Mens Rea: Tawa yang Mengadili Niat

Mens Rea: Tawa yang Mengadili Niat
Oleh: Telly D.*)
Di zaman ketika semua orang ingin benar dan tak ada yang mau bercermin, sebuah pertunjukan komedi tiba-tiba berubah menjadi ruang pengadilan batin, dan di sanalah Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono berdiri bukan untuk memvonis, melainkan untuk memperlihatkan bahwa yang paling sering kita sembunyikan dari publik justru adalah niat kita sendiri.
Di negeri yang ramai oleh teriakan, Mens Rea datang bukan sebagai palu, melainkan sebagai cermin. Ia membawa istilah hukum yang dingin, niat bersalah ke atas panggung, lalu meleburkannya ke dalam tawa. Namun tawa itu tidak sekadar lucu; ia menggigit. Kita tertawa karena merasa dikenali: di balik setiap peristiwa publik, selalu ada batin yang bergerak, ada kepentingan, ada ketakutan, ada hasrat untuk tampak paling benar.
Panggung komedi sering disalahpahami sebagai wilayah remeh, padahal justru di situlah kebenaran paling berani bersembunyi. Satire bekerja seperti pisau bedah: bukan untuk membunuh, melainkan membuka. Dalam Mens Rea, Pandji tidak mengajari kita apa yang harus dipikirkan, tetapi memaksa kita menyadari apa yang selama ini kita niatkan. Ia menggeser perhatian kita dari “apa yang terjadi” menuju “mengapa kita melakukan itu.”
Di zaman ketika perasaan lebih cepat daripada nalar, komedi mudah dianggap ancaman. Ia mengganggu kenyamanan, dan gangguan selalu terasa seperti serangan. Padahal sering kali yang kita sebut luka hanyalah sentuhan pada kebenaran yang selama ini kita hindari. Kita marah bukan karena dihina, melainkan karena dikenali terlalu telanjang.
Mens Rea memperlihatkan paradoks masyarakat kita: kita ingin kebebasan berekspresi, tapi panik ketika kebebasan itu menyentuh kita. Kita memuja keberanian, namun gemetar saat keberanian itu mengarah ke wajah sendiri. Di titik inilah komedi menjadi penyeimbang, ia menertawakan kita agar kita tidak mengangkat diri terlalu tinggi di atas sesama.
Pandji merangkai isu, gosip, politik, dan kegaduhan warganet menjadi satu benang besar tentang niat kolektif. Sebab bangsa tidak digerakkan oleh slogan, melainkan oleh kehendak batinnya: apakah kita ingin adil, atau sekadar ingin menang. Dalam hukum, Mens Rea menentukan salah atau tidak. Dalam kehidupan bersama, ia menentukan apakah kata kita jujur atau kejam, apakah kritik kita membangun atau merobohkan.
Tawa dari Mens Rea bukan tawa kosong. Ia seperti kopi pahit yang memaksa mata terbuka. Kita tertawa sambil menyadari betapa sering kita ikut menyumbang pada kebisingan yang kita keluhkan sendiri. Inilah seni: ia tidak berkhotbah, tetapi mengganggu dengan keindahan yang tidak nyaman.
Di tengah dunia yang memotong segala hal menjadi klip dan kutipan, komedi menuntut kesabaran. Ia perlu didengar utuh, dengan jeda dan napasnya. Menilainya dari satu kalimat saja sama seperti menilai doa dari satu suku kata.
Ketika lampu panggung padam dan tawa mengendap menjadi ingatan, yang tertinggal dari Mens Rea bukan lelucon, melainkan sebuah pertanyaan sunyi: di setiap pendapat yang kita teriakkan dan setiap kemarahan yang kita bela, sebenarnya niat apa yang sedang kita rawat, mencari kebenaran, atau sekadar ingin menang.
Makassar, 13 januari 2025
______________________
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd., adalah seorang Pegiat Literasi, Penasihat Komunitas Menulis RVL,Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan, Ka LPMP Sulbar 2009 – 2016 dan Ka PPPPTK Matematika Jogyakarta 2016 – 2020, Ibu Rumah Tangga, Pelukis dan Penulis lebih 60 Judul buku. Buku terakhir “Kartini Zaman Kini” 45 Tangan Menahan Cahaya (2025).

February 1, 2026 at 4:57 pm
Teresa4764
Turn your traffic into cash—join our affiliate program!
January 31, 2026 at 1:27 am
Alicia192
Refer friends, earn cash—sign up now!