Di Meja yang Sama: Ketika Keluarga Kembali Menemukan Arah

Di Meja yang Sama: Ketika Keluarga Kembali Menemukan Arah
Oleh Telly D.*)
Siang itu, di sebuah kafe yang ramai namun terasa akrab, keluarga besar Haji Andi Sanre Daeng Parebba berkumpul bukan sekadar untuk saling berjabat tangan. Mereka datang membawa waktu yang pernah memisahkan, yang pernah menguji, yang juga pernah menguatkan. Dari anak hingga cicit generasi kelima, semua duduk dalam satu ruang, dalam satu nama, dalam satu sejarah panjang yang tidak selalu mudah. Di antara senyum yang mengembang dan percakapan yang saling menyapa, ada kesadaran yang perlahan tumbuh: bahwa pertemuan ini bukan hanya untuk merayakan hari raya, tetapi juga untuk merawat kembali apa yang hampir lepas, kebersamaan, ingatan, dan arah yang ingin dijaga bersama.
Halal bihalal itu diselenggarakan dengan penuh kesungguhan, disponsori oleh Dr. Nasruddin Nawawi, seorang yang memahami bahwa keluarga tidak cukup hanya diingat, tetapi perlu dipertemukan. Ia menghadirkan ruang bagi semua untuk kembali duduk setara, tanpa sekat, tanpa jarak yang terlalu jauh untuk dijembatani.
Acara dibuka oleh Dr. Nasrudin Nawawi. Dengan suara yang tenang dan penuh penghormatan, ia menyampaikan selamat datang kepada seluruh keluarga yang hadir. Ucapan terima kasihnya sederhana, tetapi terasa dala seolah menegaskan bahwa kehadiran hari itu adalah pilihan yang berharga, bukan sekadar kewajiban.
Di tengah kehangatan itu, dr. Junaidi Machdar Dachlan. M.S. berdiri berbicara bagaimana merangkai kembali benang-benang yang mungkin mulai longgar. Ia menuturkan silsilah keluarga Haji Andi Sanre Daeng Parebba, dari generasi pertama hingga kelima yang kini hadir, tidak sekadar menyebut nama, tetapi menghidupkan kembali perjalanan.

Dr. Nasrudin Nawawi Membuka Acara Halal Bihalal. Foto: Dokumen Pribadi
Ia bercerita tentang masa ketika hidup belum memberi kemudahan. Ketika sekolah adalah sesuatu yang sulit dijangkau, namun Haji Andi Sanre memilih untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya. Sebuah pilihan yang lahir dari keberanian untuk melampaui keadaan, dari keyakinan bahwa masa depan harus diperjuangkan, bukan ditunggu.
Dari sanalah tumbuh generasi yang hari ini berkumpul yang membawa jejak perjuangan itu ke arah yang lebih luas. Mereka belajar bahwa hidup harus dijalani dengan kejujuran, bahwa kebersamaan tidak boleh dilepaskan, dan bahwa setiap orang harus berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Namun cerita itu juga tidak luput dari kenyataan. Pernah ada perbedaan, pernah ada gesekan, bahkan tentang harta yang sempat menimbulkan jarak. Tidak semua berjalan lurus. Tidak semua selalu sejalan. Tetapi di hari itu, semua memilih untuk hadir dan itu sudah menjadi langkah yang tidak kecil.

Keluarga Besar H. Andi Sanre Daeng Parebba. Foto: Dokumen Pribadi
Dalam ajaran Islam, menjaga silaturahmi adalah perintah yang tidak boleh diabaikan. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an agar hubungan kekerabatan dijaga, dan Rasulullah SAW menegaskan bahwa siapa yang menyambung silaturahmi akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Hari itu, nilai itu tidak hanya diucapkan, tetapi dijalani dalam pertemuan, dalam salaman, dalam kesediaan untuk kembali mendekat.
Lebih dari itu, yang diwariskan dalam keluarga ini adalah nilai-nilai yang hidup dalam tindakan: keberanian untuk mengambil jalan yang sulit demi masa depan, kejujuran dalam bersikap, kebersamaan yang terus dirawat, serta keuletan untuk tidak berhenti berjuang. Sebuah keyakinan sederhana namun kuat bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini, dan hari ini harus lebih baik dari hari yang telah berlalu.
Di penghujung acara, satu per satu kembali bersalaman. Lebih pelan, lebih dalam. Ada yang tersenyum dengan mata yang sedikit basah, ada yang menggenggam lebih lama dari biasanya. Tidak semua selesai hari itu, tidak semua menjadi sempurna. Tetapi sesuatu telah dipulihkan perlahan, namun pasti.
Suasana kemudian menghangat oleh sentuhan yang tulus. Istri dari Dr. Nasrudin Nawawi, yaitu drg. Andi Ernawati yang baru kembali dari beribadah Umrah di Mekkah membagikan sajadah kepada beberapa anggota keluarga. Sajadah itu seakan membawa jejak doa, mengingatkan bahwa setiap sujud adalah jalan pulang yang sama bagi semua. Tak lama kemudian, amplop-amplop berisi sedekah dibagikan kepada anak-anak dan cucu-cucu. Di sana, terasa bahwa berbagi bukan hanya tradisi, tetapi cara menjaga rasa agar keluarga tetap hidup dalam kepedulian.
Ketika langkah-langkah mulai meninggalkan kafe itu, yang tersisa bukan sekadar kursi yang kosong atau meja yang kembali sunyi. Suatu yang tertinggal adalah gema tentang keberanian untuk tetap bersatu, tentang kejujuran dalam mengakui masa lalu, tentang kebersamaan yang tidak boleh ditukar oleh apa pun, dan tentang tekad untuk terus melangkah lebih baik dari hari kemarin. Keluarga ini mungkin tidak sempurna, tetapi mereka memilih untuk terus berjuang menjadi lebih kuat, lebih bernilai, dan lebih bermakna di tengah masyarakat. Dan selama semangat itu tetap dijaga, selama keinginan untuk maju tidak padam, maka pertemuan hari itu tidak akan pernah benar-benar berakhir. ia akan hidup, mengalir, dan tumbuh dalam setiap langkah generasi berikutnya menuju masa depan yang lebih baik.
Makassar, April 2026
Telly D.*) adalah nama pena dari Dr. Daswatia Astuty Dachlan, M.Pd. Seorang penulis, pemerhati pendidikan, dan pegiat literasi. Dia putri dari Hj. Zubaidah Dachlan Dg Sikati putri dari H. Andi Sanre Daeng Parebba.

April 15, 2026 at 4:58 pm
Abram1074
https://shorturl.fm/0QnPI