Diundang Kembali, Dihargai Sepenuh Hati

Diundang Kembali, Dihargai Sepenuh Hati
Oleh: Daswatia Astuty*)
Saya sebenarnya hanya datang dengan niat sederhana: memenuhi undangan halal bihalal, bersilaturahmi, lalu pulang membawa rasa lega karena masih bisa menyapa tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Tidak lebih, tetapi rencana sederhana itu berubah begitu saya tiba. Alih-alih duduk sebagai tamu biasa, saya justru diminta berdiri di depan, memberi sambutan, seperti dulu seolah waktu melipat dirinya dan memberi saya satu kesempatan kecil untuk kembali merasakan suasana itu.
Jujur, saya sempat tersenyum sendiri. “Ini halal bihalal atau ujian mendadak?” pikir saya waktu itu. Tetapi di balik itu, ada rasa hangat yang sulit saya sembunyikan. Sebagai mantan kepala, diundang saja sudah menjadi kehormatan. Apalagi masih diberi ruang untuk berbicara. Itu bukan hal yang biasa.
Sepulang dari acara itu, saya sempat membagikan pengalaman ini pada beberapa mantan kepala LPMP se-Indonesia, bahkan ke Mantan Dirjen GTK Kemendikbud RI: Sumarna Surapranata, M.S, Ph.D. Responsnya di luar dugaan. Hampir semua memberi reaksi yang sama: kagum. Bahkan beberapa menyebutnya sebagai sesuatu yang “istimewa” dan “jarang terjadi.” Ada yang terang-terangan mengatakan bahwa tidak semua pimpinan mau melakukan hal seperti itu mengundang pendahulunya, memberi tempat terhormat, bahkan memintanya berbicara di depan.
Saya membaca satu per satu pesan itu dengan perasaan campur aduk. Bukan karena saya merasa lebih dari yang lain, tetapi justru karena saya semakin sadar: apa yang saya alami ini memang bukan sesuatu yang umum. Banyak tempat, ketika kepemimpinan berganti, yang lama perlahan dilupakan. Bahkan kadang sengaja dijauhkan. Seolah masa lalu adalah beban, bukan bagian dari perjalanan.

Memberi Sambutan pada Acara Halal Bihalal BPMP Sulbar. Foto: Dokumen Pribadi
Di sinilah saya merasa apa yang dilakukan pimpinan di sana menjadi sangat berarti. Ia tidak hanya membuka pintu, tetapi juga membuka hati. Ia tidak sekadar menghormati secara simbolik, tetapi benar-benar menghadirkan penghargaan itu dalam tindakan nyata. Ia menyambut saya dengan hangat, bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai sikap.
Saya bahkan dibuat benar-benar terharu ketika tahu mereka memikirkan hal-hal kecil yang justru sangat besar maknanya. Mereka menjemput saya dengan mobil kantor. Mereka menyiapkan tempat istirahat yang layak. Mereka melayani saya dengan penuh hormat. Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan nilai yang dalam: bagaimana memperlakukan orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Suatu yang lebih menyentuh lagi, itu tidak hanya datang dari pimpinan. Staf-staf di sana juga menunjukkan sikap yang sama. Mereka menyapa dengan tulus, berbicara dengan hormat, dan memperlakukan saya bukan sebagai orang asing yang datang berkunjung, tetapi sebagai bagian dari keluarga yang pernah pergi dan kini pulang sebentar.
Di titik itu saya menyadari, ini bukan sekadar soal acara halal bihalal. Ini adalah tentang nilai yang hidup. Tentang bagaimana sebuah lembaga memilih untuk tidak memutus ingatan, tetapi merawatnya. Tentang bagaimana penghargaan kepada senior tidak berhenti di ucapan, tetapi hadir dalam budaya.

Suasana Acara Halal Bihalal BPMP Sulbar. Foto: Dokumen Pribadi
Saya juga melihat sesuatu yang membuat saya lega: staf dan generasi baru di sana tumbuh dengan baik. Mereka tidak canggung dengan nilai-nilai seperti penghormatan, kebersamaan, dan silaturahmi. Mereka justru terlihat menikmati itu. Seolah-olah nilai yang dulu kami tanamkan tidak hilang, tetapi menemukan bentuk barunya di tangan generasi berikutnya.
Baru dua kali pergantian pimpinan setelah saya tetapi lembaga ini sudah berkembang jauh. Lebih hidup, lebih dinamis. Saya melihat ada orang-orang terbaik di dalamnya. Saya melihat ada pemimpin yang mampu merawat orang-orang terbaik itu. Dan yang paling penting, saya melihat nilai-nilai yang tetap dijaga.
Mungkin inilah kuncinya: ketika kepemimpinan, manajemen, dan nilai berjalan bersama, maka pertumbuhan tidak terasa dipaksakan. Ia mengalir. Orang-orang bekerja bukan hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati. Mereka saling menghargai, saling mendukung, bahkan saling mencintai dalam arti yang paling sederhana: peduli satu sama lain.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pimpinan hari ini beserta seluruh jajaran. Apa yang Anda lakukan bukan hanya memuliakan saya sebagai pribadi, tetapi juga memuliakan nilai yang kita yakini bersama. Sambutan hangat, perhatian yang tulus, hingga pelayanan yang begitu hormat, semua itu adalah cerminan kepemimpinan yang berkelas dan berjiwa besar.
Saya pulang dengan hati yang penuh. Dan mungkin inilah bagian yang paling indah: ketika kita tidak lagi berada di dalam sistem, tetapi tetap dihargai sebagai bagian dari sejarahnya. Ketika kita tidak lagi memimpin, tetapi masih dianggap berarti. Di situlah saya percaya, yang kita bangun dulu tidak sia-sia. Ia hidup, ia tumbuh, dan hari ini ia menyapa kita kembali dengan cara yang jauh lebih hangat dari yang pernah kita bayangkan.
Makassar, Maret 2026
Daswatia Astuty*) adalah Karateker Kepala LPMP Sulbar tahun 2009 – 2011, dan Kepala LPMP Sulbar tahun 2012 – Oktober 2016.

April 19, 2026 at 4:14 am
Ayden1769
https://shorturl.fm/HKSjU
April 4, 2026 at 7:06 am
Mimin Rukmini
MasyaAllah! Luar biasa Bun! Selamat dan sukses selalu akan nilai2 yang telah Bunda torehkan.
….Mungkin inilah kuncinya: ketika kepemimpinan, manajemen, dan nilai berjalan bersama, maka pertumbuhan tidak terasa dipaksakan. Ia mengalir. Orang-orang bekerja bukan hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati. Mereka saling menghargai, saling mendukung, bahkan saling mencintai dalam arti yang paling sederhana: peduli satu sama lain.
InsyaAllah ini menjadi pengingat saya walau sekadar di wilayah kecil. Htr nuhun!