DETIK TERAKHIR

Pentigraf
DETIK TERAKHIR
Oleh: Telly D.
Di kota yang tak lagi mengenal masa kecil, anak itu belajar membaca arah dari suara ledakan. Ia berlari di antara puing, membawa pesan dari satu sudut ke sudut lain, menukar keberanian dengan sepotong roti. Tak ada yang mengajarinya menjadi dewasa, tetapi perang memaksanya tumbuh tanpa pilihan. Orang-orang mengenalnya sebagai anak yang selalu kembali, kecil, cepat, dan tak banyak bertanya.
Suatu hari, ia diminta mengantar sebuah paket ke batas kota, tempat yang bahkan orang dewasa enggan dekati. Jalan yang ia lalui terasa berbeda, lebih sunyi, lebih panjang seolah waktu ikut menahan langkahnya. Paket itu terpasang erat di dadanya, beratnya aneh, seperti menyimpan sesuatu yang hidup. Namun seperti biasa, ia tidak bertanya. Dalam dunia yang runtuh, bertanya sering kali lebih berbahaya daripada diam.
Ia berhenti di titik yang ditentukan. Tak ada siapa pun. Hanya angin yang lewat tanpa suara. Dari dalam bungkusan itu, terdengar bunyi detik yang asing. Saat tangannya membuka sedikit lapisan, ia akhirnya mengerti, terlambat. Ia bukan sekadar pembawa pesan. Ia adalah pesan itu sendiri. Dan dalam jeda waktu yang nyaris tak ada, masa kecilnya berakhir tanpa sempat berpamitan.
Makassar, April 2026

Leave a Reply