Memurnikan Halal Bihalal: Kembali ke Hati yang Sederhana

Memurnikan Halal Bihalal: Kembali ke Hati yang Sederhana
Oleh: Telly D.*)
Halal bihalal, pada mulanya, adalah jalan pulang. Ia lahir dari kerinduan untuk saling membersihkan hati setelah sebulan ditempa oleh Ramadan. Tidak ada panggung, tidak ada sorotan. Hanya tangan yang saling menjabat, mata yang saling menatap, dan kalimat sederhana: mohon maaf lahir dan batin. Seperti air yang mengalir pelan, ia menyejukkan tanpa perlu suara keras.
Dulu, halal bihalal terasa seperti duduk di beranda rumah lama, angin berembus pelan, teh hangat tersaji, dan percakapan mengalir tanpa beban. Kita datang bukan untuk dilihat, tetapi untuk merasakan. Bukan untuk dinilai, tetapi untuk mengikhlaskan.
Namun, pelan-pelan, ada yang bergeser.
Di sebuah reuni sekolah yang dibungkus dalam nama halal bihalal, saya melihat suasana yang berbeda. Ruangan dipenuhi tawa, tetapi tidak semua tawa berasal dari hati yang ringan. Ada yang datang dengan langkah mantap, membawa cerita keberhasilan yang mengilap. Ada pula yang duduk lebih tenang, bahkan cenderung diam seperti bayangan yang tidak ingin terlalu terlihat.
Percakapan pun berubah arah. Dari “apa kabar?” menjadi “sekarang di mana?” lalu bergeser lagi menjadi “sudah sampai mana?” Seolah hidup diukur dengan garis yang harus selalu naik. Dalam diam, beberapa orang mulai merasa tertinggal. Mereka yang belum “menjadi apa-apa” menurut ukuran umum, perlahan menyusut dari lingkaran percakapan.
Halal bihalal yang seharusnya menjadi ruang pelukan, berubah menjadi ruang perbandingan.
Di kantor, cerita serupa muncul dengan wajah yang berbeda. Halal bihalal tidak lagi sekadar ajang saling memaafkan, tetapi juga menjadi panggung presentasi yang dibungkus rapi. Ada sambutan yang panjang, penuh narasi keberhasilan. Ada visualisasi pencapaian yang ditampilkan dengan bangga. Semua tampak megah, bahkan mengesankan.
Tidak ada yang salah dengan keberhasilan. Ia layak dirayakan. Tetapi ketika keberhasilan itu dipamerkan dalam ruang yang seharusnya menjadi ruang kerendahan hati, ada yang terasa bergeser. Seperti gula yang terlalu banyak dalam teh, manisnya justru menutupi rasa asli yang ingin dinikmati.
Lebih halus lagi, ada rasa yang tidak terucap: bahwa yang hadir bukan sekadar untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk menyaksikan, bahkan mengakui, keberhasilan yang ditampilkan. Padahal, keberhasilan itu sesungguhnya adalah hasil kerja banyak tangan, bukan satu nama.
Di titik ini, halal bihalal mulai kehilangan kesederhanaannya. Ia seperti cermin yang seharusnya memantulkan kejujuran, tetapi perlahan berubah menjadi panggung yang memantulkan citra.
Lalu, bagaimana memurnikannya kembali? Mungkin kita perlu kembali pada niat yang paling awal. Bahwa halal bihalal bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tetapi tentang siapa yang mau merendah. Bukan tentang siapa yang paling berhasil, tetapi tentang siapa yang paling tulus meminta dan memberi maaf.
Bayangkan halal bihalal sebagai sungai kecil di desa. Airnya jernih karena tidak banyak yang dibawa selain aliran alami. Jika kita mulai memasukkan terlalu banyak “hiasan” ambisi, pencitraan, pembuktian, air itu akan keruh dengan sendirinya.
Memurnikan halal bihalal bukan berarti menolak kemajuan atau menutup cerita keberhasilan. Tetapi menempatkannya pada ruang yang tepat. Halal bihalal adalah ruang hati, bukan ruang pamer. Ia adalah jeda, bukan panggung.
Mungkin kita bisa memulai dari hal kecil: mengurangi kata-kata yang ingin mengesankan, dan memperbanyak kata yang menghangatkan. Mengurangi cerita tentang pencapaian, dan memperbanyak cerita tentang perjalanan. Karena sering kali, yang menyentuh bukanlah hasil, tetapi proses yang dilalui dengan jatuh bangun.
Dan bagi mereka yang merasa tertinggal, halal bihalal seharusnya menjadi tempat paling aman untuk kembali merasa cukup. Tempat di mana tidak ada ukuran selain keikhlasan.
Pada akhirnya, halal bihalal adalah tentang pulang, pulang ke hati yang bersih, ke relasi yang jujur, dan ke kesadaran bahwa kita semua sama-sama sedang berjalan. Tidak perlu berlari lebih cepat hanya untuk terlihat lebih jauh.
Cukup berjalan bersama, saling menggenggam, dan saling memaafkan. Karena di situlah maknanya tetap hidup.
Makassar, 9 April 2026
Telly D.*) Adalah nama pena Dr. Daswatia Astuty, M.Pd, seorang pemerhati pendidikan, pegiat literasi, pelukis, dan penulis lebih 65 judul buku, buku terakhir adalah “Tinta yang Bersujud“ (2026).

April 9, 2026 at 12:35 am
Nuryadin
Paragrag yg paling nyata terjadinya 😊🙏
——
Percakapan pun berubah arah. Dari “apa kabar?” menjadi “sekarang di mana?” lalu bergeser lagi menjadi “sudah sampai mana?” Seolah hidup diukur dengan garis yang harus selalu naik. Dalam diam, beberapa orang mulai merasa tertinggal. Mereka yang belum “menjadi apa-apa” menurut ukuran umum, perlahan menyusut dari lingkaran percakapan.
April 9, 2026 at 12:33 am
Nuryadin
Paragraf paling nyata terjadi… 😊🙏
——
Percakapan pun berubah arah. Dari “apa kabar?” menjadi “sekarang di mana?” lalu bergeser lagi menjadi “sudah sampai mana?” Seolah hidup diukur dengan garis yang harus selalu naik. Dalam diam, beberapa orang mulai merasa tertinggal. Mereka yang belum “menjadi apa-apa” menurut ukuran umum, perlahan menyusut dari lingkaran percakapan.
April 8, 2026 at 11:44 pm
Mimin Rukmini
Pada akhirnya, halal bihalal adalah tentang pulang, pulang ke hati yang bersih, ke relasi yang jujur, dan ke kesadaran bahwa kita semua sama-sama sedang berjalan. Tidak perlu berlari lebih cepat hanya untuk terlihat lebih jauh.
Subhanallah! Terimakasih Bunda! Sekalu menjadi bahan refleksi diri