LANGIT TAK LAGI BIRU

Pentigraf
LANGIT TAK LAGI BIRU
Oleh: Telly D.
Aku tumbuh dengan laut di urat nadiku. Ibu mengajarkanku menyelam, membaca arus, dan mendengarkan sunyi di kedalaman. Laut adalah pelukannya, dan bersamanya aku merasa dunia tenang. Tapi hari itu, pelukan laut tak mengembalikannya. Ibu menyelam seperti biasa, tapi tak pernah kembali. Sejak itu, aku tak lagi menyentuh air. Warna biru menjadi luka, dan ombak terdengar seperti doa yang diputus paksa.
Setahun aku menjauh. Tapi rasa rindu lebih keras dari rasa takut. Aku kembali ke laut. Aku menyelam perlahan, dengan dada sesak dan tangan gemetar. Baru tiga meter di bawah permukaan, napasku tersendat, karena kenangan menyerbu sekaligus. Aku ingin naik, lari dari laut yang dulu kucinta, tapi kakiku seperti diikat rasa bersalah.
Tepat ketika aku akan menyerah, seekor penyu melintas di hadapanku. Tempurungnya retak, seolah membawa bekas luka yang tak sembuh, tapi tetap berenang dengan anggun. Dan di tengah air yang tenang, hatiku akhirnya luluh: “Ibu tak tenggelam di laut, tapi hidup di setiap keberanianku untuk kembali.”
Makassar, Juni 2025

June 13, 2025 at 12:57 am
Hernawati
Masya Allah… endingnya selalu di hati