Ketika Kekuasaan Belajar Tertawa

Ketika Kekuasaan Belajar Tertawa
Oleh: Telly D.*)
Bayangkan sebuah ruangan megah, dipenuhi jas hitam dan gaun malam, tetapi yang bergaung bukan pidato kaku melainkan tawa. Di sana duduk seorang presiden, dikelilingi para jurnalis yang setiap hari mengkritiknya, dan malam itu mereka justru saling mengejek dengan ramah. Pemandangan ini bukan adegan film komedi, melainkan tradisi nyata di Amerika Serikat bernama White House Correspondents’ Dinner. Di meja-meja makan itu, kekuasaan dilucuti dari kesakralannya, lalu dipakaikan pakaian paling manusiawi: kemampuan untuk ditertawakan.
Tradisi ini terasa seperti sebuah pelajaran demokrasi yang disampaikan dengan senyum. Presiden yang hadir tidak hanya berpidato tentang kebijakan, melainkan juga menertawakan gosip tentang dirinya, kekeliruan masa lalu, bahkan citra yang dibangun media. Setelah itu, seorang komedian naik ke panggung dan, dengan keberanian yang tak kecil, menyindir sang presiden, kabinet, dan para jurnalis sendiri. Semua tertawa. Tidak ada pasal pidana yang berkelebat, tidak ada ancaman hukum. Yang ada hanyalah kesepakatan batin: di republik yang sehat, kekuasaan tidak anti-humor.
Humor di ruang itu bekerja sebagai cermin. Ia memantulkan kembali wajah kekuasaan yang sering kali terlalu serius memandang dirinya sendiri. Dengan tertawa, seorang presiden sedang mengakui bahwa ia bukan makhluk suci, melainkan manusia yang bisa keliru. Dan seorang jurnalis yang berani menyindir sedang menjalankan tugasnya tanpa harus bersuara keras. Demokrasi menemukan bentuknya yang paling ringan, tetapi justru paling jujur.
Di Indonesia, situasi ini terasa seperti cerita dari planet lain. Kita hidup di ruang publik yang mudah memanas. Candaan tentang pejabat sering diperlakukan seperti penghinaan. Satire dianggap subversi. Lelucon dipanggil ke kantor polisi. Di sinilah konsep mens rea, sikap batin terhadap kritik, menjadi kunci. Banyak pejabat kita tampaknya masih membawa mentalitas lama: mereka mungkin terpilih secara demokratis, tetapi jiwanya belum sepenuhnya demokratis. Mereka ingin dihormati, tetapi tidak mau ditertawakan.
Ketika candaan dibalas dengan laporan, yang sedang terjadi bukanlah penegakan hukum, melainkan krisis kepercayaan diri. Kekuasaan yang percaya diri tidak memerlukan borgol untuk melindungi harga dirinya. Ia cukup menanggapi dengan argumen atau humor. Di negara-negara dengan tradisi demokrasi kuat, tawa justru menjadi penanda bahwa kekuasaan tidak rapuh.
Ironisnya, sejarah Indonesia sendiri pernah menawarkan teladan yang jauh lebih dewasa. Haji Agus Salim, diplomat dan pemikir besar republik, pernah dihina di forum internasional sebagai “kambing yang mengembik.”. Ejekan itu tidak ringan. Tetapi Agus Salim tidak naik pitam. Ia membalas dengan kecerdasan dan ironi, memutar balik penghinaan itu menjadi senjata yang justru mempermalukan si pengejek. Dalam satu momen, ia menjaga martabat dirinya dan bangsanya tanpa harus mengancam siapa pun.
Agus Salim memahami bahwa humor adalah bentuk tertinggi dari ketenangan. Orang yang bisa tertawa di tengah ejekan adalah orang yang tahu nilai dirinya. Ia tidak perlu memenjarakan lawan; cukup membuat lawan tampak konyol dengan satu kalimat yang cerdas. Itulah seni bernegara yang kita lupa.
Hari ini, kita terlalu sering memilih jalan yang lebih kasar. Kritik ditanggapi dengan kemarahan, satire dengan pasal. Padahal, candaan dibalas dengan candaan justru jauh lebih elegan. Seorang pejabat yang membalas sindiran dengan humor menunjukkan bahwa ia menguasai situasi, bukan dikuasai oleh emosinya. Publik pun melihat bahwa pemimpinnya matang, tidak rapuh oleh tawa.
Bagi masyarakat, humor adalah bahasa alternatif ketika bahasa resmi kehilangan daya. Ia menyelinap, menggelitik, dan membuat orang berpikir tanpa harus berteriak. Satire yang baik bukanlah kebencian, melainkan ajakan untuk bercermin. Di ruang publik yang sehat, kritik seperti ini disambut dengan keterbukaan, bukan dengan ancaman.
Jika demokrasi adalah sebuah rumah, maka tawa adalah jendelanya. Dari jendela itulah udara segar masuk, membawa suara-suara yang mungkin tidak selalu nyaman, tetapi perlu. Menutup jendela karena takut angin hanya akan membuat rumah itu pengap dan penuh kecurigaan. Membukanya berarti percaya bahwa fondasi kita cukup kuat untuk menahan hembusan.
Pada akhirnya, yang membedakan bangsa yang matang dan yang gelisah bukanlah seberapa keras ia membungkam, melainkan seberapa luas ia mampu tertawa. Kita pernah punya Agus Salim, dan dunia hari ini punya panggung seperti Gedung Putih. Tinggal kita memilih: apakah ingin hidup dalam republik yang penuh ketakutan, atau dalam republik yang cukup berani untuk menertawakan dirinya sendiri.
Makassar, 15 januari 2025
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

February 6, 2026 at 1:32 pm
Damian662
Maximize your income with our high-converting offers—join as an affiliate!
January 30, 2026 at 7:52 pm
Raymond656
Partner with us for high-paying affiliate deals—join now!