak segan-segan menyentil kebijakan dan gaya kepemimpinannya. Semua tertawa. Tak ada laporan polisi. Tak ada pasal karet. Yang ada hanya kesepakatan tak tertulis: di negeri yang sehat, candaan dibalas dengan candaan.
Di Indonesia, situasinya sering terasa berbeda. Di sinilah gagasan mens rea yang dipopulerkan Pandji Pragiwaksono menjadi relevan. Mens rea adalah niat atau sikap batin di balik sebuah tindakan. Dalam politik, ini bisa diterjemahkan sebagai sikap mental para pejabat terhadap kritik dan sindiran. Apakah mereka sungguh-sungguh memahami diri mereka sebagai pelayan publik yang wajar dikritik, atau diam-diam merasa sebagai penguasa yang harus selalu dihormati?
Sering kali, yang terlihat adalah paradoks. Secara lahiriah, kita mengaku hidup dalam demokrasi. Ada pemilu, ada parlemen, ada pers. Tetapi secara batiniah, banyak elite masih membawa mens rea feodal: ingin dipuja, alergi ditertawakan, dan merasa harga diri pribadi identik dengan martabat negara. Dari sinilah lahir reaksi-reaksi berlebihan: candaan dibalas dengan laporan, satire dijawab dengan pasal pidana, dan kritik disambut dengan persekusi.
Padahal, sejarah Indonesia sendiri menyimpan contoh kedewasaan yang jauh lebih tinggi. Haji Agus Salim, salah satu diplomat dan pemikir besar republik ini, pernah dipermalukan di sebuah forum internasional. Ia disindir sebagai “kambing yang mengembik,” sebuah metafora kasar yang jelas merendahkan. Namun Agus Salim tidak marah, apalagi mengancam dengan pidana. Ia justru membalas dengan kecerdasan dan humor, menjadikan ejekan itu senjata untuk menunjukkan keunggulan akal dan martabatnya. Dengan satu balasan cerdas, ia membalik posisi: yang mengejek justru terlihat kecil.
Di titik ini, terlihat perbedaan yang mencolok antara dua tradisi. Di Gedung Putih, candaan adalah bahasa bersama antara kekuasaan dan pengawasnya. Dalam tradisi Agus Salim, candaan adalah bentuk perlawanan yang bermartabat. Keduanya berangkat dari satu kesadaran yang sama: harga diri sejati tidak runtuh karena ditertawakan. Justru yang runtuh adalah kekuasaan yang tak sanggup menanggung tawa.
Bagi pejabat, menerima candaan dan kritik dengan lapang dada bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan. Orang yang benar-benar berkuasa tidak perlu memenjarakan lelucon. Ia cukup menertawakannya, atau jika perlu, membalasnya dengan lelucon yang lebih tajam. Dengan begitu, publik melihat bahwa pemimpinnya bukan patung yang rapuh, melainkan manusia yang matang.
Bagi masyarakat dan para pengkritik, humor juga mengandung tanggung jawab. Candaan yang sehat bukanlah fitnah atau kebencian, melainkan cara kreatif untuk menunjukkan absurditas dan kesalahan. Di White House Correspondents’ Dinner, komedian bisa pedas, tetapi tujuannya jelas: menertawakan kekuasaan agar ia tidak lupa diri. Humor seperti ini justru memperkuat demokrasi, bukan merusaknya.
Masalah muncul ketika candaan diseret ke wilayah pidana. Di titik itu, demokrasi kehilangan rasa humornya, dan kekuasaan kehilangan kepercayaan diri. Negara yang menuntut warganya karena lelucon sedang mengakui bahwa ia takut pada tawa. Padahal, tawa adalah tanda masyarakat yang hidup.
Karena itu, membandingkan tradisi Gedung Putih dengan realitas kita bukan untuk mengidealkan Amerika, melainkan untuk bercermin. Kita pernah punya Agus Salim. Kita pernah punya tradisi kecerdasan dan kelapangan batin. Yang kita perlukan sekarang adalah mens rea yang sama: kesadaran bahwa dalam republik, tidak ada jabatan yang terlalu tinggi untuk ditertawakan.
Candaan dibalas dengan candaan itulah yang keren. Bukan karena semua hal harus dianggap remeh, tetapi karena tidak semua hal layak dipidanakan. Di situlah kedewasaan politik diuji: bukan pada seberapa keras kita membungkam suara, melainkan pada seberapa luas kita mampu menertawakan diri sendiri.
Makassar, Januari 2026
————————
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

February 8, 2026 at 10:30 am
Maureen890
Start earning passive income—become our affiliate partner!
February 2, 2026 at 6:13 pm
Ebony1510
Promote our products—get paid for every sale you generate!